Quantcast

Merutuk Kembalinya Adele

By - 2 years ago in Random

*Mulai hari ini, saya akan mengelola kolom “Random” di situs ini. Tulisan akan sangat subjektif dan terbawa perasaan. Hail yeah, baperians!

23 Oktober 2015 yang lalu akhirnya suara peluluh-lantak barisan patah-hati, Adele Laurie Blue Adkins kembali menyapa. Menyapa dalam konteks sebenarnya dengan single “Hello”. Dunia ikut menjerit. Mengayun lembut di awal, dan menghujam dengan laknat di bagian puncak. Lagu ini melejit di puncak tangga lagu. Mengumpulkan penonton terbanyak dalam waktu 24-jam-saja di situs unggah video kenamaan.

Memang begitulah seharusnya. Karna ia Adele. Kesuksesan pada album sebelumnya, berujung pada operasi pita suara hingga kebuntuannya dalam menulis materi baru. Lebih kurang empat tahun kita menunggu. Ia pun disebut beberapa pihak dalam kondisi insecure untuk menyelesaikan “25”. Berbagai kolaborator ikut merapat, ada yang sukses masuk dalam album, tak sedikit pula yang harus merungut karna tak cukup kuat menurut Adele.

Ketika “Hello” mulai mengudara, saya pribadi hanya mendengarkan sekilas dan bersyukur bahwa Adele kembali. Dari sensasi sekejap mendengarkan “Hello”, Adele masih akan menjadi sumber energi mereka yang telah patah hatinya. Saya pun mencoba menyimak lirik. Kejam sekali rasanya. Alih-alih terhanyut dalam lirik, saya malah teralihkan dengan penggunaan flip-phone pada video klip “Hello”. Bahwa telepon-lipat yang memiliki kemampuan untuk diselipkan diantara telinga dan helm, sehingga memudahkan pengendara roda-dua untuk sibuk menelpon ria di jalan raya meski berbahaya dipilih oleh Adele, bukan telepon-pintar lainnya. Menurut saya saat menyaksikan video klip “Hello”, telepon-lipat mencapai puncak karirnya sebagai inovasi pengendara menyebalkan.


~~

Hingga akhirnya kemarin. Telepon genggam saya berdering. Dari sebuah nomer yang tak ada di kontak. Tapi terlihat begitu familiar. Seketika tubuh ini kaku, menyadari bahwa lembar-lembar kenangan mengalir deras bersamaan dengan degup jantung yang kian cepat.

MANTAN. Demikian kita melabelinya. Ada apa? Setelah satu tahun berpisah, kenapa sekarang? Saya pun menghentikan segala pertanyaan yang ada dengan menjawab telepon tersebut. Kami bertegur sapa. Saling menanyakan kabar. Fakta-fakta bahwa saya telah luluh-lantak dalam fase-fase kritis tahun lalu sedikit saya lupakan. Nostalgia selalu membuat terlena. Tak terasa 2 jam kami berbicara. Saya khilaf.

Saya masih berusaha melakukan kalkulasi atas apa yang sedang terjadi. Lalu “Hello” tak sengaja diputar seorang kawan. “Hello from the other side….”. Wanjeengg. Kutu-kupret Adele!! Album penuh “25” akhirnya mendarat di pemutar lagu, semalam suntuk suara Adele menjerit-jerit melalui pengeras suara. Saya berusaha paham.

Jika memang salah satu strategi bisnis di Amerika sono untuk merilis album menjelang thanksgiving dan natal. Saya rasa mereka harus pula mengingat kita yang berada di daerah tropis ini. Setelah dirundung kabut asap, secara merata Indonesia diguyur hujan. Musim kemarau usai, musim hujan datang. Atas alasan bisnis bisa saja Adele berkilah dalam pemilihan waktu rilis album. Tapi pada sudut pandang kemanusiaan, apakah bisa dibenarkan bagi kita yang tengah akrab dengan mendung? Coba saja di malam hari yang dingin karna hujan yang tak kunjung reda, anda dengarkan album “25”, sebagai tambahan anda baru saja ditelpon MANTAN. Gimana? Enak? Mulai sesak?

Analisis saya berujung pada kesimpulan, “Hello” yang diusung Adele sebagai single pertama, menjadi alasan utama MANTAN menghubungi kembali. “Hello” memberikan keberanian. Karna waktu seharusnya telah menyembuhkan luka. They say that time’s supposed to heal, ya. Tapi bagaimana jika luka ini baru saja kering, hendak disiram cairan pembersih luka lagi? Sekalian asam aja biar mampus.

Sungguh, ketika Adele menyapa lembut dibagian pembuka “Hello”, saya bergidik. Ketakutan. “Hello” kembali membuat saya menjadi penganut paham baperians. Baper seharian. Saya tak berusaha menyalahkan Adele atas keberhasilannya. Tapi pak.. Tapi bu…hufft

Bersyukur Adele hadir dalam balutan album “25” yang komplit. Saya setuju dengan ulasan komprehensif milik Haris. Adele bertanggung jawab atas bangkitnya sel-sel baper disetiap sudut sanubari. Dan tak menunggu lama, sensasi baper selama empat menit lima puluh enam detik ini ditebus Adele dengan “Send My Love (To Your New Lover)”.

Nostalgia hanya akan membawa kembali luka lama. Nostalgia diceritakan lebih dalam oleh Adele pada “When We Were Young”. Jika akhirnya telepon kemarin adalah bentuk dorongan dari lirihan “Hello” milik Adele, izinkan ku membalas dengan “Send My Love (To Your New Lover)”. Sampaikan salamku untuk pacarmu sekarang. Pacar barumu nan berjarak sebulan setelah kita berpisah, tahun lalu. TAHUN LALU.

Noverdy Putra
CreativeDisc Contributor
@verd_

Baperians, meta-fetcher, pelahap segala, kecuali mantan.

Comments

2 Responses to “Merutuk Kembalinya Adele”

  1. Wanjeeeer!!! Tulisannya keren :””
    Saya pembaca lama kolom review di creativedisc, tp setelah cukup lama ngga main kesini dan baca kolom Baper2an ini saya sepertinya bakal sering main kesini nih… Keren, Mz… Sedih tapi 🙁

  2. Tazty says:

    Hidup baperians!!!

Leave a Reply

Related Articles

Concerts Review | August 27, 2017 By

Merayakan Masa Muda Dengan Sum 41 di Singapura

Random | July 27, 2017 By

Memaknai Kesepian dengan “Adore You” dan “Make Me (Cry)” Duo Cyrus

Music News | July 21, 2017 By

Sedang Tidak Depresi, Adele Kesulitan Menulis Lagu Untuk Album Barunya