Quantcast

Pendewasaan Paramore dalam Konser Keduanya di Indonesia

By - 4 weeks ago in Concerts Review

Penantian 6 bulan untuk menyaksikan Paramore secara langsung, terbayar sudah. Ribuan fans yang kecewa atas batalnya konser Paramore bulan Februari lalu akhirnya bisa bertemu dengan idola mereka. Perasaan yang sama juga dialami oleh band KOTAK yang tampil menjadi opening act untuk Paramore malam itu. “Rejeki memang gak kemana. Bulan Februari lalu saya juga datang untuk menonton, tapi konser batal dan saya sedih banget. Tapi siapa sangka, setelah konsernya ditunda, Kotak justru dipercaya untuk berbagi panggung dengan Paramore untuk menghibur kalian semua,” ungkap Tantri di sela-sela penampilannya.

“Untung kali ini Mbak Hayley ngga makan cireng!” candanya. Kotak malam itu membawakan 6 buah lagu, diawali dengan “Pesta”, dan dilanjutkan dengan “Terbang”, “Tinggalkan Saja”, “Haters”, “Tendangan Dari Langit”, dan ditutup dengan megah dengan lagu legendaris mereka: “Beraksi”.

Tantri yang mengaku pernah bertemu dengan Paramore pada tahun 2011 lalu, dulu sempat memberikan CD milik KOTAK, tapi ia tidak yakin Paramore sempat mendengarkannya. Saat itu Tantri begitu yakin bahwa suatu saat ia pasti bisa memperdengarkan lagu-lagu KOTAK pada mereka. Dan benar saja, malam itu Paramore pun menyaksikan penampilan Kotak dari samping stage dan memberinya tepuk tangan.

Thank you for growing up with us”, ucap vokalis Paramore Hayley Williams pada malam itu. Kata-kata tersebut mewakili apa yang terjadi pada konser kedua Paramore di Indonesia setelah tujuh tahun lamanya. Pada 2011 mereka masih sekumpulan band yang sedang mengalami krisis kepercayaan akibat hengkangnya Zac dan Josh dari grup ini dan menuduh bahwa para anggota band lain hanya memenuhi mimpinya Hayley ketimbang bekerjasama sebagai sebuah band.

It was a weird season for us”, ungkap Hayley di sela konser keduanya di Indonesia yang berlangsung pada Sabtu, 25 Agustus 2018 di ICE Hall BSD. “But now, after all the shit we’ve been through we’ve made it here.

Pendewasaan merupakan suatu kata yang tepat untuk konser mala mini dan dibuktikan lewat penampilan Paramore yang terdengar lebih santai dan tidak meluap-luap seperti penampilan mereka di tahun 2011. Hayley yang sekarang berumur 28 tahun membawakan lagu-lagunya lebih sigap dan nyaman ketimbang ketika ia berumur 21 tahun dimana jiwa mudanya masih terlalu membara.

Pembuktian pendewasaan itu terjadi setelah Kotak sukses menyalakan semangat para penonton dengan tata suara panggung yang jernih bahkan melebihi Paramore. Hayley langsung keluar dengan mengenakan blazer dan sudah siap untuk membakar penontonnya dengan serangan new wave yang enerjik. Penampilan pertama Hayley begitu keluar panggung seolah memadukan gaya dari dua sesepuh new wave yaitu David Byrne dari Talking Heads dan Debbie Harry dari Blondie.

“Grudges” dari album paling new wave mereka yaitu After Laughter dibawakan dengan menggairahkan lalu dilanjut dengan “Still Into You” dan “Rose-Colored Boy” yang sukses membuat penonton bergoyang seolah berada di era 80’an.

Paramore tidak mau kasih kendor di babak pertama konsernya dan langsung menggempur dengan lagu “That’s What You Get” dan “Crushcrushcrush” yang tentunya mengembalikan penontonnya ke masa-masa sekolahnya ketika mereka berbagi MP3 Paramore secara berjamaah via Bluetooth. Setelahnya lagu-lagu yang sedikit tenang dimainkan mulai dari “Fake Happy”, “Playing God”, dan “Forgiveness”. Penonton pun kembali pecah ketika “Ignorance” dimainkan dan menyulap panggung ICE menjadi panggung pensi anak SMA.

Selesai “Pool” dimainkan mereka turun panggung sejenak dan mereka memainkan musiknya sambil duduk di kursi untuk sesi chill out versi mereka. Lagu “Passionfruit” dari Drake sukses membuat penonton rehat sejenak dari gempuran karya Paramore yang cepat lalu disusul dengan “Misguided Ghosts” dan “26” yang seolah menjadi tempat bertumpahnya sisi emosional para penonton di sana.

Setelah merapikan kursi mereka langsung beralih ke katalog new wave mereka di After Laughter yaitu “Caught in The Middle” dan “Idle Worship”. Ketika “No Friend” dimainkan mereka berubah menjadi band noise rock/lo-fi dengan memainkan berbagai macam distorsi gitar, Hayley yang terkapar seolah menikmati deru dari bunyi gitar, dan Taylor yang menatap penonton dengan nanar sambil mencari noise.

Aksi teatrikal mereka tidak hanya sampai di situ pada “Misery Business” mereka mengajak dua penonton perempuan dari bawah untuk naik ke atas panggung dan diajak bernyanyi bersama di bagian akhir lagu tersebut. Penggemar yang beruntung tersebut langsung refleks memeluk Hayley Williams dan bernyanyi bersama. Salah satu yang beruntung berasal dari Surabaya dan langsung disambut penonton sebagai penggemar yang berdedikasi untuk mengorbankan waktu, uang, dan tenaganya untuk datang ke konser ini. Sebuah perjuangan yang berakhir dengan indah.

“Ain’t It Fun” berhasil membuat penonton sing along sampai musik berhenti dimainkan. Setelah menunggu beberapa saat mereka kembali ke panggung dan membawakan “Told You So”. Setelahnya giliran drummer Zac Farro mengambil alih panggung bersama proyek solonya ketika ia cabut dari Paramore bernama HalfNoise lewat lagu “All That Love Is” yang lengkap dengan nuansa synthpop dan arsiran indie pop bombastis ala alt-J.

Kulminasi dari konser malam itu tentunya ada di “Hard Times” dimana lagu ini menjadi penutup sempurna yang menandakan transformasi Paramore dari band pop punk yang bermain keras ke band new wave yang bermain secara ritmis dan lebih rapi. “Hard Times” sukses membawa penonton bergoyang ke titik puncaknya yang diakhiri oleh Hayley ketika ia mengatakan “And I gotta get to rock bottom!”.

Ada perbedaan yang cukup ketara di konser Paramore kali ini dimana ketukan-ketukan lagu emo mereka sedikit lebih tenang dan dibawakan dengan ketukan new wave dari Zac. Persona Hayley di panggung terlihat lebih menawan dan lebih dewasa ketimbang penampilan perdana mereka. Taylor juga secara ritmis juga membantu untuk menjaga nuansa new wave dan emo/pop punk yang tercampur pada malam itu.

Secara keseluruhan, konser Paramore yang kedua bukan hanya merupakan sebuah pertunjukan tetapi merupakan potret lengkap sebuah perjalanan dari masa remaja ke masa dewasa. Hayley terlihat lebih bijak di panggung dan sedang menikmati mimpi indahnya menjadi “the next Debbie Harry” serta Zac dan Taylor yang bermain lebih lepas seolah tidak ada lagi yang harus ditakutkan.

Setelah turbulensi yang hampir mengacaukan Paramore, mereka membuktikan dirinya bisa bangkit kembali dan menjadi lebih dewasa dalam bertindak sehingga konser pada malam itu menjadi bukti bahwa Paramore adalah mantan band emo yang paling hebat dan mampu diuji oleh waktu serta cobaan dan teriakan “WE ARE PARAMORE!” dari Hayley seolah menunjukkan bahwa band ini akan selalu ada meski terus ditimpa masalah dan gosip miring yang terus menerus menyerang Hayley. Sebuah proses menjadi dewasa yang sangat apik dann menyenangkan.

 

Teks: Lutfi & Jehoo

Photo: Sonic Live Asia / MCM Live

a weirdo, a dreamer, a freethinker. I'm on a diet but I'm not getting thinner.

Comments

Leave a Reply

Related Articles

Album of The Day | July 12, 2018 By

Album of The Day: CHVRCHES – Love Is Dead

Music News | June 28, 2018 By

Paramore Dikejar Buah-Buahan Dalam Video Trippy ‘Caught In The Middle’

Music News | May 11, 2018 By

Promotor Beri Kepastian Tentang Konser PARAMORE Agustus Mendatang