Quantcast

Album of the Day: Neck Deep – The Peace and The Panic

By - 2 months ago in Album of The Day

Hopeless Records

Bagaimanapun band-band yang konsisten dengan pop-punk sebagai pilihan musikalitas mereka harus mendapat penghormatan tersendiri, meski mungkin saja kini subgenre tersebut relatif tersegmentasi dan hanya memiliki pasar terbatas. Salah satu kumpulan yang harus mendapat sanjungan tersebut adalah band asal Welsh, Neck Deep, yang baru saja menghadirkan album ketiga mereka, “The Peace and The Panic“.

Mungkin alasan sederhana mengapa pop-punk mungkin cenderung dipinggirkan oleh penikmat musik mainstream masa kini (tidak seperti 20 atau 10 tahun lalu di mana genre ini juga menjadi salah satu pemain utama) adalah karena secara sound dan pilihan notasi yang relatif tidak berkembang. Mendengarkan pop-punk rilisan saat ini sama halnya dengan mendengarkan pop-punk di era kegemilangannya alias “begitu-begitu saja”.

Tidak bisa disalahkan jika ada yang beranggapan seperti itu, namun bagaimanapun pop-punk memiliki dinamika dan semangatnya sendiri di mana konsistensi justru diperlukan agar ia tidak melenceng kemana-kemana, jika musisinya memang tidak ingin merambah ranah genre lain sebagai bagian eksplorasi musikalitas mereka. Neck Deep bisa dikatakan sebagai kelompok puritan yang lebih memilih menghadirkan pop-punk sebagaimana adanya, tanpa merasa perlu menambahkan embel-embel kekinian. Mendengarkan “The Peace and The Panic” menegaskan hal tersebut.

Semenjak mereka melakukan debut di tahun 2014 dengan album “Wishful Thinking” dan disusul dengan “Life’s Not out to Get You” (2015), konsistensi inilah yang dipertahankan oleh kumpulan yang terdiri atas Ben Barlow (lead vocals), Fil Thorpe-Evans (bass, backing vocals), Dani Washington (drums), Matt West (rhythm guitar) dan Sam Bowden (lead guitar, backing vocals) ini.

Mendengarkan “The Peace and The Panic” addalah mendengarkan lagu-lagu pop-punk yang intens, ritmik, atraktif dan pastinya sangat catchy. Oleh karenanya melewatkan waktu selama 39.42 menit mendengarkan album ini sama sekali tidak terasa membosankan. Malah kita merasa terpanggil untuk mencurahkan jiwa muda dan semangat bergelora. Seolah-olah masa remaja tidak mau memudar. School’s out yet we stay young forever!

Ada track melodik seperti ‘Parachute’ yang melantun dengan manis meski vokal Barlow terdengar agak garang. Mendengarkan lagunya seolah-olah beban di jiwa terangkat dan kita larut dalam euforia melankolia yang dihadirkan Neck Deep di dalamnya. Menariknya Neck Deep menyusulnya dengan track ‘In Bloom’ yang juga mengdepankan pop dengan penuh pasti ketimbang punk-nya itu sendiri.

Jangan lewatkan pula balada minimalis dengan gitar yang menjadi instrumen utama dalam ‘Wish You Were Here’, yang agak mengingatkan Dashboard Confessional yang bertemu dengan The Red Jumpsuit Apparatus, yang uniknya bukanlah band pop-punk namun emo dan rock murni. Ini mungkin adalah yang paling mendekati upaya lintar genre yang dilakukan Neck Deep dalam album “The Peace and The Panic”.

‘Critical Mistake’ mungkin terdengar agak Green Day-esque atau ‘Heavy Lies’ seperti Blink-182. Tapi untungnya lagu-lagu tersebut tidak terdengar seperti imitasi, namun lebih condong sebagai sebuah homage. Lagi pula bagaimanapun dua band tersebut merupakan senior Neck Deep dan telah turut membentuk skena pop-punk sampai saat ini.

Selain track-track di atas, “The Peace and The Panic” umumnya diisi oleh tipikal pop-punk yang bertempo cepat dan diisi gebukan drum bergemuruh dan riff gitar yang elektrik, yang sudah disajikan semenjak track pembuka, ‘Motion Sickness’ sampai track penutup ‘Where Do We Go When We Go’. Namun jangan kuatir, karena seperti yang disebutkan di atas, meski terdengar familiar, lagu-lagu yang dipersembahkan Neck Deep dalam “The Peace and The Panic” sama sekali bukan repetisi atau imitasi.

Catatan menarik lain dari “The Peace and The Panic” di mana Neck Deep lebih memilih berbicara tentang hidup dan kehidupan itu sendiri dalam lagu-lagunya, dan menolak untuk menjadi politis. Dengan lirik seperti “I just wanna get one up on life before it kills me,” maka Neck Deep terdengar seperti seorang filsafat yang bernyanyi dalam sebuah lagu pop-punk super catchy. Yang meski bernyanyi tentang hal-hal yang cukup eksistensial, namun tidak harus menjadi berat atau getir.

Sebuah album yang merayakan hidup dan segala kronikanya dengan cara semenyenangkan mungkin. Itulah intisari “The Peace and The Panic”. Jika hasilnya se-fun ini, maka saya sama sekali tidak keberatan untuk mendengarkannya lagi. Dan lagi.

Official Website

Tokopedia

TRACKLIST

1. “Motion Sickness” 3:26
2. “Happy Judgement Day” 3:33
3. “The Grand Delusion” 3:27
4. “Parachute” 3:41
5. “In Bloom” 3:40
6. “Don’t Wait” 3:18
7. “Critical Mistake” 3:16
8. “Wish You Were Here” 4:08
9. “Heavy Lies” 3:30
10. “19 Seventy Sumthin'” 3:58
11. “Where Do We Go When We Go” 3:37

Love Film. Love Books. And Everything in Between.

Comments

Leave a Reply

Related Articles

Music News | November 24, 2017 By

Kolaborasi Epik Machine Gun Kelly, Bebe Rexha & X Ambassadors, ‘Home’, Hadirkan Videonya

Music News | By

Australia Legalisasi Pernikahan Sejenis, Lorde Rayakan Dengan Menanyikan Lagu Whitney Houston

Music News | By

Tonton Video Musik Baru Dari Liam Gallagher, ‘Come Back To Me’