Quantcast

CreativeDisc Interview With Shura: Saya Beruntung Jadi Musisi

By - 3 months ago in Artist Interviews

Kali ini Creativedisc mendapatkan kesempatan untuk bertemu dan mewawancarai Shura, seorang penyanyi pendatang baru kelahiran Manchester yang menggebrak dunia musik melalui album perdananya “Nothing’s Real”. Shura berhasil mendapatkan perhatian para kritik serta membawanya menjadi nominasi BBC Sound of 2015. CreativeDisc mendapatkan kesempatan interview oleh Ismaya Live sesaat sebelum penampilan pertamanya di We The Fest hari pertama lalu.

CD: Hi Shura
Hai Creativedisc

Q: Kenapa kamu memilih Shura sebagai nama panggungmu?
Itu sebenarnya nama panggilan untuk Aleksandra dalam bahasa Rusia, jadi itu aslinya nama saya juga.

CD: Ceritain tentang tempat kamu tumbuh besar?
Saya tumbuh besar di Manchester. Di sana banyak sekali warisan musik yang luar biasa jadinya saya merasa beruntung besar di sana dan bekerja di toko kaset di sana juga menambah wawasan saya akan musik yang saya tidak bisa temui pada umumnya. Sisi ga enaknya, Manchester sering hujan.

CD: Apakah kota tempat kamu tinggal mempengaruhi karyamu?
Saya tinggal di London tetapi London bukan hanya kota yang mempengaruhi karysaya. Tentu saja saya merekam apapun yang terjadi ketika saya merekam album di manapun saya tinggal tetapi yang paling mempengaruhi karysaya ketika saya bepergian dan melihat Amerika untuk pertama kalinya. Berada di California dan melihat matahari terbenam di LA sambil berkendara di Pacific Coast Highway atau melewati Studio 54 di New York City benar-benar mempengaruhi sound di album “Nothing’s Real”.

CD: Bagaimana rasanya tour keliling dunia?
Saya adalah seorang yang suka jalan-jalan, saya pernah ke Amerika Latin sewaktu saya berumur 20an selama enam bulan. Saya sebenarnya sudah sering melakukan touring semenjak single perdana saya “Touch” sangat populer di internet. I’m feeling weird at first dan cukup berpengaruh pada hubungan saya dengan keluarga dan orang terdekat saya. Saya kangen dengan keluarga bahkan kucing saya di rumah. Tetapi yang paling saya senang ketika tur keliling dunia adalah saya bisa bertemu orang baru yang menyukai dan mendengar musik saya. Saya beruntung keliling dunia sebagai musisi kalau bepergian sebagai turis saya harus memikirkan biayanya berapa, tidur di mana, baju apa yang harus saya pakai, dan berbagai macam hal lainnya dengan biaya yang pastinya sangat mahal. Sewaktu saya tour di Amerika tepatnya di kawasan Los Angeles saya melakukan perjalanan darat selama sepuluh jam dan memakan fast food selama berhari-hari, terkadang saya tiba-tiba rindu makanan yang alami dan hijau seperti salad atau makanan yang gak keluar dari mesin atau pabrik. Saya juga senang mengabadikan sesuatu ke dalam foto. Jadi kalau saya berkunjung ke suatu tempat saya biasanya mengambil foto di tempat tersebut.

CD: Kamu dipilih BBC dalam penghargaan BBC Sound of 2015. Bagaimana rasanya masuk ke dalam nominasi tersebut?
Saya merasa mungkin saya terlalu dini untuk mendapatkan penghargaan seperti itu! Apalagi saya waktu itu hanya merilis sedikit lagu dan tidak tahu apa yang sedang saya lsayakan, namun sangat mengasyikkan untuk dikenali atas apa yang kubuat dan masuk di anatar beberapa seniman hebat.

CD: “Nothing’s Real” mengandalkan synthpop dan new wave. Kenapa kamu memilih new wave dan electropop?
Sebenarnya saya tidak terlalu pusing soal gaya ataupun genre, saya tidak pernah duduk dan berpikir “saya akan membuat album modern disco”. Saya hanya menulis dan sambil menulis saya memproduserinya. Saya selalu memiliki gagasan yang sangat kuat dalam pikiran saya tentang bagaimana sebuah lagu tertentu perlu terdengar tapi saya tidak berpikir dalam genre. Saya ingin meminjam dari berbagai macam gaya yang saya bisa, saya telah dipengaruhi oleh begitu banyak artis. Saya bahkan tidak memikirkan “Nothing’s Real” memiliki new wave vibe sampai orang-orang menyebutkannya dan tentu saja aku seperti, kurasa memang begitu dan semuanya dilakukan dengan sangat alami dan organik.

CD: Sebutkan lima album yang mempengaruhi musik kamu?
Hmmmm susah untuk memilih hanya lima saja tapi ini yang saya pikirkan; True Blue – Madonna, Tango is the Night – Fleetwood Mac, Warpaint – Warpaint, Cupid Deluxe – Blood Orange, dan semua karya Prince yang pernah ia lakukan.

CD: Bagaimana kamu melihat musik di era streaming?
Saya pikir streaming mengasyikkan dan tentu saja sekarang itu adalah cara utama orang menikmati musik. Saya selalu membeli vinyl tetapi untuk rekaman yang saya suka karena harganya sangat mahal. Banyak sekali perdebatan tentang masa depan sebuah album, entah itu masih ada penikmatnya atau tidak yang mau mendengarkan album dari awal sampai selesai , tapi saya benar-benar berpikir meski ada streaming, format album masih terus ada – atau setidaknya saya harap begitu karena disitulah titik yang paling seru dalam mengeluarkan karya.

CD: Kamu telah bekerja dengan Greg Kurstin (The Bird and The Bee, Adele, Sia, Foo Fighters, Kelly Clarkson, Pink) dan Joel Pott (Athlete, George Ezra, James Bay) dalam album “Nothing’s Real”. Ceritakan tentang proses mengerjakan album tersebut bersama mereka?
Joel Pott adalah seorang penulis dan produser yang luar biasa. Selama proses membuat album ini dia seperti tangan kanan saya. Menulis musik bersama dia seperti berada di dalam band karena ia sendiri dulunya merupakan vokalis dan gitaris Athlete dan saya suka, itulah alasan saya belajar gitar pada umur 13. Greg juga merupakan seorang penulis yang menakjubkan dan saya takjub ketika bekerja bersamanya dan membuahkan hasil yang keren bersamanya.

CD: Apa tema besar dari album “Nothing’s Real”?
Saya pikir nostalgia merupakan tema besar untuk album ini sehingga tak terelakkan saya menghasilkan banyak lagu dengan gaya vintage. Banyak rekaman favorit saya berpegang pada synth jadi pas pertama kali saya bekerja dengan para produser di studio beberapa tahun lalu saya menjadi gila…sangat menyenangkan. Ini membuka dunia baru bagi saya.

CD: Sebutkan 5 hal yang kita tidak ketahui tentang Shura?
Wah saya orangnya sangat misterius jadi gak ada yang spesial tentang saya hahahahaha. Saya takut terbang. Saya punya alergi terhadap raspberry sewaktu umur 23 dan sangat MENYEBALKAN karena itu merupakan buah kesukaan saya dulu. Saya juga terobsesi dengan pasta (siapa yang ga suka pasta?), saya juga benar-benar relatable dengan karakter Dev Shah dalam film Master of None. Serta saya juga ingin masuk di Game of Thrones seperti Ed Sheeran walaupun muncul hanya 0.001 detik.

Interview by Tya & Luthfi.
Teks by Luthfi
Photo by Titaz
Special Thanks To We The Fest.

Lahir bersama Britpop, besar bersama Evangelion dan pop kultur

Comments

Leave a Reply

Related Articles

Concerts Review | October 9, 2017 By

SILENT SIREN Semakin Dekat Dengan Penggemarnya di Konsernya

Artist Interviews | October 5, 2017 By

CreativeDisc Interview With SILENT SIREN: Kami Pecinta Bakso

Album of The Day | October 2, 2017 By

Album of The Day: Foo Fighters – Concrete and Gold