Quantcast

Album of the Day: Lady Gaga & Bradley Cooper – A Star Is Born

By - 3 weeks ago in Album of The Day

Interscope Records

A Star Is Born” adalah sebuah proyek film yang istimewa, tidak hanya bagi aktor kawakan Bradley Cooper, namun juga bagi sang Mother Monster, sensasi pop Lady Gaga. Bagi Cooper ini adalah debutnya sebagai sutradara. Sedang bagi Gaga, “A Star Is Born” adalah debutnya sebagai aktris utama dalam sebuah film. Dengan demikian film menjadi ajang pembuktian bagi kedua bintang ini.

Ternyata kerja keras mereka terbayar lunas, karena tidak hanya sukses besar di tangga box office, film juga mengangkat nama Cooper dan Gaga dalam kiprah mereka sebagai sutradara dan tentu saja aktris. Namun sebagai film yang kaya dengan unsur lagu, karena berseting dan berkarakter dunia musik dan penyanyi, maka tentu saja film yang diangkat dari film klasik berjudul sama ini tentunya menyajikan album soundtrack yang tak kalah menarik.

“A Star Is Born” berkisah tentang seorang penyanyi country-rock terkenal bernama Jackson Maine yang bertemu dengan pelayan restoran sekaligus penyanyi bar bernama Ally, karakter yang diperankan Gaga. Sebagaimana diduga, hubungan berkembang menjadi asmara. Sayangnya karir Aly sebagai penyanyi yang semakin melesat berbanding terbalik dengan karir Jackson yang semakin menurun sehingga menimbulkan friksi di antara mereka.

Tentu saja di sini kita tidak akan membicarakan filmnya, atau akting Gaga (yang mendapat banyak pujian dan bahkan digadang-gadangkan akan meraih nominasi Oscar), melainkan album soundtracknya. Ada dua versi yang dilepas untuk soundtrack “A Star Is Born”, versi standar dengan imbuhan banyak dialog dari film dan versi minus dialog. Yang akan kita bahas adalah versi kedua.

Soal vokal, tentu saja tidak usah diragukan lagi kualitas dari seorang Lady Gaga. Album soundtrack “A Star Is Born” menjadi bukti jika sang popstar yang dulu dikenal dengan gimik aneh-anehnya telah berkembang menjadi penyanyi kelas atas yang memiliki vokal matang, prima dan tentu saja penjiwaan yang luar biasa.

Mengingat karakter yang diperankan Cooper adalah seorang rockstar, maka album pastinya banyak dipenuhi dengan track-track rock, utamanya di paruh awal, sesuai dengan plot film di mana Ally yang diperankan Gaga menjadi asuhan Jackson Maine. Mendengar lagi-lagu seperti ‘Music to My Eyes’ atau ‘Diggin’ My Grave’, maka seolah kita kembali ke era album “Joanne” (2016) milik Gaga, di mana ia lebih mengedepankan sisi pop-rock dan Americana dalam lagu-lagunya ketimbang electropop yang dulu mengangkat namanya.

Gong-nya tentu saja lagu tema film, ‘Shallow’, sebuah balada menghanyutkan dengan hook kuat. Meski dalam film disebutkan karakter Cooper sebagai penyanyi yang lebih profesional dan berpengalaman, namun saat mendengar setiap kolaborasi Gaga dan Cooper di dalam album, sulit untuk menghindarkan kesan jika Cooper relatif keteteran dalam mengimbangi Gaga, yang tentu saja dimaklumi mengingat di kehidupan nyata posisi mereka justru berbalik. Oleh karenanya, terlepas dari betapa melodiknya lagu, ‘Shallow’ terdengar lebih berkesan saat hanya mengandalkan vokal Gaga.

Bukan berarti Cooper tidak memiliki kesempatan untuk bersinar. Balada ‘Maybe It’s Time’ yang folky merupakan salah satu track berkesan di dalam album. Walau tetap saja “A Star Is Born” merupakan ajang bagi Gaga untuk memamerkan versatilitas vokal dan pilihan musik yang dipilihnya.

Semenjak memulai karir di era album “The Fame” (2008), Gaga memang kerap menghadirkan lagu-lagu electropop catchy dan jelas-jelas menyasar pangsa radio dan chart top 40. Dalam perkembangannya ia terdengar melakukan eksperimentasi dengan musikalitasnya, termasuk mulai mengedepankan rock dengan lebih tebal di album “Artpop” (2013) dan tentu saja puncaknya adalah “Joanne”.

“A Star Is Born” dengan tegas mengedepankan sisi rockabilitas Gaga ini. Tapi yang paling patut menjadi perhatian adalah sajian pop tradisional yang disajikan Gaga dalam banyak lagu di dalam album. Lagu-lagu yang rasa-rasanya sulit untuk dibayangkan dulunya dinyanyikan oleh seorang Lady Gaga.

Mendengar ‘Always Remember Us This Way’ atau ‘Heal Me’ (yang dibantu tulis Julia Michaels dan Justin Tranters), kita seolah memasuki era artis pop era 90-an yang mengedepankan melodi pop simpel tapi kaya hook. Tidak ada sisi edgy atau tampil “nyeleneh” di dalamnya. Bahkan nyanyian Gaga terdengar lebih tradisional.

Puncaknya adalah power-ballad epik ‘Is That Alright’ atau ‘I’ll Never Love Again’ di mana Gaga seperti “meminjam” ruh dari Whitney Houston atau Celine Dion bahkan Adele! Bayangkan balada megah ala Dianne Warren, maka perasaan tersebut yang bisa didapat saat mendengar lagu-lagu tersebut. Padahal lagu bukan gubahan Warren, yang justru menyumbangkan lagu electropop bubbly bercorak tropical, ‘Why Did You Do That?’.

Berbicara tentang lagu electropop bubbly, album juga menyertakan beberapa di antaranya (seperti track di sebut di atas atau ‘Hair Body Face’), sehingga bolehlah melepas rasa rindu untuk mendengar Gaga bernyanyi dalam koridor pop seperti ini yang dulu membesarkan namanya, meski tidak “senyeleneh” lagu pop ala seorang Lady Gaga, mengingat di sini Gaga bernyanyi sebagai Ally, bukan dirinya.

Jadi, sebenarnya album soundtrack “A Star Is Born” sebenarnya adalah album dengan warna yang cukup beragam. Ada rock, ada pop, ada soul. Kandungan ini yang mungkin membuat ia terdengar belang-belang. Tapi sebagai album soundtrack, lagu-lagu ini justru melandasi naratif film dengan pas, apalagi bagi mereka yang sudah menyaksikan filmnya, yang utamanya tentang tema toxic relationship, proses transformatif dan kisah cinta yang tersaji berkat kekuatan musik itu sendiri.

Yang paling utama, soundtrack “A Star Is Born” membuktikan jika seorang Lady Gaga selalu bisa diandalkan dalam kemampuannya sebagai penyanyi. Ia bukan lagi seorang entertainer yang mengedepankan aksi teatrikal, tapi juga kualitas vokal mumpuni. Mendengar ia bernyanyi sekarang dengan dirinya satu dekade lalu bagaikan perbedaan antara kutub utara dan selatan. Tapi, yang paling penting, Gaga membuktikan jika perubahan arah musikalitas harus disandingkan dengan performa vokal yang semakin terasah. Dan inilah yang membuat “A Star Is Born” menjadi calon juara di hati kita untuk saat ini atau bahkan selamanya. An classic in making!

PS
Sebagian besar lagu dinyanyikan secara live sehingga menambah kesan naturalistik di dalamnya.

TRACKLIST

1. “Black Eyes” 3:03
2. “La Vie en rose” 2:59
3. “Maybe It’s Time” 2:39
4. “Out of Time” 2:52
5. “Alibi” 3:03
6. “Shallow” (radio edit) 3:37
7. “Music to My Eyes” 3:19
8. “Diggin’ My Grave” 3:57
9. “Always Remember Us This Way” 3:30
10. “Look What I Found” 2:55
11. “Heal Me” 3:16
12. “I Don’t Know What Love Is” 2:57
13. “Is That Alright?” 3:11
14. “Why Did You Do That?” 3:04
15. “Hair Body Face” 3:22
16. “Before I Cry” 4:18
17. “Too Far Gone” 1:26
18. “I’ll Never Love Again” (film version) (radio edit) 4:41
19. “I’ll Never Love Again” (extended version) (radio edit) 5:28

Love Film. Love Books. And Everything in Between.

Comments

Leave a Reply

Related Articles

Creative Disc Exclusive Single | November 13, 2018 By

Creative Disc Exclusive Single: 12 Nov 2018

Music News | By

Ashley Tisdale Rilis Single Barunya, ‘Voices In My Head’

Music News | By

Lorde Tuduh Kanye West Mencuri Ide Panggung Konsernya