Quantcast

CreativeDisc Exclusive Interview With Yannick Bovy: Serenade Cinta di Album “Love Swings”

By - 3 weeks ago in Artist Interviews

Penyanyi kelahiran Belgia berusia 32 tahun ini cukup sering datang ke Indonesia, selain untuk mempromosikan album dan singlenya, ternyata Yannick Bovy juga sering tampil di private event, seperti yang dilakukannya kali ini. CreativeDisc mendapatkan kesempatan istimewa dari Universal Music Indonesia untuk kembali ngobrol bersama Yannick Bovy di hotel Mulia. Yannick baru saja merilis album ketiganya “Love Swings”, dengan single pertamanya “Paper Planes”. Yuk, kita simak obrolannya disini:

CD: Kedatanganmu di Jakarta untuk mengisi sebuah private event disini, dan kamu sepanggung dengan Loren Allred dan juga Jermaine Paul. Bagaimana rasanya?
YB: Sangat menyenangkan bisa sepanggung bersama kedua bintang tersebut. “They’re tremendously sweet..” Sangat menyenangkan bisa sepanggung dengan mereka. Saya sempat berkenalan dengan mereka tahun lalu, dalam sebuah private event juga. Ya, senang sekali bisa kembali disini.

CD: Sudah berapa kali kamu ke Jakarta?
YB: Saya ke Indonesia sudah sekitar lima kali.

CD: Album teranyarmu “Love Swings” sangat bagus, saya secara pribadi sangat menyukainya. Terutama lagu yang mengisahkan tentang Nat King Cole, yaitu “The Soul of Nat King Cole”
YB: Itu salah satu lagu favoritku. Dan itu adalah lagu baru di album ini. Memang terdengar seperti lagu yang pernah popular dan direkam sebelumnya, mungkin antara tahun 40 atau 50an, karena terdengar seperti lagu-lagu di era tersebut. Lagu tersebut ditulis khusus untuk saya oleh salah satu musisi legenda Belgia, musisi jazz yang sangat terkenal disana, dan kami memiliki hubungan yang baik, teman dekat saya. Aslinya lagu ini saya bawakan dalam bahasa Belanda. Saya sempat mengetahui bahwa ada lirik dalam bahasa Inggris nya, dan saya memaksakan untuk merekamnya dan memasukannya di album terbaru saya. Semua orang sangat excited dengan lagu tersebut.

CD: Apakah ia merupakan salah satu idolamu?
YB: Ya, namanya Will Tura dan beliau berumur 83 tahun. Dan caranya merawat dirinya dengan berolahraga setiap hari, untuk menjaga suaranya, karena beliau adalah penyanyi yang sangat baik, serta pencipta lagu yang juga terbaik. Dan beliau mempunyai telinga yang tajam terhadap kualitas musik yang baik. Pada awalnya aku tidak terlalu mengenal beliau, tidak pernah mendengarkan musiknya saat kecil. Namun seiring dengan keterlibatanku di dunia musik, dan semakin mengenalnya secara pribadi, menjadikan beliau sebagai mentor saya di musik.

CD: Rilisan terbarumu dari album Love Swings adalah ‘Valentine’. Apakah akan ada video untuk lagu tersebut?
YB: Saya masih belum tahu, tapi saya berharap karena saya yang menulis liriknya.

CD: Tentang apa sih lagunya?
YB: Lagunya tentang calon istriku (Regi Penxten). Lagu ini bukan tentang bagaimana kamu merayakan hari Valentine, namun lebih kepada pesan bahwa ada seseorang yang merupakan cinta sejatimu dan menjadi Valentine-mu. Lagu ini merefleksikan jatuh bangunnya usahamu untuk mengetahui betapa berartinya seseorang bagi hidupmu. Pada dasarnya pesan itu yang disampaikan.

CD: Jadi intinya itu adalah lagu cinta?
YB: Itu adalah lagu cinta, tepatnya serenade untuk cinta.

CD: Apakah ada rencana untuk merilis single lainnya atau langsung melepas materi baru?
YB: Harus dibicarakan dengan label Universal tentunya. Saat ini mereka masih mempromosikan ‘Paper Plane’ di Indonesia. ‘Valentine’ merupakan single terbaru saya di Belgia, namun belum dirilis disini.

CD: Ceritakan lebih lanjut mengenai album “Love Swings”. Bagaimana proses pengerjaanya, dan apa yang menginspirasimu untuk membuat album ini?
YB: Saya selalu ingin membuat album yang benar-benar menggambarkan saya. Dan saya sangat menyukai lagu-lagu great American songbook, dan lagu-lagu klasik jaman dulu. Perasaan yang menyenangkan saat mendengarkan lagu-lagu dengan full band. Namun menjadi tantangan tersendiri untuk menemukan lagu yang dapat dikemas menjadi lagu Yannick Bovy. Jika kamu melihat lagu semacam ‘If You Leave Me Now’ oleh Chicago yang dikemas menjadi bossanova, dan juga lagu-lagu baru yang merupakan ciri khas saya. Album ini memiliki alur yang bagus, karena setiap urutan lagunya membuat album tersebut make sense. Ada sentuhan jazz, swing, soul dan juga pop, tapi semuanya menggambarkan ciri khas saya. It’s about good times and about love.. Kami mengerjakan album ini dalam jangka waktu setahun, menemukan musik yang tepat, menulis lagu nya. Saya teringat tahun lalu saat saya mengisi acara private event di Jakarta bulan April. Saya seharusnya ke Bali setelah acara tersebut selesai, namun saya harus segera kembali ke Belgia untuk mulai proses rekaman album ini.

CD: Seperti yang kamu sebut sebelumnya bahwa kamu menulis ‘Valentine’. Kapan sih waktu yang tepat untukmu menciptakan sebuah lagu?
YB: Saya rasa kamu tidak bisa benar-benar menemukan waktu yang tepat untuk menulis lagu. Kadang-kadang inspirasi tersebut bisa datang tengah malam saat kamu tidur, atau seketika terlintas sebuah melodi atau sepenggal lirik. Tapi buat saya, yang penting kondisi saya tenang dan rileks, saat saya ada di rumah. Mungkin mengambil beberapa hari untuk bersantai dan menenangkan pikiran, baru saya bisa menulis. Inspirasi datang secara alami, tidak bisa dipaksakan. Saya bukan tipe orang yang menulis lagu setiap hari atau setiap minggu. Saya bisa menulis dalam beberapa minggu sekali atau bahkan beberapa bulan. Namun saya selalu membawa buku kecil, di dalamnya ada beberapa penggalan lirik. Dan di iPhone saya juga ada perekam untuk merekam suaraku sewaktu-waktu. Dan barang-barang itu cukup membantu saya untuk menulis lagu.

CD: Saat kamu membuat sebuah album, hal-hal apa yang kamu perhatikan dalam memilih materi untuk album tersebut?
YB: Album saya harus memiliki sisi romantis, sesuatu yang bisa menarik pendengarnya hingga larut dalam musiknya lewat lirik, jalinan musik orkestranya and the production of the songs. Dan juga harus bisa mengubah mood (menjadi lebih baik), transcendence and fun-making it. Jika kamu mendengar lagu ‘It Ain’t The Meat (It’s The Motion)’, lagu pertama dalam album Love Swings, dibuka dengan musik yang bombastis. Dan pada satu titik, (membuat album) seperti sebuah konser. Membuat sebuah album yang bagus sama seperti tampil dalam sebuah konser. Kamu harus bisa menggiring penonton untuk bersenang-senang di awal, kemudian sedikit santai di tengah-tengah, dan di bagian akhir kamu harus surprise them with something cool. Jika kamu mendengarkan sebuah album, harus seperti menyaksikan sebuah konser.
Dan jika boleh saya tambahkan, saya sangat menyukai organic feeling dalam keseluruhan produksi album ini. Jika kamu mendengarkan dengan jelas bunyi terompet, juga biola, kami benar-benar meningkatkan kualitas suaranya. Jika kamu bandingkan dengan kualitas produksi di album sebelumnya, terasa lebih kaya (akan soundnya). Dan saya sangat bangga dengan album ini. Saya bisa merasakan dengan jelas keberadaan saya di ruangan tempat saya merekam album ini, di setiap lagunya. Dan saya harap para pendengar pun bisa merasakannya.

CD: Apa perbedaan mendasar dari album “Love Swings” dibandingkan album sebelumnya?
YB: Seperti yang saya bilang tadi, it’s a much richer production.. Saya rasa ada keseimbangan antara materi baru dan materi “pinjaman”, termasuk juga dengan lagu-lagu sendunya. Mungkin agak sedikit mirip dengan album pertama saya Better Man, tapi terasa lebih dewasa. Umur saya juga sudah bertambah, dimana saya berumur 24 tahun saat merekam Better Man. Dan saya merasa, jika kamu berumur 24 tahun dan kamu menyanyikan lagu seperti “Let There Be Love” atau “Fly Me To The Moon”, maka akan terdengar cute dan fun. Dan dengan umur seperti saya menjelang 32 tahun akhir tahun ini, maka lagu-lagu tersebut akan terasa lebih cocok dengan kondisi saat ini. Dan saya berharap tahun-tahun terbaik saya masih akan datang dengan musik-musik seperti ini. Dan lagu-lagu ini seperti sudah tertanam di DNA saya.

CD: Jadi album “Love Swings” terasa lebih dewasa?
YB: Ya, lebih dewasa dibandingkan album sebelumnya. Tanpa mengesampingkan bahwa saya pernah membuat album seperti terdahulu, album ini terasa lebih dewasa dari musik, produksinya, serta segala aspeknya.

Yuk dengarkan interview selengkapnya disini:

Special thanks to Universal Music Indonesia!
Foto by Jeni Rahman
Editing by Danie Cung

Life. Music. Love. Fashion. A mixture of saint & stallion.

Comments

Leave a Reply

Related Articles

Artist Interviews | March 25, 2018 By

CreativeDisc Exclusive Interview with Shane Filan: Fans adalah Segalanya

Artist Interviews | March 22, 2018 By

CreativeDisc Exclusive Interview With Goo Goo Dolls: Penantian Selama 30 Tahun Yang Exciting

Concerts Review | March 12, 2018 By

Setelah 30 Tahun Berkarya, Akhirnya Goo Goo Dolls Hadir di Java Jazz Festival 2018