Quantcast

Exclusive Interview with Set It Off: Tidak Ada Jalan Pintas Kesuksesan

By - 10 months ago in Artist Interviews

Band asal Florida, Set It Off, baru saja merilis album terbaru mereka, ‘Upside Down’, awal Oktober lalu. Band yang digawangi Cody Carson (vokal), Zach DeWall (gitar), Dan Clermont (gitar) dan Maxx Danziger (drum) ini selalu punya konsep unik di setiap album mereka, Contohnya ‘Upside Down’ yang menunjukkan bahwa selalu ada hal baik dari keburukan, dan sebaliknya. Kali ini, Creative Disc berkesempatan interview dengan sang vokalis, Cody Carson. Simak interview kami berikut ini!


CD: Hai Set It Off! Kami Creative Disc dan kami pikir band kalian unik. Pop-rock/pop-punk band, tapi musik kalian terkadang mengingatkan juga pada boyband seperti NSYNC.

Cody: Halo! Itu mungkin pujian favoritku yang pernah kami terima! Kami berusaha bersenang-senang saat menulis dan pasti menggunakan pengaruh dari seluruh genre yang kami dengarkan sejak kecil.

CD: Konsep setiap albummu selalu berbeda. Seperti konsep ‘Cinematics’ berbeda dengan ‘Duality’ dan ‘Upside Down’. Apa memang sengaja begitu sejak awal, untuk membuat konsep yang berbeda di setiap albumnya? Bagaimana kalian memutuskan konsep itu?

Cody: Itu hanya hasil dari evolusi terus-menerus kami dalam menemukan jati diri sebagai sebuah band. Sebelum ‘Cinematics’, kami merilis dua EP, ‘Calm Before the Storm’ (pop) dan ‘Horrible Kids’ (Dark theatrical pop punk), lalu ‘Cinematics’, lalu sisanya. Musik kami jadi lebih gelap karena kami merasa harus tetap relevan. Tapi akhirnya kami sadar, itu bukan diri kami, lalu memutuskan untuk menulis apa yang terpenting bagi kami, lagu-lagu yang bagus. Lagu yang kami sukai tanpa batasan akan seperti apa. Duality adalah langkah pertama, lalu dengan ‘Upside Down’, kami benar-benar menemukan jati diri kami.

CD: Video musik kalian, ‘Uncontainable’ dan ‘Something New’, sangat menarik. Itu tentang mencoba hal baru. Di ‘Something New’, kalian menghadapi ketakutan masing-masing. Bagaimana kalian melakukannya, karena menghadapi ketakutan itu tidak mudah.

Cody: Kurasa Set It Off sudah terbiasa menghadapi ketakutan. Kami sudah berhadapan langsung dengan kesulitan ekstrim sepanjang karir kami. Tidak ada yang membantu kami dan perjuangan itu memberikan pelajaran. Jadi saat menghadapi ular atau ketinggian, kami gugup, ya, tapi kami siap. Penting untuk merasa tidak nyaman. Hanya itu cara kita bisa benar-benar tumbuh, buat dirimu tidak nyaman dan belajar darinya.

CD: Kita sudah mendekati akhir 2016 dan banyak hal buruk yang terjadi tahun ini. Bisa kamu sebutkan lima hal baik yang terjadi di 2016?

Cody: Jawabanku mungkin agak egois, tapi saat dunia di sekelilingmu ada di luar kendalimu, maka yang bisa kamu lakukan adalah fokus pada hal positif dalam hidupmu, yang bisa kamu kendalikan.

  1. Kami merilis karya favorit kami, ‘Upside Down’ dan berjumlah penjualan minggu pertama terbaik yang kami punya.
  2. Kami baru saja mendapat tim manajemen baru, Flysouth Management dan mereka sangat baik pada kami.
  3. Aku baru saja pindah ke rumah baru di Los Angeles, California, dengan teman-teman bandku dan kami menikmati apapun yang ditawarkan hidup.
  4. Karenanya, itu memungkinkanku mengejar cita-cita aktingku sedikit lebih aktif dan aku senang memiliki kesempatan melakukan hal itu.
  5. Aku masih hidup, aku punya karir, ada orang yang mengerti apa yang kulakukan, dan itu cukup untuk membuatku bahagia di dunia ini.

CD: Setiap albumnya, musik kalian selalu berubah. Musik ‘Horrible Kids’ and Cinematics’ lebih berat daripada Duality, dan Duality sedikit lebih berat daripada Upside Down. Kami suka semuanya. Apa kalian akan terus bereksperimen dalam musik?

Cody: Tentang hal baru? Kami akan selalu mencoba hal baru. Di setiap album, kami mengambil risiko dan jika risiko itu ternyata sukses, kami akan gunakan itu lagi. Di ‘Upside Down’, aku sedikit melakukan rap di ‘Hypnotized’, itu percobaan pertamaku dan lagu itu jadi salah satu favorit penggemar, jadi mungkin aku akan coba rap lagi di album selanjutnya. Aku tidak sabar akan bagaimana jadinya sesi penulisan album nanti.

CD: Kalian sudah menutup tur 2016 kalian di Jepang. Apa kenangan terbaik dalam tur tahun ini?

Cody: Selalu sulit untuk diingat, tapi kupikir yang paling kukenang adalah tiket kami terjual habis di Irving Plaza, NYC, lebih dari 1.000 orang dan mendengar setiap penonton meneriakkan lirik lagu kami. Itu perasaan yang luar biasa karena kami mulai dari bukan apa-apa di New York, dan konser itu menginspirasi. Itu memberitahu kami untuk terus berusaha, untuk terus membuat kemajuan. Itu sungguh perasaan yang sangat membahagiakan.

CD: Salah satu hal paling luar biasa tentang Set It Off adalah lirik kalian yang bisa mengubah hidup orang, khususnya yang berjuang dalam hidup dan/atau penyakit mental. Aku salah satu orang itu.

Cody: Aku senang sekali mendengar kami bisa membantumu dan orang lainnya di masa sulit mereka. Inspirasiku untuk gaya lirik datang dari band-band yang aku dengarkan sejak awal, terutama New Found Glory. Aku menyebutnya puitis secara langsung. Aku tidak akan samar dan membuat kali mengira-ngira tentang apa laguku, tapi aku ingin kamu memegang kata-kata itu agar itu bisa membantumu melewati masa sulitmu. Musik adalah terapiku dan aku itu juga terasa untuk semua orang yang mendengarkan Set It Off, entah lagunya bahagia, sedih, marah, atau hanya menyenangkan.

CD: Cody, kisahmu dimulai dari seorang anak biasa yang meminta Alex Gaskarth untuk menyanyikan Coffeeshop Soundtrack bersama di panggung tahun 2008 lalu, dan itu terwujud, diikuti oleh segala hal yang terjadi padamu sekarang, itu menginspirasi. Menunjukkan bahwa bahkan mimpi terliarmu mungkin terwujud.

Cody: Terima kasih banyak. Ini sungguh perjalanan yang luar biasa dan kami baru saja mulai. Kupikir itu menunjukkan bahwa tidak peduli siapa dirimu, tidak peduli dari mana asalmu, kita akan selalu punya kesempatan, dan itu tergantung pada kita, apakah kamu berusaha meraihnya dan bekerja keras untuk memanfaatkannya atau dengan malas membiarkannya lewat begitu saja. Jika kamu punya keinginan, perjuangkanlah, karena setiap keinginan memiliki takdirnya.

CD: Kalian juga salah satu band yang suka menyapa fans di venue setelah konser. Ada juga foto di instagram Patty Walters, kalian bermain kartu dengan fans di antrian sebelum konser kalian. Apa kalian akan tetap melakukan itu? Seberapa penting fans bagi kalian?

Cody: Haha! Tentu! Penting bagi kami agar fans menyadari bahwa kami hanya orang biasa, tidak peduli tingkat kesuksesan apapun yang kami raih, kami hanya anak-anak seperti yang lainnya dan kami harap itu menjadi contoh dalam memperlakukan orang, tak peduli apa yang sudah kamu raih. Beberapa orang tampaknya menggunakan kesuksesan sebagai platform untuk menginjak yang lainnya. Kami ingin sebaliknya. Aku akan senang meraih tingkat kesuksesan melampaui ekspektasi terbesar kami dan tetap jadi orang yang kocak dan konyol seperti biasanya.

CD: Jika ada satu hal yang bisa kamu katakan pada dirimu di masa lalu dan masa depan, apa itu?

Cody: Diriku di masa lalu harus belajar banyak hal, begitu juga diriku di masa depan. Aku sudah mengalami kemajuan secara mental dan musik dibandingkan diriku di pertengahan 2000-an, tapi masih banyak yang harus kuperbaiki saat ini, dan itu sangat menyenangkan bagiku.

CD: Ayo segera tampil di Indonesia karena kami tidak sabar bernyanyi bersama dan membuat Simbol Berlian Duality! Apa pesanmu untuk fansmu di Indonesia?

Cody: Kami tidak sabar tampil untuk kalian semua di Indonesia! Kami mendengar banyak hal luar biasa tentang bagaimana menyenangkannya kalian di konser! Pesanku untuk kalian adalah, sabarlah, kami akan segera ke sana, perjuangkan apa yang kalian percaya dan jangan lupa bahwa tidak ada jalan pintas untuk kesuksesan.

Yah, semoga Set It Off segera mengadakan konser di Indonesia ya!

Dengarkan ‘Upside Down’ di:

iTunes: http://radi.al/UpsideDowniTunes

Spotify: http://radi.al/UpsideDownSpotify

Teks:
Sheyla Ashari

From Post-Hardcore to K-pop. Pizza is so pop-punk. Pop-punk is life. Therefore, pizza is life.

Comments

Leave a Reply

Related Articles

Concerts Review | October 16, 2017 By

Konser Taeyang di Jakarta: “Saat Terbahagiaku Adalah Saat Bersama BIGBANG”

Concerts Review | September 18, 2017 By

In Our Bones Tour Jakarta, Lebih Dekat dengan Against the Current

Artist Interviews | September 11, 2017 By

CreativeDisc Interview With FYKE: Rilis EP Nightmares Yang Emosional