Quantcast

Behind the Music: Cover Art Look-Alike

By - 2 years ago in Behind The Music

Pernahkan kamu merasa melihat sebuah album dan mengingatkan gambar covernya terhadap album lain? Banyak sebenarnya, tapi yang terpopuler yang paling banyak diingat. Album-album di bawah ini contohnya, satu sama lain memiliki keiripan yang memang membuat kita agak tergelitik untuk membandingkannya. Mau lihat siapa-siapa saja yang punya kemiripan tersebut?

“In Deep” (Tina Arena, 1997) X “Mistaken Identity” (Delta Goodrem, 2004)

Breakout moment di kancah internasional oleh Tina Arena ditandai oleh album “In Deep” ini. Ia menjagokan kekuatan suara dengan kemampuan penulisan lagu sebagai jualan utama album studio keduanya bersama Columbia Records ini. Album pop yang kuat, dengan pengaruh rock, dance, serta soul menjadikan nama Tina sebagai artis kelas global yang diunggulkan. Hit single seperti ‘Burn’, ‘If I Didn’t Love You’, hingga ‘Now I Can Dance’ dan juga ‘I Wanna Know What Love Is’ merangsang pasar untuk berlaku positif terhadap musiknya. Dalam cover art album, Tina berada dalam sebuah kolam air dengan fokus pada wajahnya yang tengah berekspresi galau. Dominan warna jingga memperkukuh ekspresi emosi dalam gambar tersebut. Dan dengan selang waktu 7 tahun, artis Australia lainnya, Delta Goodrem menggunakan konsep gambar yang cukup mirip dengan Tina. Untuk album keduanya, Delta Goodrem mengeksekusi gaya serupa, namun dengan ekspresi emosi yang berbeda. Untuk “Mistaken Identity”, ia menggunakan pose yang lebih seductive dalam aura biru yang mendominasi warna. Zoom terhadap wajahnya lebih jauh dibanding Tina, sehingga terlihat Delta menggunakan baju saat berada di dalam air. Album pop dengan genre adult contemporary, piano pop, dan pop rock ini merupakan salah satu album terbaik yang Delta rilis, yang mengandung hits ‘Out of the Blue’, ‘Mistaken Identity’, dan juga ‘Almost Here’, duetnya dengan Brian McFadden.

“Westlife” (Westlife, 1999) X “On Your Radar” (The Saturdays, 2011)

Debut album boyband asal Irlandia, Westlife dirilis pada tahun 1999, setelah sebelumnya merilis album mini “Swear It Again” yang sekaligus sebagai single perdana mereka. Disokong oleh Simon Cowell, album “Westlife” ini kaya akan lagu-lagu easy listening yang punya nilai memorable tinggi. Ada jaminan kalau penikmat musik pop di era akhir 90-an masih mengingat lagu-lagu seperti ‘If I Let You Go’, ‘Flying Without Wings’, ‘Seasons in the Sun’, dan juga ‘Fool Again’ yang dirilis dari album ini. Potongan wajah close up para personel boyband dengan dominasi warna biru ditampilkan dalam cover art album. Produser Steve Mac yang hadir dalam album ini menjadi faktor kesamaan lain dari album perdana Westlife dengan album studio ketiga girlband The Saturdays, “On Your Radar”. Album dengan hit Top 40 seperti ‘Notorious’, ‘All Fired Up’, dan juga ‘My Heart Takes Over’ ini menampilkan gambar close up kelima personel yang tampak seperti tidak menggunakan atasan. Melalui tayangan televisi “Chasing The Saturdays” di channel E!, hasil gambar ini mereka gunakan sebagai gambar untuk aplikasi visa Amerika Serikat, karena tidak punya waktu lagi untuk mengambil gambar guna keperluan tersebut.

“Schizophonic” (Geri Halliwell, 1999) X “So Real” (Mandy Moore, 1999)

Di penghujung semester 1 tahun 1999, Geri Halliwell yang membuat kegegeran di dunia musik merilis album pop dengan pengaruh dance yang diberi judul “Schizophonic”. Ia membuat keteranaran global dengan debut single ‘Look At Me’ yang sempat digunakan sebagai lagu wajib untuk ajang Asia Bagus. Geri yang keluar dari formasi Spice Girls memantapkan diri sebagai seorang solois dengan ragam musik Latin yang meracuni dalam ‘Mi Chico Latino’, balada ‘Lift Me Up’, dan juga tematik Girl Power ‘Bag It Up’, Dan hanya dalam jarak setengah tahun, datang album dengan fokus wajah yang tengah berpaling dari hadapan di samping, pun dalam dominasi warna putih seperti cover art album Geri ini. Adalah album “So Real” yang menjadi debut dari artis Amerika Mandy Moore. Teen pop, dancepop, dan bubblegum pop adalah warna yang ditawarkan dalam album Mandy ini. Lahir dalam klan Britney Spears, album yang mendebutkan karir sang penyanyi, yang kemudian menjadi aktris ini mengandung hit ‘Candy’, ‘Walk Me Home’, dan ‘So Real’. Isi album utuh kemudian dirilis ulang dalam format baru dengan judul “I Wanna Be With You – Special Edition” setahun setelahnya.

“Debut” (Bjork, 1993) X “Baby One More Time (International Edition)” (Britney Spears, 1999)

Gaya teatris nan eksentrik yang ditampilkan oleh artis asal Islandia Bjork bukan hanya sebatas gaya tampilan, karena sebenarnya musik yang ia tawarkan pun tak kalah unik. Dihasilkan dalam genre alternative dance, trip hop, dan juga house, album “Debut” dari Bjork dirilis di tahun 1993 dan menghasilkan lima buah single; ‘Human Behaviour’, ‘Venus as a Boy’, ‘Play Dead’, ‘Big Time Sensuality’, dan juga ‘Violently Happy’. Kurang lebih enam tahun kemudian, datang sensasi musik pop Britney Spears yang merilis album perdananya dengan judul “Baby One More Time”. Album yang selanjutnya menjadi salah satu album pendatang baru wanita dengan penjualan terbaik ini menampilkan gaya yang serupa dengan album Bjork. Keduanya memanfaatkan gaya tangan yang dikatupkan merapat ke bibir sebagai cover art-nya. Hanya saja, Britney menggunakan foto ini sebagai gambar untuk edisi internasional albumnya. Kalau bicara soal album perdana Britney ini, kisah single-single-nya yang maha sukses jauh lebih menarik untuk dibahas sebenarnya. Selain ‘Baby One More Time’ yang mengakibatkan namanya diunggulkan di ajang Grammy untuk kategori Best New Artist, masih ada ‘Sometime’, ‘(You Drive Me) Crazy’, ‘Born To Make You Happy’, dan juga ‘From the Bottom of My Broken Heart’.

“Time, Love & Tenderness” (Michael Bolton, 1991) X “Measure of a Man” (Clay Aiken, 2003)

Dua idola pop beda era, Michael Bolton dan Clay Aiken pernah memanfaatkan gaya yang serupa untuk album masing-masing. Di tahun 1991, Michael duduk di atas sebuah kursi dengan cara yang tidak tepat, sehingga lengannya bisa dilipat di depan dadanya. Ia menampilkan gaya ini untuk album “Time, Love & Tenderness” yang menampilkan hit ‘When a Man Loves a Woman’. Album yang menawarkan aroma musik adult contemporary dan pop rock ini diproduseri oleh Michael bersama Walter Afanasieff. Di tahun 2003, Clay menggunakan gaya yang serupa, hanya saja tangan kirinya yang berada di atas, berbanding terbalik dengan gaya Michael. Ini ditampilkan sebagai cover art untuk album perdana Clay pasca American Idol, “Measure of a Man”. Hit single ‘Invisible’, ‘The Way’, berikut lagu kemenangannya, ‘This is the Night’ termasuk dalam salah satu album pop terlaris di Amerika ini. Psssttt… Kalau mau iseng, coba bandingkan cover art album Natal Clay yang berjudul “Merry Christmas with Love” dengan debut album Christina Aguilera, “Christina Aguilera” yang sama-sama mempertontonkan gambar close up sembari bersandar di dinding.

“Never Say Never” (Brandy, 1998) X “Seven Sisters” (Meja, 1998)

Selain Geri dan Mandy yang menggunakan gaya yang sama untuk album masing-masing di tahun yang salam pula, ternyata kesamaan lain pernah terjadi setahun sebelumnya. Di tahun 1998, Brandy dan Meja sama-sama memangkas wajah mereka menjadi separuh untuk ditampilkan dalam album “Never Say Never” dan juga “Seven Sisters”. Faktor geografis, yang memisahkan kedua artis; Geri dan Meja dari Eropa, Mandy dan Brandy dari Amerika, menjadi faktor kesamaan kedua perbandingan ini. Namun, jika Geri dan Mandy sama-sama memanfaatkan warna putih untuk album mereka, maka Brandy dan Meja menggunakan warna yang berbeda. Di albumnya yang menampilkan single ‘The Boy is Mine’, ‘Have You Ever?’, dan juga ‘Almost Doesn’t Count’, Brandy menggunakan warna dominan coklat. Sementara dalam albumnya yang mengandung hit ‘All ’bout the Money’ dan ‘Intimacy’, Meja menggunakan warna dominan biru yang ternyata matching dengan warna bola matanya.

“Breathless” (Shayne Ward, 2007) X “Male” (Natalie Imbruglia, 2015)

Shayne Ward dikepung oleh lawan jenis kelaminnya untuk dipergunakan dalam cover art album studio keduanya, “Breathless”. Album super seksi sang pemenang The X Factor ini menampilkan lagu-lagu mulai dari yang evergreen seperti ‘Breathless’ hingga yang uber unik seperti ‘If That’s OK with You’ dan ‘No U Hang Up’. Maksimalisasi terhadap vokal Shayne yang smooth sangat terasa di album ini. Best record of his? Sangat mungkin. Karena ia menapaki puncak karirnya dengan album ini. Nah, setidaknya 8 tahun kemudian, Natalie Imbruglia yang ber-comeback ria ke dunia musik menampilkan album studio “Male”, yang berisikan lagu-lagu cover yang aslinya dinyanyikan oleh vokalis pria. Mulai dari Julian Casablancas (‘Instant Crush’), Damien Rice (‘Cannonball’), Neil Young (‘Only Love Can Break Your Heart’), sampai The Cure (‘Friday I’m in Love’), Nat men-tackle seluruh lagu dan menyadurnya dengan gaya orisinil dan otentik. Cerita kesamaan dari kedua album Shayne dan Natalie ini adalah masing-masing mereka “dirubungi” oleh lawan jenisnya. Shayne jelas tampak nyaman dengan keberadaan wanita di sekitarnya, sementara Natalie tampak mengekspos mata birunya dalam dekapan lengan pria yang seolah memenjarakan dirinya.

“All For You” (Janet Jackson, 2001) X “Number Ones” (Janet Jackson, 2009)

Jika nama-nama di atas membandingkan dua artis yang berbeda, bagaimana kalau selanjutnya kita membandingkan dua album dari artis yang sama. Ia adalah Janet Jackson, yang merilis album “All for You” di tahun 2001 yang gaya dalam cover art-nya mirip dengan album kompilasinya di tahun 2009, “Number Ones”. Kedua album ini menampilkan Janet yang tengah tersenyum dalam aksi gaya rebahan dengan salah satu tangannya menopang kepala. Di “All for You” ia berbalut selimut putih, di “Number Ones” ia dalam balutan baju berwarna hitam. Tiga single dari album “All for You”; ‘Doesn’t Really Matter’, ‘All for You’, dan juga ‘Someone to Call My Lover’ merupakan tiga lagu no.1 Janet yang kemudian menjadi koleksi dalam kompilasi “Number Ones” yang memiliki satu lagu orisinilnya, ‘Make Me’. ‘Make Me’ pun kemudian berhasil duduk di posisi pertama untuk chart Hot Dance Club Songs Billboard, sehingga sempurnalah album ini sesuai dengan judulnya. Sebenarnya, masih ada artis lain yang suka memanfaatkan satu gaya untuk dua albumnya. Adalah Mariah Carey yang memiripkan cover art untuk dua album Natalnya, “Merry Christmas” (1994) dan “Merry Christmas II You” (2010), pun untuk album kompilasinya “#1’s” (1998) dan “#1 to Infinity” (2015).

“Greatest Love of All (Single)” (Whitney Houston, 1986) X “Fearless (International)” (Taylor Swift, 2008)

Salah satu hit terbaik Whitney Houston, yang sekaligus merupakan lagu daur ulang, ‘Greatest Love of All’ menampilkan gaya sang Diva dalam pose menyamping dengan rambut ikal yang mengembang. Dibalut gaun biru muda, Whitney menatap sangar ke arah kamera dengan make-up-nya yang menambah manis wajah cantiknya. Dan dalam edisi internasional album “Fearless”, Taylor Swift memanfaatkan gaya yang sama. Cukup mirip, karena rambut keduanya yang keriting kembang menjadi faktor terpenting kesamaan kedua cover art ini. Lagu-lagu hit Taylor ‘Love Story’, ‘White Horse’, dan juga ‘You Belong with Me’ merupakan kejayaan album Taylor yang memenangkan album terbaik Grammy di tahun 2010.

“My Life Would Suck Without You (Single)” (Kelly Clarkson, 2009) X “Sucker” (Charli XCX, 2014)

The same suck, the same cover art. Kelly Clarkson dengan lagu no.1-nya ‘My Life Would Suck Without You’ memiliki kisah leap tertinggi ke puncak dalam chart Billboard Hot 100. Dalam cover art-nya, Kelly memegang permen berbentuk love di tangan kiri yang memelintas ke sebelah kanannya. Herannya, Charli XCX pun mendaur ulang gaya serupa dengan permen berbentuk love juga untuk breakout albumnya “Sucker”. Album ini menampilkan single-single andalan mulai dari ‘Boom Clap’ yang dipakai untuk soundtrack film “The Fault in Our Stars”, ‘Break the Rules’, dan juga ‘Doing It’ dimana ia berduet dengan Rita Ora. Baik Kelly maupun Charli, mereka mungkin memiliki persepsi yang sama mengenai “suck” dan permen berbentuk love.

Ai Hasibuan
CreativeDisc Contributor
@hasibuanai11

Love Film. Love Books. And Everything in Between.

Comments

Leave a Reply

Related Articles

Music News | August 15, 2017 By

Kesha Beri Dukungan Kepada Taylor Swift Untuk Kasus Hukumnya

Music News | August 14, 2017 By

Taylor Swift Memenangkan Kasus Melawan Tuntutan DJ Radio Atas Tuduhan Pencemaran Nama Baik

Music News | August 11, 2017 By

Taylor Swift Beri Kesaksikan Di Pengadilan Untuk Kasus Pelecehan Seksual Yang Dialaminya