Quantcast

How Can I Move On From The Script Concert

By - 8 months ago in Concerts Review Reviews

Sulit untuk memulai dari mana saat harus menceritakan bagaimana berlangsungnya konser The Script yang diselenggarakan pada hari Selasa, 10 April 2018 lalu di The Kasablanka Hall. Konser yang digarap oleh Full Color Party ini sukser besar dan membuat semua orang yang hadir di sana pulang dengan membawa cerita bahagia masing-masing.

Konser bertajuk “Freedom Child Tour” ini dimulai sekitar pukul 8.30 malam dan berlangsung selama 2 jam. Meskipun begitu, antrian fans sudah mulai memadati The Kasablanka dari sejak siang hari. Venue konser dibagi ke dalam 2 kelas, yaitu : Golden (festival depan), Festival, dan VIP (seated area di belakang). Full house, semuanya terisi hingga ke spot-spot paling pojok The Kasablanka Hall.

Konser dibuka dengan pemutaran video dokumenter persembahan Full Color Party yang menampilkan kegiatan The Script sejak tiba di Jakarta, mulai dari kedatangan di bandara yang disambut banyak fans, interview dengan awak media, penampilan di Indonesian Idol, hingga persiapan mereka menjelang show. Sebagai intro, diputar juga video yang berisi arti “freedom” bagi banyak orang di berbagai belahan dunia.

Lagu “Superheroes” langsung menggema menjadi pembuka konser ini dan mengundang histeria penonton dengan kehadiran Danny yang memakai celana, kaos, dan blazer serba hitam. Mark mengenakan kaos hijau dan vest kotak-kotak berwarna merah, sedangkan Glen dengan sederhana mengenakan kaos lengan buntung berwarna hitam. Enam tahun berlalu, akhirnya para fans bisa kembali bertatap muka secara langsung dengan band asal Dublin – Irlandia ini. Suasana konser langsung memanas karena The Script menggeber penonton dengan lagu “Rock The World” dan “Paint The Town Green”.

Usai tiga lagu pertama, barulah The Script menyapa para penonton. Danny mengungkapkan kebahagiaan mereka bisa kembali tampil di Indonesia setelah sekian lama. Ia tak menyangka bahwa setelah bertahun-tahun, antusias fans di Indonesia justru malah jauh lebih besar. Danny kemudian mengambil gitar akustiknya lalu mengajak penonton menyanyikan lagu yang menurutnya “I’m sure you guys know this song”. Setelah Danny mulai memetik gitarnya, penonton langsung histeris karena pasti sudah bisa menebak lagu apa yang akan dibawakan: “The Man Who Can’t Be Moved”. 

Seketika verse pertama lagu ini dinyanyikan oleh penonton secara acapella. Tidak ada iringan musik, bahkan Danny tidak ikut bernyanyi, lagu legendaris ini dinyanyikan penonton dengan lantang. Hingga selesai di kalimat populer “how can I move on, when I’m still in love with you…”, barulah musik dimainkan dan The Script mengulang lagi lagu itu dari awal. It was magical! Sepanjang lagu, semua penonton kompak bernyanyi, bahkan ketiga personil The Script sempat terpana sambil tersenyum melihat penonton menyanyikan lagu itu sampai habis. Danny kemudian menunjukkan love sign dengan tangannya.

The Script melanjutkan konser dengan lagu “Wonders” di mana Danny bernyanyi sambil memainkan grand piano putih di atas panggung. Sebelum beralih ke lagu berikutnya, Mark mengungkapkan bahwa konser Freedom Child membawa pesan yang sangat penting bagi semua orang untuk bebas berekspresi. Lalu mereka membawakan lagu “Arms Open” dan “Nothing”. Interaksi dengan penonton tidak hanya dilakukan Danny, karena saat lagu “Nothing”, Mark memainkan gitar sambil turun dari panggung dan berjalan di pit tepat di depan penonton baris terdepan.

Ada yang lucu ketika The Script membawakan lagu berikutnya yaitu “No Man Is an Island”. Glen dengan sengaja ikut bernyanyi dan memplesetkan liriknya menjadi: “Snowman is from Ireland“. Kemudian sebelum chorus terakhir, Danny melakukan crowd control dan mengajak penonton saling merangkul kemudian meloncat 8 langkah ke kiri dan 8 langkah ke kanan. Akibatnya, crowd jadi agak rusuh karena banyak yang kehilangan posisi wuenak-nya. Tapi meski begitu, crowd control yang dilakukan membuat suasana jadi lebih fun.

Sadar para penonton mulai kelelahan setelah diajak SKJ, The Script meredakan suasana dengan lagu “If You Could See Me Now” dan “For The First Time”. Di lagu ini penonton sing along menemani Danny yang bernyanyi sambil memainkan keyboard. Ah, penonton ini.. katanya capek. Kok nyanyinya kenceng terus! Siap-siap besok paginya suara serak. Setelah itu panggung menggelap dan The Script kembali ke backstage. Suasana mereda hingga terdengar siuh sorak dari arah penonton area festival sebelah kiri. Ternyata beberapa staf sedang memasang panggung kecil dadakan di sana.

Tak lama kemudian The Script datang dan menaiki panggung itu. Otomatis kini giliran crowd di area festival yang rusuh karena berebut mendekati panggung kecil itu. Beruntunglah mereka yang sedari tadi berdiri di sana. Hal yang lebih mengejutkan lagi, Danny tampil dengan kemeja batik berwarna hitam-kuning dan membuat cewek-cewek di crowd hilang kendali. Sebelum memulai lagu, Danny memperkenalkan seseorang bernama Aldy, yang ternyata memainkan beatbox saat The Script membawakan lagu “We Cry”.

   

Lagu ke-dua yang dibawakan The Script di area festival adalah “Never Seen Anything Quite Like You” dan Danny menyanyi sambil bermain keyboard. Usai lagu ini, The Script meninggalkan panggung kecil itu dan menghilang sejenak. Tiba-tiba musik dimainkan tapi Danny tidak ada di panggung, hanya Glen dan Mark. Where’s Danny?

Kini giliran penonton di area VIP yang dikagetkan dengan kemunculan Danny di antara mereka, sudah kembali berbalut blazer hitam sampil menyanyikan lagu “The Energy Never Dies”. Sepanjang lagu ini, Danny berkeliling area VIP sambil menyalami penonton, melakukan selfie, bahkan tidak segan-segan mengambil beberapa handphone penonton dan merekam video dengan tangannya sendiri. Konser ini benar-benar full fan service. Semua orang merasakan kebahagiaan dan berada dekat dengan The Script.

Kembali ke panggung utama, The Script melanjutkan konser dengan lagu “Rain” yang membuat penonton tak henti-hentinya bergoyang. Apalagi di bagian “And it feels like, oh, oh, oh, oh, oh, oh… Oh, oh, oh, oh, oh, oh” yang terus diulang-ulang di bagian akhirnya. The Script kemudian kembali ke backstage selama beberapa menit, dan penonton mulai meneriakkan encore.

“We want more!”

“We want more!”

“We want more!”

Tidak butuh waktu lama untuk memanggil The Script kembali ke atas panggung. Konser dilanjutkan dan lagu “No Good In Goodbyes” pun dimainkan. Selesai lagu itu, Danny mengungkapkan bahwa salah satu alasan mereka kembali ke Indonesia, adalah karena mereka tau bahwa di sini ada lagu mereka yang sangat populer. Lagu legendaris dengan remarkable tagline “I’m falling to pieces…” pun dimainkan: “Breakeven”. Entah kenapa, suasana hati yang tadinya bergembira, tiba-tiba terbawa perasaan gara-gara lagu ini. Sihir The Srcript ini memang yaa…

Mark kemudian berkata bahwa lagu berikutnya adalah lagu terakhir. Berbeda dengan artist lain kebanyakan, The Script malah meminta penonton untuk mengangkat hp dan merekam konser ini. “Freedom Child brings an important messages about freedom of expression. Free to be whatever you want to be, love whatever you love. Share it to the world, on Facebook, on Twitter, everything!

Konser pun ditutup dengan lagu “Hall of Fame” dan dihiasi dengan letupan confetti di chorus terakhirnya. Lagu yang sangat megah untuk menutup konser tak terlupakan malam itu.

Mengakhiri konser, The Script tak henti-hentinya mengucapkan Terima Kasih. Danny bahkan membawa bendera merah putih dan berlari berkeliling stage sampil menyelimutkan bendera itu di punggungnya. “Kami berjanji akan kembali lagi ke Indonesia”, itulah pesan The Script sebelum akhirnya mereka benar-benar kembali ke backstage dan konser dinyatakan selesai.

Setlist :

  1. Superheroes
  2. Rock The World
  3. Paint The Town Green
  4. The Man Who Can’t Be Moved
  5. Wonders
  6. Arms Open
  7. Nothing
  8. No Man Is an Island
  9. If You Could See Me Now
  10. For The First Time
  11. We Cry (Festival Area)
  12. Never Seen Anything Quite Like You (Festival Area)
  13. The Energy Never Dies (VIP Area)
  14. Rain

Encore :

  1. No Good In Goodbyes
  2. Breakeven
  3. Hall of Fame

 

Teks : Jehoo

Photo : Budi Susanto & Jehoo

a weirdo, a dreamer, a freethinker. I'm on a diet but I'm not getting thinner.

Comments

Leave a Reply

Related Articles

Concerts Review Reviews | October 21, 2018 By

Panic! at The Disco Concert in Manila: Loud and Colorful!

Music News | June 6, 2018 By

INVASION 2018 Hadir Dengan Konsep Epic : Tempus Chronicles

Music News | May 23, 2018 By

Dituduh Menjiplak, James Arthur Dituntut The Script Ke Pengadilan