Quantcast

January Artist of the Month: The Weeknd

By - 8 months ago in Artist of The Month

Di tahun 2013 lalu, saat ia merilis album debutnya, “Kiss Land”, The Weeknd sontak mencuri perhatian dari banyak penikmat musik. Diproduseri oleh dirinya sendiri bersama dengan Brandon “Bizzy” Hollemon, Danny Boy Styles, Harry Fraud, Jason “DaHeala” Quenneville dan Silkky Johnson, album memperkenalkan pada publik cita rasa R&B ala The Weeknd yang edgy dan dark.

Selepasnya ia sempat membantu Ariana Grande di single sukses ‘Love Me Harder’ dan Sia dalam lagu ‘Elastic Heart’. Tidak hanya itu, ia menyumbangkan sebuah lagu untuk soundtrack film “Fifty Shades of Grey”, ‘Earned It’, yang menganugerahi dirinya sebuah nominasi di ajang film prestesius, Academy Awards.

Raihan kesuksesan yang jauh lebih besar dan kemudian meletakkan namanya di papan teratas industri musik tentunya adalah saat The Weeknd merilis album keduanya, “Beauty Behind the Madness”, yang dirilis di tahun 2015. Dengan single ‘Can’t Feel My Face’ di mana ia dibantu oleh penulis lagu dan produser handal Max Martin, The Weeknd sukses mendapatkan single #1 pertamanya di Billboard Hot 100. Disusul kemudian dengan ‘The Hills’, yang sebenarnya dirilis terlebih dahulu, namun perlahan dengan pasti menyusul ke posisi puncak dan menggantikan ‘Can’t Feel My Face’ sebagai juara. Tidak hanya itu, ‘The Hills’ sanggup menjadi juara selama 6 pekan, sementara ‘Can’t Feel My Face’ selama 3 pekan.

Hanya setahun berselang, tepatnya menjelang akhir 2016, The Weeknd pun merilis album ketiganya, “Starboy”, yang sekali lagi menuai sukses tidak hanya menjadi juara di tangga album Billboard 200, namun single utamanya yang juga berjudul sama, ‘Starboy’, juga menjadi juara di Billboard Hot 100 dan memberikan single #1 ke-3 untuk The Weeknd. Dengan dibantu oleh Daft Punk, Future, Kendrick Lamar, serta Lana Del Rey, yang sebelumnya juga membantunya di album “Beauty Behind the Madness”, album “Starboy” seolah menghadirkan transisi seorang The Weeknd menuju ranah pop yang lebih tegas, meski tak menghilangkan atmosfir R&B pula.

Bernama asli Abel Makkonen Tesfaye, ia dilahirkan pada tanggal 16 Febaruari 1990 di Scarborough, Ontario, Kanada dari orang tua yang berdarah Etiophia. Masa pra-remaja dan remajanya memang cukup gelap, dimana ia mulai mengisap mariyuana di usia 11 tahun dan kemudian berpindah ke narkoba yang lebih berat di usia berikutnya. Tak jarang ia mengutil di supermarket lokal bersama teman-teman SMAnya. Kelakuan bengal The Weeknd ini membuatnya tak sempat menyelesaikan sekolah menengah atasnya.

Selepas DO di tahaun 2007, ia mulai mengadopsi nama julukan The Weeknd, yang berasal dari kejadian cabut sekolah di satu akhir pekan dan tidak pulang ke rumah, meskipun produser Jeremy Rose yang menemukan dirinya pertama kali mengklaim sebagai pemilik ide nama tersebut. Penulisan sengaja dimodifikasi agar tidak bersinggungan dengan nama band asal Kanada, The Weekend.

Kerjasama antara Rose dan The Weeknd yang berniat mengerjakan lagu-lagu R&B gelap dalam proyek bernama “The Weeknd” tidak berbuah hasil dan mereka berpisah. Rose mengizinkan The Weeknd memiliki beberapa lagu mereka, ‘What You Need’, ‘Loft Music’, dan ‘The Morning’, dengan catatan namanya tetap tercantum sebagai produser.  Di bulan Desember 2010 ia  melepas lagu-lagu ini melalui YouTube dengan memakai nama The Weeknd, sementara identitas aslinya tidak diungkap. Rupanya lagu-lagu ini menjadi atensi banyak pihak, seperti Drake dan kemudian menarik perhatian media masa besar seperti Pitchfork dan New York Times.

Di tahun 2011 The Weeknd merilis mixtape pertamanya, “House of Ballons” secara gratis. Kesuksesan mixtape ini membuat The Weeknd pun memulai  tur yang semakin membuat namanya menjadi bahan perbincangan. Lankah The Weeknd semakin panjang saat Drake mengajaknya untuk terlibat dalam album “Take Care” milik sang rapper. Di sepanjang tahun ini, The Weeknd merilis dua mixtape lain, “Thursday” dan “Echoes of Silence” yang juga mendapat sambutan meriah.

Tidak heran jika di bulan September 2012, ia bergabung bersama label besar Republic Records, meski nantinya produksi akan dilakukan labelnya sendiri, XO. Sebagai pembuka, The Weeknd merilis album kompilasi, “Trilogy”, yang dirilis di bulan November dan terdiri atas lagu-lagu hasil remaster dari lagu-lagu dalam mixtape yang telah dirilisnya serta tambahan 3 lagu baru. Selanjutnya, karirnya pun semakin berkembang setelah merilis 3 album yang disebut di atas.

Dengan menyebut Prince, Michael Jackson dan R. Kelly sebagai musisi yang memberi pengaruh pada musikalitasnya, The Weeknd justru telah mengembangkan namanya sendiri. Penyanyi yang sebelumnya tampil khas dengan gaya rambut gimbal berpotongan unik yang terinspirasi dari seniman Jean-Michel Basquiat kini memasuki era baru dengan album terbarunya, “Starboy”. Sebuah era baru yang ditandai tidak hanya dengan pergantian gaya rambut menjadi lebih klimis, namun juga musikalitas. Meski kini musik yang dibawakannya bertendensi lebih cerah dan populis, namun R&B perpadu indie-pop dan electronica tetap menjadi sajian. Inilah yang menjadi kekuatan seorang The Weeknd.

Official Website The Weeknd
Official Facebook The Weeknd
Official Twitter @theweeknd

Official Twitter @Universal_Indo
Official Facebook Universal Music Indonesia

Love Film. Love Books. And Everything in Between.

Comments

One Response to “January Artist of the Month: The Weeknd”

  1. yuni says:

    Album ini lebih keren dr album sebelumnya
    Banyak lagu bagus di album ini.
    I love it

Leave a Reply

Related Articles

Music News | August 18, 2017 By

Miley Cyrus Merasa Lebih Muda Dalam Video Untuk Single Barunya, ‘Younger Now’

Music News | By

Ed Sheeran Beri Kejutan Di Konser Shawn Mendes

Music News | By

Bastille Mengcover ‘Basket Case’ Green Day Untuk Serial Televisi, “The Tick”