Neon Lights Festival Day-2, Larut Berlumpur Dan Sigur Ros Sebagai Penutup Sempurna

Setelah hari pertama kami dikejutkan dengan banyak hal, mulai dari derasnya hujan, lahan venue yang berlumpur dan penampilan menakjubkan dari line up yang tidak terlupakan, kami masih harus menyimpan energi untuk hari kedua ini. Mendung masih menyelimuti kawasan Fort Canning sejak siang hingga akhir acara. Festival yang berhasil menggaet sekitar 15.000 lebih pengunjung tahun ini, bisa dibilang sebuah kesuksesan tersendiri. Belum lagi line up hari kedua yang masih dirancang dengan beragam genre dan hiburan untuk siapapun yang datang.

neon-lights

Sejak gate dibuka sekitar pukul 13.00 waktu setempat, duo elektronik indie asal Singapura, .GIF mulai menghangatkan venue Neon Lights. Disusul dengan penampilan manis dari penyanyi wanita yang baru saja merampungkan tour Eropa dan Australia, Lin Ying yang merasa bahagia bisa tampil di kampung halamannya Singapura.

Sedikit menuju senja, kami dihibur dengan suguhan musisi legendaries  P-funk, George Clinton & Parliament/ Funkedelic. Dengan pembawaan khas musisi funk jazz dan back vocal yang sangat enerjik membawa sore kami begitu berwarna.

neon-lights-2

Melaju ke setlist berikutnya, Blood Orange yang juga menjadi satu line up yang sangat ditunggu oleh penonton Neon Lights Festival. Pria berusia 30  tahun yang cukup multitalen ini membuat penasaran audiens tentang aksi panggung live nya. Dengan vokal yang khas dan aransemen musik yang menenangkan, Dev Hynes aka Blood Orange membawakan beberapa karyanya seperti Augustine, Better Than Me, E.V.P , hingga It Is What It Is.

Apa yang ditunggu selanjutnya? Ah tentu saja, the most awaited female act on the show! Yuna. Banyak dari penonton yang bersedia berlama-lama telanjang kaki dalam lumpur sisa hari kemarin demi menanti Yuna tampil dalam Neon Lights. Ini dia penampilan kembali Yuna setelah beberapa tahun lalu sukses memberikan persembahan show tunggal di Singapura. Dalam rangkaian tur Asia, Yuna dengan hangat  menyapa kami dengan ceria. Membuka setlist dengan lagunya Places To Go dari album Chapters, dilanjut dengan beberapa hits seperti Lullabies, Mountains, Lights and Camera, hingga karya duet nya bersama Usher dalam Crush. Menyelipkan satu lagu berbahasa melayu yang membawa Yuna sangat dikenal di negara ini, Terukir di Bintang membuat semuanya bernyanyi bersama dan beberapa lagu terakhir dari album terbarunya seperti Mannequin,  Used to Love You, dan menutup aksinya dengan manis seperti pada lagu Live Your Live. Yuna benar-benar menjadi diva yang ditunggu oleh kami semua.

yuna

Lepas diberikan kebahagiaan oleh Yuna, kami mulai menyiapkan mood dan hati menyambut penutup festival yang satu ini untuk Sigur Ros. Band beraliran experimental post rock asal Islandia, yang di gawangi oleh Jónsi, Orri Páll Dýrason, Georg Hólm terlihat sangat dirindukan oleh audiens Neon Lights yang tak hanya berasal dari Singapura saja namun dari penonton dari berbagai negara tetangga seperti Malaysia, Thailand, dan tentu saja Indonesia yang hadir saat itu. Membuka dengan beberapa karya yang membuat kami larut dengan permainan visual membelakangi mereka, sembari Óveður, Starálfur, Sæglópur, Glósóli dan Vaka dibawakan dengan khidmat. Penonton yang tersihir suara falsetto Jónsi, yang bahkan saya sendiri tidak pernah paham apa yang dilantunkan karena saking misteriusnya makna dibalik lagu-lagu Sigur Ros dan bahasa yang sangat asing ditelinga kami. Yang jelas kami sangat dibuat merinding oleh musik Sigur Ros malam itu dan menutup dua hari festival yang semarak ini dengan Kveikur, Fljótavík, Popplagið. Sungguh akhir pekan yang tak terlupakan. Neon Lights Festival 2016, layak masuk sebagai festival wishlist tahunan di Asia.

Tremendous thank’s to Neon Lights Festival Singapore for making it happened.

Teks: Lauretha Sudjono
Foto: Ardy

About The Author

Reply