Quantcast
Album of the Day: Placebo – A Place for Us to Dream – Creative Disc

Album of the Day: Placebo – A Place for Us to Dream

Inggris. Pertengahan 1990-an. Britrock/britpop, Spice Girls, techno, tengah mendominasi skena musik. Tiba-tiba muncul Placebo, yang saat itu terdiri atas Brian Molko, Stefan Olsdal dan Robert Schultzberg, yang segera digantikan oleh Steve Hewitt, yang hadir dengan album self-titled mereka. Rock alternatif yang mereka persembahkan memberikan angin segar di tengah keseragaman yang nyaris merajalela. Kini Placebo hanya menyisakan Molko dan Olsdal, yang memang pendiri band ini. Dan dalam rentang karir dua dekade-an, mereka telah merilis 7 buah album, yang kemudian beberapa hitsnya dirangkum dalam album kompilasi “A Place for Us to Dream“, yang menandakan sebagai perayaan 20 tahun usia Placebo.

Terdiri atas dua keping CD, “A Place for Us to Dream” memiliki materi yang melimpah, 36 lagu, yang tersebar menjadi 18 track untuk setiap kepingnya. Kompilasi ini terdiri atas lagu-lagu yang sebelumnya pernah dirilis Placebo sebagai single. Tentunya “A Place for Us to Dream” bukan satu-satunya album kompilasi single Placebo. Selain beberapa album B-Sides, di tahun 2004 mereka pernah merilis “Once More with Feeling: Singles 1996–2004”, yang terdiri atas 19 track, dengan dua track di antaranya adalah track baru yang khusus dikerjakan untuk albumnya. Kini salah satu daru track tersebut, ‘Protège-Moi’, juga dimasukkan ke dalam album “A Place for Us to Dream” dan menyisakan ‘Twenty Years’. Tapi ‘Twenty Years’ bukan satu-satunya single Placebo yang gagal masuk ke dalam “A Place for Us to Dream”, karena ada juga ‘Burger Queen Français’ dan ‘The Never-Ending Why’.

Sebagai album kompilasi, tentunya “A Place for Us to Dream” akan sangat memuaskan, karena nyaris sebagian besar single yang telah dirilis Placebo dalam sepanjang karir mereka selama 20 tahun terakhir bisa disimak di sini. Bahkan track ‘Running Up That Hill’, yang aslinya adalah milik Kate Bush dan terdapat dalam album kompilasi cover version, “Covers” (2007) pun disertakan.

Satu yang harus dicermati dari “A Place for Us to Dream” adalah penyusunan tracknya yang dilakukan secara acak atau tidak kronologis sebagaimana pelepasan lagu-lagu ini saat dirilis sebagai single. Oleh karenanya jika ingin menyimak progresi musikalitas Placebo semenjak 1996 hingga 2013 (album “Loud Like Love”), mungkin akan agak sulit untuk melakukan hal tersebut. Keping pertama album dibuka dengan ‘Pure Morning’ yang diambil dari album “Without You I’m Nothing” (1998), sedang track kedua adalah ‘Jesus’ Son’, sebuah track baru yang khusus disertakan untuk “A Place for Us to Dream”. Barulah track ketiga, ‘Come Home’, diambil dari album debut mereka, “Placebo” (1996). Lompatan-lompatan waktu untuk penempatan track ini terus berulang di sepanjang album, sampai ia berakhir.

Hanya saja, sebenarnya ini tidak terlalu mengganggu, karena jika kita menyimak ‘Jesus’ Son’ misalnya, yang disambung dengan ‘Come Home’, dua track yang memiliki gap sebanyak 20 tahun, maka kita nyaris tidak merasakan perubahan musikalitas Placebo yang teramat berarti. Rock alternatif yang melodik dan cathy, mengandalkan gebukan drum penuh semangat serta permainan gitar atraktif yang menjadi sentra penunjang lagu. Mungkin yang berbeda dari vokal Molko. Masih tetap nasal, namun tidak terlalu berpitch tinggi. Ada sedikit ketenangan di dalam vokalnya, ketimbang ‘Come Home’ yang terdengar lebih impulsif dan meledak-ledak.

Placebo memang tidak bisa terlepas dari persona Molko. Tampilannya yang androgini begitu mencuri perhatian, sementara ia bernyanyi tentang narkoba dan seks secara obsesif. Seolah tidak cukup, ia pun kembali bernyanyi tentang narkoba dan seks. Tidak heran jika lagu-lagu Placebo kadang terdengar serupa dan secara tematis satu dimensional. Hanya saja sulit untuk menghilangkan kesan setiap lagu-lagu yang dikomposisikan Molko bersama Placebo adalah lagu-lagu dapat berdiri sendiri, terutama untuk periode album “Placebo” hingga “Sleeping With Ghosts” (2003). Setiap lagu di album-album tersebut bisa menjadi single tersendiri, sehingga menjadikan 4 album pertama Placebo bisa dikatakan adalah 4 bagian greatest hits mereka. Tidak heran jika kompilasi hits pertama mereka, “Once More with Feeling: Singles 1996–2004” terasa begitu kuat, karena didukung oleh barisan materi yang kuat pula.

Itu masih bisa dirasakan dalam “A Place for Us to Dream”. Namun, album “Meds” (2006) hingga yang terakhir “Loud Like Love”(2013), tidak lagi semegah 4 album pertama tadi. Dan itu juga bisa dirasakan dalam “A Place for Us to Dream”, karena lagu-lagu seperti ‘Meds’, ‘For What It’s Worth’, atau ‘Too Many Friends’ sudah terdengar repetitif, tidak sesegar lagu-lagu di awal karir merka, mengingat Placebo tidak meramu mereka dengan formula yang begitu berbeda. Sebuah indikasi jika Placebo sudah perlu untuk memikir ulang konsep mereka agar tidak terjebak pada repetisi atau monotonisme.

Oleh karenanya, mendengarkan 36 lagu dalam “A Place for Us to Dream” adalah seperti penuh dengan semangat di paruh awal dan kelelahan memasuki paruh akhir. Dengan durasi 2 jam 16 menit, perlu stamina prima untuk bisa menikmati “A Place for Us to Dream” secara utuh tanpa terputus.

Syukurnya kita hidup di era digital yang memudahkan. Kita tidak hanya bisa menekan tombol skip, namun dengan materinya yang berlimpah, kita juga bisa menyusun ulang track sebagaimana yang kita maukan. Sekedar saran, ada baiknya mendengarkan “A Place for Us to Dream” dalam track yang disusun secara kronologis, mulai dari tahun 1996 hingga 2006, sehingga ritmenya akan lebih terjaga, tidak belang-belang, serta di samping lebih komprehensif jika ditilik dari aspek historis.

Terlepas dari itu, Placebo tidak ada bandingannya. Dengan dua puluh tahun usia karirnya, mereka menegaskan jika konsistensi adalah kunci. Satu dari sedikit band era 90-an yang betah bertahan? Jelas sesuatu. Mendengarkan “A Place for Us to Dream” adalah buktinya.

iTunes

iTunes

Official Website

TRACKLIST
CD 1
1. “Pure Morning” (radio edit) 3:58
2. “Jesus’ Son” (radio edit) 3:19
3. “Come Home” 5:09
4. “Every You Every Me” (single version) 3:34
5. “Too Many Friends” 3:34
6. “Nancy Boy” (radio edit) 3:19
7. “36 Degrees” (2016 version) 4:53
8. “Taste in Men” (radio edit) 4:00
9. “The Bitter End” 3:11
10. “Without You I’m Nothing” (featuring David Bowie; single version) 4:11
11. “English Summer Rain” (single version) 3:10
12. “Breathe Underwater” (slow) 5:28
13. “Soulmates” 3:06
14. “Meds” (featuring Alison Mosshart; single version) 2:54
15. “Bright Lights” (single version) 3:31
16. “Song to Say Goodbye” (radio edit) 3:53
17. “Infra-Red” 3:15
18. “Running Up That Hill” (Kate Bush cover) 5:10

CD 2
1. “B3” (radio edit) 3:53
2. “For What It’s Worth” 2:51
3. “Teenage Angst” 2:41
4. “You Don’t Care About Us” (radio edit) 3:51
5. “Ashtray Heart” 3:38
6. “Broken Promise” (featuring Michael Stipe) 4:13
7. “Slave to the Wage” (radio edit) 3:46
8. “Bruise Pristine” (radio edit) 3:00
9. “This Picture” 3:33
10. “Protège-Moi” 3:15
11. “Because I Want You” (redux) 4:19
12. “Black-Eyed” 3:47
13. “Lazarus” 3:24
14. “I Know” (2008 version) 5:03
15. “A Million Little Pieces” (radio edit) 3:45
16. “Special Needs” (radio edit) 3:29
17. “Special K” 3:49
18. “Loud Like Love” (radio edit) 4:26

Tags:

About The Author

Reply