Quantcast

Interview With Bruno Major: Padukan Jazz & Hip-Hop ala Kendrick Lamar Sebagai Media Curhat

By - 2 weeks ago in Artist Interviews

Mendengar nama Bruno Major tentunya agak sedikit menggelitik telinga sebagian besar orang. Ada yang langsung bertanya, apakah itu nama grup baru kolaborasi Bruno Mars dan Major Lazer? Tentu saja bukan. Bruno Major merupakan nama seorang musisi yang berasal dari UK, yang lagu-lagunya recommended untuk dimasukkan dalam playlist bagi kamu yang lagi galau. Penyanyi yang awalnya berkarir sebagai gitaris jazz ini bertandang ke Jakarta untuk mempromosikan album “A Song for Every Moon” yang dirilisnya tahun lalu. Dan Jakarta merupakan tujuan akhir dari rangkaian panjang turnya kali ini. Dan Creative Disc berkesempatan untuk bertemu langsung dengan Bruno Major, berkat kerjasamanya dengan Java Festival Production. Yuk, simak bincang-bincang singkatnya di bawah ini.

CD: Apa kabarmu?
Bruno Major: Sangat baik..

CD: Bagaimana pendapatmu mengenai Jakarta?
Bruno Major: Jadi, saya baru mendarat sekitar 4 jam lalu, dan saya langsung menghabiskan waktu saya dengan tidur. Saya belum melihat banyak.. Tapi apa yang saya lihat sejauh ini, saya suka dengan bir ini, yang disebut bir Bintang. Biasanya bir yang saya rasa seperti rasa bir pada umumnya, tapi yang ini terasa sangat nikmat. Dan ini adalah show terakhir saya dari rangkaian tur (Asia). Jadi, saya sangat bersemangat untuk tampil malam ini, tapi juga antusias untuk kembali ke kampung halaman saya untuk bertemu keluarga dan teman-teman saya. So, I’m in a very good mood.

CD: Bagi yang belum paham tentang kamu, bagaimana kamu menjelaskan mengenai jenis musikmu?
Bruno Major: Saya terinspirasi oleh musik jazz. Pada dasarnya musik yang saya mainkan adalah jazz. Penulis lagu favorit saya adalah musisi jazz lama, seperti Cole Porter, Jerome Kern, Jimmy Van Heusen dan saya memadukan gaya penulisan tersebut dengan produksi hip-hop dan elektronik modern, seperti Kendrick Lamar, J. Cole, Radiohead, James Blake juga D’Angelo serta influens dari musik klasik. Jadi bisa disebut jazz dengan sentuhan elektronik, jika mau disederhanakan.

CD: Bagaimana proses menulis lagu yang biasanya kamu lakukan? Apa yang menginspirasimu dalam menulis?
Bruno Major: Sebenarnya bukan sebuah proses, selalu berubah. Kadang-kadang yang keluar adalah liriknya duluan, baru saya tambahkan musiknya, namun kadang sebaliknya. Kadang juga bisa keduanya muncul bersamaan, dimana itu adalah yang terbaik saat jika musik dan lirik tercipta bersamaan. Kadang prosesnya berbulan-bulan dan pada akhirnya kamu buang begitu saja.
Saya bisa terinspirasi dari apapun, dari buku yang saya baca, film yang saya tonton, pembicaraan orang, apapun itu.

CD: Nuansa musikmu terdengar romantis tapi ada sisi gelapnya. Apakah itu berasal dari pengalaman pahitmu?
Bruno Major: Ya, saya mengalami jatuh bangun dalam hubungan (asmara) selama pembuatan album “A Song For Every Moon”. Jadi, sebenarnya jika kamu menyambungkan judul dari tiap lagu yang ada di album, akan memiliki sebuah makna. Setiap judul lagunya menceritakan pasang surutnya suatu hubungan.

CD: Lagu mana yang menjadi favoritmu untuk ditampilkan secara live?
Bruno Major: I love “Places We Won’t Walk”, lagu itu sangat spesial untuk saya. Saya suka “Easily”, karena lagu itu menjadi favorit banyak orang, jadi menyenangkan untuk membawakannya. Saya sebenarnya tidak mengerti apa yang orang keluhkan saat seseorang artis di panggung bilang ‘jangan keluarkan kameramu, jangan merekam, nikmatilah saatnya’, karena untuk saya itulah saat mereka (penonton) menikmatinya, mereka ingin mendokumentasikannya dan mengingatnya selama hidupnya, I think it’s really sweet.. Jadi saya akan membiarkan mereka melakukannya, I think it’s great. Kemudian saya juga suka “Just the Same”, saya sangat bangga dengan lagu itu.. Ya, saya suka semuanya.

CD: Pertanyaan terakhir dari saya, kamu merilis setiap lagu dari album “A Song for Every Moon” satu-persatu setiap bulan sebelum merilis secara keseluruhannya. Dari mana ide perilisan itu muncul?
Bruno Major: Saya ingin membuat sebuah album sejak lama, namun saya belum menemukan ‘sound’ yang saya mau. Saya punya lagunya, musiknya, namun belum punya ‘sound’ untuk albumnya. Dan jika saya membuat lagu, saya rasa itu lagu yang baik, dan saya tidak mau menunggu untuk jadi sebuah album dulu baru merilisnya. Saya hanya ingin merilis lagu yang sudah ada. Dan jika saya merasa antusias dan lagu tersebut masih ‘fresh’, maka saya yakin yang lainpun akan merasa demikian.

Life. Music. Love. Fashion. A mixture of saint & stallion.

Comments

Leave a Reply

Related Articles

Music News | November 13, 2018 By

LAUV Akan Hadir Kembali di Jakarta!

Music News | By

‘The Big Unknown’, Lagu Cinta Menyayat Hati Persembahan Sade

Concerts Review Reviews | By

Konser Penuh Cinta dan Kejutan dari “Yovie Widianto & His Friends”