Quantcast
Creative Disc Interview With Shane Filan: “Bernyanyi itu seperti bernapas bagiku.” – Creative Disc

Creative Disc Interview With Shane Filan: “Bernyanyi itu seperti bernapas bagiku.”

Pada Kamis, 29 September yang lalu, penyanyi asal Irlandia yang merupakan salah satu personel Westlife, Shane Filan, kembali berkesempatan untuk menyambangi penggemarnya di Indonesia. Ia tampil di sebuah show yang berjudul “tage Empire Intimate Night with Shane Filan” dan digelar di Colosseum Jakarta. Pada keesokan harinya, atau tepatnya Jumat, 30 September, Shane menyebrang ke pulau Sumatera, atau tepatnya di Kota Medan, dan memuaskan para penggemarnya di kota tersebut.

CreativeDisc mendapatkan kesempatan dari Warner Music Indonesia, untuk interview bersama Shane Filan di kantor mereka. Di sesi interview bersama media ini, terjalinlah sebuah tanya jawab intim yang dapat disimak berikut:

Hai Shane, selamat datang di Jakarta. Bisa ceritakan kegiatanmu selama berada di Indonesia?
Aku memiliki jadwal dua konser di Indonesia, satu di Jakarta dan satu lagi di Medan. Aku selalu merasa diterima dengan baik di sini. Saat aku pergi berbelanja di mal, selalu saja ada orang lokal yang terpana, kemudian mengenaliku dan bertanya “ Shane?” kemudian mengajakku berswafoto dengan mereka. Buatku rasanya begitu mengagumkan, karena dikenali di lokasi yang berjarak ribuan kilometer dari tempatku tinggal, oleh orang-orang Indonesia.

Adakah alasan khusus mengapa dirimu memilih untuk menjadi penyanyi solo daripada bersama dengan grup band?
Aku sendiri tidak bermain alat musik. Aku bisa sedikit memainkan gitar, tapi bukan untuk konsumsi rekaman. Lagipula setelah sekian lama berada dalam satu band, aku ingin lanjut ke fase berikutnya. Aku tidak ingin melakukan itu lagi. Aku hanya ingin bernyanyi solo.

Bisakah kau jelaskan perbedaan musik Shane Westlife dengan Shane Filan?
Sejujurnya diriku masih tetap pribadi yang sama. Aku juga menyanyikan musik pop dan balada. Tapi aku sudah berada di fase yang berbeda. Aku sudah bukan di Westlife lagi. Tentu terasa perbedaannya. Karena aku bisa menyanyikan warna lagu yang berbeda dengan Westlife. Lagu yang aku pilih sendiri, lagu-lagu yang aku tentukan sendiri. Bukan lagu yang orang lain pilihkan untukku, atau dipilihkan untuk orang lain. Aku memang masih mendalami arah musikku. Karena aku sendiri yang memutuskan bagaimana musikku ini jadinya. Aku tidak bisa menyalahkan siapapun jika keputusanku salah, seperti misalnya saat bersama Westlife, bisa saja kesalahan itu ditimpakan ke anggota Westlife lainnya.

Dulu saat bersama Westlife, album fisik kalian laku keras. Apa pendapatmu tentang penjualan musik secara digital sekarang ini?
Ya aku ingat, saat album pertama dan kedua Westlife keluar, kami mendapatkan 20 dan 22 platinum. Album kami laku satu juta dan satu koma satu juta keping. Tapi pada album-album berikutnya nama kami tetap besar meski penjualan album menurun. Di saat bersamaan muncul teknologi digital. Dan pasar memang berubah, masyarakat berubah. Orang saat ini bisa menikmati musik melalui ponsel mereka. Tapi juga masih ada pangsa pasar untuk album fisik. Aku juga masih memproduksi album fisik, meski tidak banyak. Karena masih ada orang-orang yang lebih suka membeli album fisik, membuka sampulnya, membaca bukletnya. Masih ada orang-orang yang memburu album fisik sebagai benda koleksi. Menurutku selama orang masih mencintai dan mendengarkan musik, apapun medianya, kita harus beradaptasi untuk mengikutinya.

shane-filan

Shane, bisa ceritakan keterlibatanmu dalam kegiatan Irish Society for the Prevention of Cruelty to Children (ISPCC)?
Oh ya, itu adala kegiatan kampanye pencegahan kekerasan terhadap anak-anak yang sudah berjalan cukup lama di Irlandia. Salah seorang teman dekatku yang mengajakku terlibat dalam kegiatan kampanye ini. Masalah kekerasan dan perundungan di kalangan anak-anak ini semakin mengkuatirkan dan semakin serius. Apalagi dengan perkembangan dunia digital, media sosial, seperti twitter. Sekelompok anak-anak membahas keburukan teman sekolah mereka melalui media sosial tanpa sepengetahuan si korban. Dan tetiba si korban harus menghadapi berbagai perundungan di sekolah karena hal itu. Kami juga mengadakan konser amal untuk menghimpun dana untuk membiayai kampanye ini. Untuk hal seperti ini aku sangat antusias untuk dilibatkan. Aku sangat mendukung kegiatan apapun yang dapat meningkatkan kesadaran orang banyak untuk menghentikan perundungan.

Bisa ceritakan bagaimana Michael Jackson menginspirasimu?
Aku tumbuh mendengarkan musik Michael Jackson. Aku masih berumur sekitar enam tahun saat mendengarkan Billy Jean, Bad dirilis. Aku hanya salah seorang di dunia ini yang terpapar pengaruh Michael Jackson. Pengaruh Michael Jackson begitu besar. Aku berusaha meniru gayanya bernyanyi, gaya berpakaiannya. Ibuku bahkan membuatkan sarung tangan berpayet seperti milik MJ. Aku bahkan berusaha melakukan gerakan moonwalk. Beberapa waktu lalu aku mulai mengenalkan musik MJ kepada anak-anakku. Dan sejak saat itu mereka jatuh cinta dengan musik MJ. Setiap kali mereka meminta untuk dimainkan lagu Michael. Samapai-sampai istriku tak sanggup lagi mendengarkan lagu Michael berulang-ulang. Hahaha… Sekarang aku mengerti bagaimana musik Michael mempengaruhiku begitu besar, dengan melihat kenyataan yang sama terjadi pada anak-anakku. Aku sendiri belum pernah bertemu Michael secara pribadi. Meski sempat jadwal konser Westlife berbarengan dengan jadwal konsernya saat kami di Jerman. Tapi kemudian dia membatalkannya. Saat Michael hendak melakukan konser di O2, kami sempat membahas untuk bertemu dengannya. Tapi ternyata situasi yang terjadi kemudian sangat berbeda. Entahlah, ada orang berkata sebaiknya kau tidak usah menemui idolamu, karena mungkin kau akan kecewa.

Apakah kau pernah mengalami demam bintang atau starstrucked saat bertemu dengan idolamu?
Oh ya, aku ingat saat pertama kali bertemu Mariah Carey. Waktu itu kami di Westlife masih berusia 19-an. Dan Mariah sedang berada di puncak karirnya. Kami sedang duduk di meja makan, dan tetiba Mariah datang dan melambaikan tangan serta menyapa kami. Kami hanya bisa ternganga dan tidak tahu harus berkata apa. Tapi Mariah saat itu sangat baik, dia cepat mencairkan suasana. Aku, bersama Westlife waktu itu juga pernah bertemu dengan Paus Yohanes sekitar tahun 2001, di Vatikan. Kami duduk di dalam kapel Sistine, dan Paus kemudian datang berjalan di depan kami. Keringat dingin mengucur di tubuh kami saking gugupnya. Sebagai seorang yang dibesarkan secara Katolik tentu saja peristwa itu sangat berarti bagiku. Apalagi saat itu aku membawa ayah dan ibuku. Membawa ibuku hingga dapat bersalaman dengan Paus adalah hadiah terbesar yang dapat kuberikan kepada ibuku. Aku juga pernah bertemu Ratu Elizabeth dua kali. Saat itu para pendukung acara berbaris menantikan Ratu menyalami kami. Dan Ratu tidak selalu berhenti untuk mengobrol saat bersalaman. Tapi beliau selalu berhenti untuk berbincang denganku di setiap pertemuan kami. Dan karena bising suara musik aku tak dapat mendengar apa yang dikatakannya. Aku tidak mungkin di depan sorotan kamera menyodorkan telingaku ke arahnya dan berkata, “maaf aku tidak dapat mendengar apa yang kau bicarakan”. Aku juga bingung harus menjawab apa karena aku tidak mengerti apa yang dikatakan beliau. Situasinya sungguh menggelikan jika diingat, karena peristiwa itu diliput dan ditayangkan langsung. Ratu harus dua kali bertanya, “Apa kau sedang melakukan tur?” Barulah aku bisa menjawab. Seingatku dua kali aku bertemu dengan Ratu, dan dia selalu menghampiri dan berbincang denganku. Aku rasa aku bisa mengklaim diriku lumayan terkenal hingga Ratu Elizabeth mau berbincang denganku. Aku juga pernah bertemu dengan presiden Barack Obama dua kali. Rasanya seperti di film-film. Secret Service lalulalang dimana-mana dengan alat komunikasi mereka. Ya, aku rasa aku cukup banyak bertemu dengan orang-orang terkenal selama ini.

Shane, mana yang lebih kausukai, bernyanyi atau menulis lagu?
Bernyanyi! Bernyanyi itu seperti bernapas bagiku. Aku cinta bernyanyi. Bernyanyi selalu membuatku bahagia. Tidak pernah sedih. Selalu dapat membuatku tersenyum. Saat bernyanyi dalam pertunjukan, dimana aku harap pertunjukan itu dapat berjalan dengan baik, yang biasanya aku tahu saat 10 detik pertama, selalu membuatku bahagia. Saat pertunjukan berakhir justru aku merasa sedih. Aku suka menulis lagu tapi aku masih dalam tahap belajar menulis lagu. Aku merasakan kemampuanku menulis lagu semakin baik. Alu berharap satu waktu aku dapat menulis sebuah lagu yang luar biasa. Tapi yang aku rasa paling penting adalah suaraku. Suaraku adalah hal yang paling aku anggap berharga.

Saat menulis lagu, apakah yang terlintas lebih dulu dalam pikiranmu, apakah melodi atau lirik?
Melodi! Melodi selalu lebih utama. Aku tidak pernah datang dengan konsep sebuah kisah untuk sebuah lagu. Aku merasa itu agak aneh buatku. Aku selalu berusaha menemukan nada-nadanya terlebih dulu dengan alat musik seperti piano. Kemudian baru menentukan apakah melodi tersebut akan menjadi sebuah lagu yang riang atau lagu sedih. Tanpa melodi yang baik sebuah lagu akan menjadi lagu yang buruk. Kau bisa saja menulis puisi terbaik di dunia, tapi tanpa melodi orang tak akan mengingatnya. Saat kau mendengarkan radio, kau mendengarkan suara, mendengarkan lagu, mendengarkan dan mengenali melodinya lebih dulu. Dan kau akan berkata “ah aku suka lagu ini”. Tidak peduli siapapu yang menyanyikannya, bisa saja lagu itu dinyanyikan oleh orang yang tidak terkenal, tapi kau menyukai lagu karena melodinya. Kau menyukai lagu karena melodinya lebih dulu, baru kemudian mendalami liriknya. Lirik juga penting, tapi tanpa melodi, lirik itu bukan apa-apa. Semakin kau dengar melodinya semaki kau mengenali liriknya. Melodi yang mencuri perhatianmu. Ada satu lagu yang sangat kusukai, aku benar-benar mencurahkan isi hatiku saat menulis All I Need To Know untuk album pertamaku. Liriknya benar-benar emosional buatku. Itu lagu tribut untuk istriku Gillian sebagai ungkapan rasa terima kasih karena selalu mendukungku.

Shane, bisakah kau sebutkan lima hal yang menarik tentangmu yang tidak banyak orang tahu?
Wah, itu rahasia!
Aku suka berkebun, aku suka memotong rumput. Aku juga suka bermain bilyard. Dan dari semua masakan Asia, aku cinta nasi goreng Indonesia, ini kukatakan bukan karena aku sedang berada di Indonesia. Dimanapun aku berada, di Singapura, Manila atau Hong Kong, tiap kali ada nasi goreng ala Indonesia aku selalu memilih itu. Aku suka berjalan-jalan di pantai dengan anjingku. Dua kali aku bertemu Mark saat berjalan-jalan di pantai. Hmm apa lagi ya? Oh ya, aku baru saja memiliki anjing baru. Seekor Labrador hitam. Namanya Harry. Sebelumnya aku juga memiliki Labrador bernama Holly selama 12 tahun. Anak-anakku tumbuh bersama Holly. Jadi kami sekeluarga sangat sedih saat Holly mati. Kemudian aku memutuskan untuk mengadopsi Harry untuk keluarga kami. Ini cerita ekslusif lho!

Oke, terima kasih banyak Shane untuk meluangkan waktu bersama Creative Disc.

Teks:
Timmy Malachi
Special Thanks to Warner Music Indonesia

About The Author

Reply