Quantcast

Classic: Sum 41 – All Killer, No Filler

By - 4 years ago in Time Tunnel

Mari kita bersama-sama menutup mata dan mengingat kembali intro sebuah lagu berjudul “Fat Lip”, samar-samar akan terdengar petikan melody punk dan disusul dentuman drum yang akan membuat bibir ini tersungging penuh sipu oleh nostalgia. Sipu itu akan berganti dengan sebuah gerakan kecil menyanyikan lirik ”Storming through the party like my name was El ninio, When I’m hangin’ out drinking in the back of an El Camino, As a kid, I was a skid and no one knew me by name. I trashed my own house party cause no body came.” Sadarkah kita mantra yang kecil ini telah berumur 13 tahun. Memang benar terdengar sangat lama sekali. tepatnya band yang menamakan diri mereka SUM 41 ini meluncurkan hits ini dalam album profesional pertama mereka “All Killer, No Filler” pada tanggal 08 Mei 2011.

Band asal Kanada ini mulai mengganggu dunia per-punk-rock-an dengan hits mereka “Fat Lip”, lagu ini menjadi simbol kedatangan mereka, lirik yang terdengar nyeleneh dan keras ini menjadi sebuah lambang baru untuk menunjukkan kebebasan yang dijunjung tinggi oleh generasi muda saat itu, akhirnya ada sebuah band punk yang mengusung ide untuk acuh dan berbuat bebas, berpesta dan melalukan pengerusakan atas nama individualitas dan melawan dominasi kemapanan. Setidaknya itu yang penulis rasakan saat itu, beberapa tahun yang lalu, saat semuanya terlihat mudah dan tidak tahu malu.

Tidak bisa dipungkiri sekarang Sum 41 telah menjadi band punk pop mainstream, banyak yang memuja dan menbenci mereka oleh alasan yang sama. Bagaimanapun adalah sebuah kesalahan jika menyamakan mereka dengan band seperi Good Charlotte dan New Found Glory. Dalam debut album profesional ini walaupun permainan merekanya nyaris sama dengan band punk pendahulu seperti Blink 182 dan Greenday namun ada beberapa hal yang menjadi pembeda. Sum 41 memiliki seseorang bernama Dave Baksh (Gitaris, keluar dari Sum 41 pada tahun 2006).

Dave Baksh adalah sosok jenius yang membuat Sum 41 menjadi sangat harmoni dan terdengar melodik dengan instumental metalnya. Semua kritikan bahwa usaha mereka untuk menjadi besar dan bersaing dalam industri musik bersama band punk lainnya menjadi hanya sekedar kritikan saja, memang benar musik dan ide mereka terlihat sama namun dalam sentuhan gitar melodik hardcore sum 41 berhasil memberi sebuah warna hitam cerah namun kontemporer yang tidak biasa.

Setelah kesuksesan hits pertamanya, mereka merilis video keduanya “In Too Deep”. Hits ini mempertegas arah musik mereka untuk kalangan remaja yang berontak dan haus akan aktualisasi diri. “The faster we’re falling, We’re stopping and stalling. We’re running in circles again, Just as things we’re looking up, You said it wasn’t good enough. But still we’re trying one more time.” Untuk mereka yang tumbuh remaja bersama lagu ini akan merasakan hal yang sama, keingingan untuk bisa melawan siapa saja, mencoba yang tidak biasa hanya agar bisa dihargai dan tidak dipandang sebelah mata.

Tidak hanya sampai disitu, ideoligi keacuhan mereka kembali terdengar lantang saat hits ketiganya diluncurkan “Motivation”. Sebuah lagu tentang menjadi malas dan kurangnya keingingan/motivasi untuk bertindak. lihat saja penggalan reff lagu ini “Motivation such an aggravation, Accusations don’t know how to take them. Inspiration’s getting hard to fake it. Concentration’s never hard to break it. Situation never what you want it to be.” Namun jika dilihat lebih lengkap semua keutuhan lagu ini adalah sebuah pernyataan untuk bertanya kenapa semua hal terlihat sangat rumit? Dan dibuat menjadi rumit? Mungkin ini juga keresahan yang mereka rasakan pada waktu itu, sebuah alasan bijak untuk menjadi malas.

Marilah kita beranjak kesaat ini, jika boleh berkata jujur memang Sum 41 tidak membawa revolusi yang besar untuk punk rock, secara kasat lagu mereka terlihat sama dengan band yang lainya namun album All Killer, No Filler adalah sebuah paragraf baru dalam dunia musik. Album ini menjadi penting berkat kelugasan lirik dan talenta musik melodiknya memperlebar kasanah punk rock yang dahulunya hanya banyak berkutak didistori gitar dan ritme drum saja. Dan mereka berhasil membuat kita semua terkejut lewat album debutan ini.

Memang pada debut ini mereka tidak membawa pesan moral yang besar tapi semua lagunya adalah sebuah cermin tentang masa remaja yang penuh gejolak dan keinginan. Hasrat untuk melawan namun acuh terhadap kompleksitas sistem yang mendominasi. Berbalik melawan arus paradigma umum yang secara nyata hampir dibenci oleh semua orang pada saat itu. Penulis sendiri terkadang berpikir bagaimana rasanya menjadi remaja pada zaman ini? Apakah mereka punya anthem untuk personalisasi diri mereka sendiri? Jika tidak dengarkanlah album ini dengan tangan terangkat, melompatlah bersama mereka dan acungkan jarimu.

Personil Sum 41 dalam album ini:
Deryck Whibley – lead guitar, backing vocals, rhythm guitar, keyboards (1996–Sekarang)
Jason McCaslin – bass guitar, vocals (1998– Sekarang)
Steve Jocz – drums, percussion, vocals (1996–2013)
Dave Baksh – lead guitar, vocals (1998–2006)

All Killer, No Filler Tracklist:
1. “Introduction to Destruction” (Jocz) 0:37
2. “Nothing on My Back” 3:01
3. “Never Wake Up” 0:49
4. “Fat Lip” (Whibley/Jocz) 2:58
5. “Rhythms” 2:58
6. “Motivation” 2:49
7. “In Too Deep” 3:27
8. “Summer” (re-recorded version) 2:49
9. “Handle This” 3:37
10. “Crazy Amanda Bunkface” 2:15
11. “All She’s Got” 2:21
12. “Heart Attack” 2:49
13. “Pain for Pleasure” (Jocz) 1:42

(Abdyka / CreativeDisc Contributors)

CD Collector | Music freaks

Comments

Leave a Reply

Related Articles

Concerts Review | August 27, 2017 By

Merayakan Masa Muda Dengan Sum 41 di Singapura

Top 10 Lists | May 16, 2017 By

Top 10 Long Live Pop Punk

New Release Video | October 5, 2016 By

New Release Video: 05 Oct