Quantcast

Album of the Day: The Carters – Everything Is Love

By - 5 months ago in Album of The Day

Parkwood / Columbia / S.C / Roc Nation

Siapapun tak akan membantah jika pasangan suami istri Beyoncé Knowles dan Jay-Z adalah power-couple terkemuka di industri musik masa kini. Keduanya sukses dalam karir dan memiliki hubungan pernikahan yang bolehlah dikatakan harmonis. Tapi, dari sekian tahun bersama, mengapa mereka belum pernah mengeluarkan sebuah album kolaboratif? Mungkin itulah pertanyaan yang ada di benak kita selama ini.

Rupanya pasutri ini akhirnya menjawab pertanyaan tersebut dengan secara mendadak menghadirkan sebuah album di bawah naungan moniker The Carters dan berjudul “Everything Is Love“. Album diungkap di konser gabungan “On The Run II Tour” terakhir mereka di kota London di tanggal 16 Juni. Dirilis tanpa pengumuman atau bahkan promosi sebelumnya. Benar-benar diniatkan sebagai kejutan.

Amunisi tracknya pun tidak banyak. Hanya ada 9 lagu yang mengisi album. Namun, dengan tambahan vokal antara lain dari Quavo dan Offset dari Migos, Ty Dolla Sign dan Pharrell Williams, album yang diproduseri langsung oleh Bey dan Jay-Z ini jelas mencoba untuk mengawinkan karakteristik musikalitas mereka secara pribadi yang sudah dikenal luas dengan “sense of artistic” yang juga bisa dikatakan berbeda.

Track dibuka dengan lagu soul bernuansa lawas berjudul ‘Summer’. Dengan tempo yang bergerak perlahan, Bey membuka lagu dengan vokal powerful-nya. Kita yang terbiasa mendengarkan Bey dalam lagu dengan produksi yang kaya sentuhan electronic kini bisa mendengarkan dirinya dalam lagu yang lebih raw dan stripped. Rap yang disajikan Jay-Z pun terdengar lebih laidback dibandingkan biasanya. Sebuah pembuka yang menarik.

Bukan berarti nuansa electronic yang edgy dihilangan begitu saja, yang dibuktikan dengan track kedua, sebuah trap kekinian yang jelas mengedepankan banger sebagai sajiannya, ‘Apeshit’. Hanya saja, tetap saja ‘Apeshit’ terdengar lebih low-key dibandingkan track-track club Bey sebelumnya.

Sepertinya low-key memang menjadi kunci dalam formulasi lagu-lagu dalam “Everything Is Love”. Kita bisa mendengarkan ‘Boss’ di mana Bey bernyanyi dengan agak flirty atau sisi groovy tawaran ‘Nice’ yang jelas lebih Jay-Z-centrist dibandingkan track-track sebelumnya yang harus diakui sangat kuat dengan aura Beyoncé.

Menarik memang pembagian “jatah” vokal di album ini. Setelah beberapa track pembuka yang sangat berorientasi kepada Bey, maka di paruh awal album Jay-Z lah yang mengambil alih dan sang istri bertindak sebagai backing-vocal-act, setelah ia mengambil posisi tersebut sebelumnya.

Maka rack-track seperti ‘713’ atau ‘Friends’ atau ‘Heard About Us’ adalah lagu-lagu hip-hop yang digerakkan oleh ketrampilan Jay-Z dalam merepet. Meski begitu, dibandingkan lagu-lagu Jay-Z sebelumnya yang terdengar lebih maskulin, kehadiran Bey dan aura feminitasnya jelas memberi pengaruh sehingga lagu-lagunya tidak terdengar mengusung machositas secara tebal.

Menjelang akhir, album menghadirkan ‘Black Effect’ yang dibuka dengan monolog oleh Dr. Lenora Antoinette Stines dan mengambil sampel lagu ‘Broken Strings’ yang dinyanyikan oleh Flower Travellin’ Band, Jay-Z dan Bey menegaskan konsistensi mereka dalam menyuarakan aspek politis tentang kultur kulit hitam yang selama ini diplintir, tersubjugasi, dan termarginalisasi.

Mungkin ada sentimen yang mengemuka, sebagai milyarder yang jelas tidak harus lagi memusingkan tentang subordinasi yang kerap mengancam komunitas kulit hitam, apakah Bey dan Jay-Z jujur dalam opini mereka. Hanya saja, sentimen seperti ini menjadi sumir saat Bey dan Jay-Z menghadirkan tribut yang mengharukan dan menyentuh untuk akar mereka dalam ‘Black Effect’ sehingga sentimen tadi pun menjadi luntur.

Album ditutup dengan ‘LoveHappy’, yang sebagaimana track pembuka, ‘Summer’, adalah sebuah track soul vintage. Hanya saja dibandingkan ‘Summer’ yang relatif “sleepy”, maka ‘LoveHappy’ terdengar lebih “lively” dan bergairah. Seolah-olah memberi indikasi jika akhir bukan berarti harus ditandai dengan melankolisme, melainkan semangat yang bergelora.

Dengan demikian “Everything Is Love” ditutup dengan not yang sempurna. Sepanjang 38.17 menit kita bisa mengalami pengalaman musikal yang genial dan berkelas. Penuh dengan komposisi melodi yang kadang subtil, kadang pula fierce, tapi berkelindan dengan padu dan pas, sehingga meski “Everything Is Love” terdengar seperti yang bisa kita harapkan dari Beyoncé Knowles dan Jay-Z, namun juga sesuatu yang berbeda.

Jika hasilnya seperti ini, mungkin memang baiknya The Carters harus lebih kerap dalam merilis album.

TRACKLIST

1. “Summer” 4:45
2. “Apeshit” 4:25
3. “Boss” 4:04
4. “Nice” 3:54
5. “713” 3:13
6. “Friends” 5:44
7. “Heard About Us” 3:10
8. “Black Effect” 5:13
9. “LoveHappy” 3:49

Love Film. Love Books. And Everything in Between.

Comments

Leave a Reply

Related Articles

Creative Disc Exclusive Single | November 13, 2018 By

Creative Disc Exclusive Single: 12 Nov 2018

Music News | By

Ashley Tisdale Rilis Single Barunya, ‘Voices In My Head’

Music News | By

Lorde Tuduh Kanye West Mencuri Ide Panggung Konsernya