Quantcast

Album of the Day: The Script – Freedom Child

By - 1 month ago in Album of The Day

Columbia Records

Tampaknya trend lintas genre yang tengah mewabah di banyak band atau solois juga hinggap di band pengusung pop rock asak Irlandia, The Script. Hal itu bisa dirasakan saat mendengarkan album kelima mereka, “Freedom Child“. Sebuah album yang hadir setelah jeda tiga tahun setelah album terakhir mereka, “No Sound Without Silence” (2014).

Syukurlah perubahan musikalitas The Script tidak sedrastis itu. Setidaknya band gawangan Danny O’Donoghue ini hanya mengubah gaya bermusik mereka di beberapa track saja, karena keseluruhan “Freedom Child” masih terdengar seperti album The Script pada umumnya. Pop-rock atau soft-rock catchy dengan melodi yang easy listening.

Tapi sulit untuk tidak tercengang saat The Script menghadirkan track seperti ‘Rain’ yang terdengar mengusung tropical dengan cukup kental. Mana sebelumnya hadir pula ‘No Man Is an Island’ yang berbau reggae dan bertugas membuka album. Dua track yang hadir saling berdekatan ini seolah mengindikan jika The Script benar-benar bertranformasi dalam arah musikalitas mereka.

Sebenarnya tidak ada salahnya juga jika The Script secara total bergerak dengan corak berbeda dalam albumnya, karena jika menilik dua track tadi, secara komposisi materinya bisa dipertanggungjawabkan, dalam arti dikerjakan dengan baik dan tetap mengedepankan konsep band ala The Scipt. Tidak benar-benar membuat pangling pendengarnya.

Saat masuk track berikutnya, ‘Arms Open’, The Script kembali ke akarnya, sehingga saat kita sudah terhanyut dan mengira akan kembali memasuki ranah baru The Script, ternyata mereka tidaklah sefrontal itu. Meski begitu, “Freedom Child” tetap menyertakan beberapa track “eksperimental” lain (baca: electronic-dance-pop yang saat ini mendominasi radio atau streaming).

Maka album juga menyajikan track seperti ‘Mad Love’ yang mengadopsi hip-hop dalam sound EDM-esque yang diusung lagu. Pengaruh skena dance juga masih terdengar di track berikutnya, ‘Deliverance’. Ada juga ‘Love Not Lovers’, ‘Eden’, dan ‘Written in The Scars’.

OK. Berarti separuh dari materi album adalah The Script yang hadir dengan balutan electronic, sementara sisanya masih mengandalkan rock, baik balada, antemik hingga stadium. Mungkin faktor penempatan track secara silih berganti, ketimbang di bagi dalam dua; electronic dan non-electronic, karena album terdengar belang-belang.

Bukan berarti jelek juga. Setiap lagu tetap menarik untuk didengar, hanya saja impresinya tidak penuh. Secara emosi terjadi perbedaan antara The Script versi pop-rock konvensional dengan The Script yang EDM-esque. Mungkin jika The Script memilih total menghadirkan lagu-lagunya secara electronic, “Freedom Child” terdengar lebih baik lagi. Mungkin.

O’Donoghue sempat menyebutkan jika mendengarkan radio saat ini, maka tidak terlalu banyak musik yang sound-nya datang dari aransemen band. Lagu yang mengandalkan gitar, bass, drum dan vokal secara organis. Semunya terdengar seperti hasil unsur produksi (masal). Mungkin itu yang menjadi alasan mengapa ia dan The Script memilih untuk mengambil trend masa kini dan membungkusnya dalam pendekatan ala band.

Bisa dikatakan berhasil, karena lagu-lagu bergaya “kekinian” yang diusung The Script dalam “Freedom Child” memang terdengar lebih organis ketimbang kebanyakan lagu sejenis yang sangat mengandalkan mesin. Hanya saja, sulit juga menghindari kesan jika album pun terdengar seperti hasil produksi (masal) juga.

Masalah berikutnya adalah pemilihan tema lagu. The Script bermaksud baik dengan mengangkat masalah-masalah sosial politik terbaru dalam lagu mereka. Seperti ‘Divided States of America’ misalnya. Namun, dengan polesan musik yang “mengkilap” dan tertata rapi, lagunya terdengar klise, dangkal dan seperti jargon saja ketimbang benar-benar menjadi corong aspriasi The Script. Lagu-lagu bertema cinta dan personal justru terdengar lebih kuat dan jujur dibandingkan lagu bertema sosial-politiknya.

Dengan adanya friksi-friksi tersebut, sulit untuk memasukkan “Freedom Child” sebagai salah satu album The Script yang mengesankan. Menghibur? Pasti. 14 track tidak terasa membosankan. Masalahnya, seusai mendengarnya, kita segera saja nyaris lupa dengan apa yang baru kita dengar. Kurangnya track yang stand-out memang penyebabnya. Namun, kemungkinan besar penyebab utamanya karena The Script belum menemukan formula pas untuk bisa menyampaikan apa yang ingin disampaikannya melalui “Freedom Child”. Mungkin di album berikutnya?

Official Website

TRACKLIST

1. “No Man Is an Island” 3:49
2. “Rain” 3:29
3. “Arms Open” 4:00
4. “Rock the World” 3:10
5. “Mad Love” 3:25
6. “Deliverance” 3:31
7. “Divided States of America” 4:04
8. “Wonders” 4:18
9. “Love Not Lovers” 3:44
10. “Eden” 3:29
11. “Make Up” 3:26
12. “Written in the Scars” 3:47
13. “Awakening” 0:47
14. “Freedom Child” 3:57

Love Film. Love Books. And Everything in Between.

Comments

Leave a Reply

Related Articles

Music News | October 24, 2017 By

Martin Garrix Sukses Pertahankan Gelarnya Sebagai Top DJ Dunia

Music News | By

Bebe Rexha & Florida Georgia Line Bersama Membawa Americana Dalam Video ‘Meant To Be’

Music News | By

Sejukkan Hari Yang Panas Dengan Single Baru DJ Snake Bersama Max Frost, ‘Broken Summer’