Quantcast

Album of the Day: Galantis – The Aviary

By - 4 weeks ago in Album of The Day

Big Beat/Atlantic

Meski baru aktif semenjak tahun 2012, namun sosok-sosok di belakang Galantis bukanlah sembarangan. Selain anggota Miike Snow, Christian Karlsson juga sudah wara-wiri sebagai penulis lagu kenamaan dalam moniker Bloodshy & Avant. Begitu pula dengan Linus Eklöw dengan Style of Eye-nya. Dengan format EDM yang dipadu dengan pop familiar dan pastinya catchy, album debut mereka, “Pharmacy” (2015) sukses mengangkat nama Galantis menjadi salah satu musisi terkemuka di ranah musik dansa.

Dua tahun kemudian sudah hadir album sophomoore mereka, “The Aviary“. Sebagaimana biasa, jauh sebelum album dirilis Galantis sudah merilis beberapa single terlebih dahulu secara konsisten. Pada akhirnya saat “The Aviary” dirilis album sudah terdengar akrab di telinga. Tidak butuh waktu lama untuk juga merasa karib dengan lagu-lagu lain yang baru kita dengar pertama kali.

Sebagaimana “Pharmacy”, lagu-lagu dalam “The Aviary” masih mengandalkan bass lines yang bouncy, melodi manis, drop seru, dan pastinya vokal yang renyah (dan beberapa di antaranya diplintir dengan efek distorsi tertentu untuk memberi vibe yang lebih electronic). Tapi jika memang harus membanding-bandingkan, rasa-rasanya “The Aviary” sukses untuk terdengar jauh lebih baik dibandingkan pendahulunya.

Memang setengah materi “Pharmacy” adalah lagu-lagu yang stand-out juga berkesan. Siapa yang tak merasa galau sembari tetap nge-dance saat mendengarkan track seperti ‘Dancin’ to the Sound of a Broken Heart’ atau ‘Gold Dust’, terjebak euforia dalam ‘You’ atau tentu saja hit Galantis yang memiliki potensi menjadi klasik, ‘Runaway (U & I)’. Sedang setengah lagi kita bahkan sudah lupa bagaimana bentukannya selepas mendengarkan album.

Nah, dalam “The Aviary”, keseluruhan lagu yang terdapat di dalamnya stand-out dan juga berkesan. Tampaknya Galantis mengeskalasi dengan maksimal kemampuan mereka dalam mengolah lagu yang relatif sangat mudah untuk membekas di benak. Kita tidak hanya membicarakan track-track yang dengan sengaja dilepas menjadi single, karena memang tujuan eksistensi mereka adalah sebagai hook agar pendengar terikat.

Sejauh ini Galantis sudah merilis 4 single resmi dan 2 single promosi. Total 6 lagu adalah lagu-lagu top 40 yang tidak hanya akan memesona para clubber tapi juga penikmat musik pop. Mulai dari track pembuka ‘True Feeling’ yang mengedepankan semangat bouncy-nya dengan kuat, ‘Love On Me’ yang tak kalah groovy dan berkolaborasi dengan Hook n Sling, ‘Pillow Fight’ yang mengusung progressive house catchy yang lebih konvensional dengan Matthew Koma sebagai pengisi vokal.

Galantis pun tak mau kalah menginvasi future bass dalam ‘Hunter’, meski mereka juga memadukannya dengan cita rasa tropical house yang saat ini juga tengah nge-trend. Begitu pula saat Galantis mengajak ROZES dalam ‘Girls On Boys’. ROZES yang sempat membantu The Chainsmokers dalam track future bass lain, ‘Roses’, tak kalah efektif dalam menghadirkan track yang adiktif. Harus diakui Galantis lebih berhasil dalam menghadirkan lagu dengan dinamika yang lebih versatil selain kompleks.

Bagaimana dengan sisa lagu dalam album? Tak kalah mencorong pastinya. Mengajak Poo Bear yang tengah naik daun, mereka menghadirkan ‘Salvage (Up All Night)’ yang memiliki potensi untuk menjadi hit klasik Galantis lain. Nuansa tropical terasa sangat kuat di dalam lagu, yang rasa-rasanya memang sengaja dipoles Galantis untuk banyak materi “The Aviary”.

Tropical diangkat Galantis sepertinya bukan hanya untuk mengikuti trend, tapi juga memberi aksentuasi pada ciri khas mereka yang berangkat dari ranah pop. Jadi, meski lagu-lagu seperti ‘Tell Me You Love Me’ atau ‘Hello’ jelas adalah teman yang tepat saat berdansa di lantai dansa, mereka juga bisa didengar secara kasual saja. Ada juga ‘Written In The Scars’ yang mengajak Wrabel sebagai pengisi vokal masih mengandalkan future bass. Sedangkan ‘Hey Alligator’ yang dinyanyikan Bonnie McKee dengan vokal dimanipulasi atau ‘Call Me Home’, memang terdengar seperti standar Galantis (yang rasanya pas menjadi materi dalam “Pharmacy”), namun tak kalah menawan dalam menarik atensi kita.

Mendengarkan album Galantis itu sebenarnya mendengarkan album pop yang kebetulan saja dibalur dalam rasa EDM. Oleh karena itu “The Aviary” seharusnya adalah sebuah album yang bisa diakses oleh penikmat musik secara awam, tidak tersegmentasi untuk cluster pendengar tertentu saja.

Dan dalam album sophomore mereka ini, jelas Galantis sudah lebih mumpuni untuk menyeimbangkan dua sisi tersebut, sehingga “The Aviary” dipastikan adalah sebuah album yang tak akan membosankan untuk didengar berulang-ulang, terlepas apakah secara signifikansi dan tematis mungkin tak sedalam yang mungkin kita harapkan.

Official Website

TRACKLIST

1. “True Feeling” 3:58
2. “Hey Alligator” 3:29
3. “Girls on Boys” (with Rozes) 2:59
4. “Salvage (Up All Night)” (featuring Poo Bear) 3:17
5. “Tell Me You Love Me” 3:10
6. “Hello” 3:43
7. “Hunter” 3:04
8. “Written in the Scars” (featuring Wrabel) 3:23
9. “Call Me Home” 3:25
10. “Love on Me” (with Hook n Sling) 3:25
11. “Pillow Fight” 3:17
12. “No Money” 3:10

Love Film. Love Books. And Everything in Between.

Comments

Leave a Reply

Related Articles

Music News | October 24, 2017 By

Martin Garrix Sukses Pertahankan Gelarnya Sebagai Top DJ Dunia

Music News | By

Bebe Rexha & Florida Georgia Line Bersama Membawa Americana Dalam Video ‘Meant To Be’

Music News | By

Sejukkan Hari Yang Panas Dengan Single Baru DJ Snake Bersama Max Frost, ‘Broken Summer’