Quantcast

Far East Movement: Menemukan Jati Diri Dengan Melakukan Konser Ke Berbagai Negara

By - 2 months ago in Artist Interviews Featured Article

Grup pengusung hip-hop dan electronic, Far East Movement, bisa dikatakan merupakan kumpulan yang cukup ini. Meski berasal dari Amerika Serikat, namun para anggotanya, Kev Nish, Prohgress, dan DJ Virman, berdarah Asia.

Far East Movement yang mulai aktif di dunia musik semenjak tahun 2003 ini telah merilis album kelima mereka, “Identity”, tahun lalu. Ada yang menarik untuk album ini, karena sebagian besar featuring act untuk albumnya adalah para musisi yang berdarah Asia, seperti Chanyeol yang dikenal sebagai anggota EXO, Tiffany dari Girls’ Generation, Jay Park dan banyak lagi.

Berkat kesempatan yang diberikan oleh Universal Music Indonesia, tim Creative Disc berkesempatan untuk mewawancarai Far East Movement, guna sedikit mengulik apa saja yang mereka tawarkan dalam album “Identity” tersebut. Berikut petikan wawancaranya:

CD: Apa yang membuat “Identity” berbeda dari album sebelumnya?

FM: Album kali ini mengambil pendekatan yang berbeda. Secara musik, kami ingin membuatnya jadi campuran kami sebagai rapper dan transisi dalam hal produksi. Kami ingin membawa sesuatu yang lebih emosional daripada yang biasa orang dengar seperti “(Like a) G6”. Secara simbolis, di album ini, kami ingin mencerminkan budaya kami. Kami semua tumbuh sebagai orang Amerika dan Asia. Di Amerika, kalau kamu terlihat seperti orang Asia, kamu memang orang Asia. Kami bukan dari sini. Saat pergi ke Asia, kami orang Amerika. Ada diskoneksi budaya yang selalu kami alami, jadi setelah album kedua, kami istirahat. Kami berlibur dan terbang ke Indonesia, Korea, Jepang, Tiongkok, Filipina, Malaysia, Thailand, tempat kami merasakan koneksi setiap kami tampil. Dengan begitu, kami menemukan lebih banyak tentang diri kami, tentang identitas kami, dan apa artinya menjadi Far East Movement. Kami pergi ke Korea, berhubungan dengan beberapa musisi luar biasa di sana dan mencoba membangun identitas yang sama, mencampur Asia dan Amerika, mencampur hip hop, pop, EDM, dan menggabungkan semuanya. Karena itulah album ini lebih berkembang.

CD: Kalian sudah bekerjasama dengan musisi Korea dalam “Identity.” Bagaimana ide ini muncul?

FM: Itu pertemanan yang alami. Kami tampil di Malaysia untuk sebuah acara MTV dan bertemu EXO. Mereka keren dan rendah hati, dan kami khususnya bertemu Chanyeol. Di Korea saat kami mengadakan sesi bersama SM (Entertainment), kami berpikir “kita harus berkolaborasi!” Itulah yang menjadikannya menyenangkan, memudahkan kami bekerja dengan orang lain. Dari sana, kami sudah lama kenal Jay Park, AOMG, kami bilang “ayo ke studio dan bekerja sama.” Ada dua hal. Pertemanan juga memilih musisi yang hebat. Seperti Hyorin, kami hanya menonton videonya di YouTube, bagaimana bagusnya dia bernyanyi live, juga nadanya. Kami harus mendapatkannya untuk track kami. Yoon Mi-Rae, dia jagonya. Konsistensinya membuat kami berpikir dia akan bagus sekali di lagu kami yang bukan lagu rap. Itu sepenuhnya berbeda, sedikit lebih banyak reproduksi dari kami. Faktornya banyak, tapi ini baru awal dari identitas Far East Movement, untuk menggabungkan budaya. Kami memulai di Korea, selanjutnya semoga kami bisa meluas ke Indonesia, bertemu beberapa musisi di sana, Thailand, Filipina, Tiongkok, Jepang. Ini bab 1, jadi kami tidak sabar melihat ke mana kami nantinya.

CD: Ada rencana berkolaborasi dengan musisi Indonesia? Dunia musik dance kami sudah semakin besar.

FM: Musisi Indonesia, pastinya. Musik dance sangat berkembang, festival di sana luar biasa, kami pernah tampil di sana. Kami bertemu Dipha Barus di It’s The Ship. Dia DJ yang fenomenal dalam produksi. Mungkin akan luar biasa kalau kami bekerja sama. Kami sudah dengar banyak musik yang bagus, seperti Angger Dimas. Dia luar biasa. Banyak sekali bintang pop hebat di Indonesia. Hanya masalah waktu untuk kami bekerja sama dengan mereka.

CD: Beritahu kami 5 hal yang orang lain tidak tahu tentang musik kalian.

FM: Kami sebenarnya sudah punya “G6” lebih dari setahun sebelum itu menjadi nomor satu. Lama sekali untuk lagu itu. Beberapa orang tidak tahu, tapi beberapa juga tahu, bahwa Bruno Mars membantu kami menulis “Girls on the Dance Floor,” “OMG.” Matthew Coma juga membantu kami dalam “Turn Up The Love.” Beberapa orang tidak tahu bahwa Marshmello sebenarnya–

CD: Apa track favorit kalian untuk dibawakan live?

FM: Lagu favorit kami untuk dibawakan live pastinya “Freal Luv,” karena versi live kami sangat berbeda. Kami membuatnya khusus untuk penampilan kami. Setiap rekaman, kami menyebutnya “momen.” Kami berusaha membuat setiap rekamannya berkesan, semoga kalian merasa begitu.

CD: Kalian sudah beberapa kali tampil di Indonesia, bagaimana pentontonnya?

FM: Penonton di Indonesia sungguh gila. Energi, cinta, mereka paham banyak genre musik berbeda, sangat berpikiran terbuka. Kami sudah tampil di setiap jenis acara. Kami sudah tampil di festival, pesta pribadi, sampai pertunjukan sebuah merk. Namun, penggemar di Indonesia sangat mendukung. Mereka selalu tahu tentang acara-acara ini bahkan jika acaranya mendadak, mereka selalu sangat mendukung. Dan makanannya! Luar biasa. Aku cinta Indonesia. Astaga. Tapi, yah, penontonnya… bawa kami kembali! Kapan kami bisa kembali? Tapi kami bakal kembali. Untuk festival. Lihat saja nanti. Kami akan datang.

Simak video interviewnya di bawah ini:

Dengar album “Identity” di bawah ini:

Video : Dundhee Yuwono
Transkrip : Sheyla Ashari

Love Film. Love Books. And Everything in Between.

Comments

Leave a Reply

Related Articles

Artist Interviews | May 21, 2017 By

CreativeDisc Up, Close and Personal Interview With Pixie Lott: Siap Hentak Dengan “Baby”, Serta Impian Untuk Tur Dunia

Music News | May 19, 2017 By

All Time Low Kembali Sambangi Jakarta Untuk “The Young Renegades World Tour”

Artist Interviews | May 2, 2017 By

Interview With Reggie ‘n’ Bollie : Jebolan X-Factor Yang Kini Menjadi Artis Indie