Quantcast

Kenny G Berhasil Membius Penonton Dengan Alunan Saxophonenya

By - 1 month ago in Concerts Review

Seperti hari-hari kerja kebanyakan, lalu lintas di bilangan Kasablanka Jakarta Selatan selalu padat, apalagi di saat jam pulang kantor. Hiruk pikuk angkutan umum, ojek online dan pedagang kaki lima menyatu menjadi hal yang lumrah. Ini saat yang pas mengurai dan melenturkan penat aktifitas seharian bersama alunan nada dari penampilan Maestro Saxophonist Asal Amerika Serikat, Kenny G. Ya! Sang Maestro dijadwalkan tampil di Jakarta pada selasa (6/11) malam.

Kenny G adalah nama panggung dari Kenny Bruce Gorelick, Saxophonist kelahiran Amerika Serikat 62 tahun lalu. Telah merilis puluhan album studio, live dan greatest hits yang telah terjual lebih dari 75 juta copy menasbihkan dirinya menjadi salah satu maestro saxophone. Selain itu, Kenny G telah banyak berkolaborasi dengan banyak musisi dan penyanyi, Diantaranya bersama Whitney Houston, David Foster, Michael Bolton dan Tony Braxton.

Konser yang bertajuk One Night Only: KENNY G Live in Jakarta ini diprakasai oleh CK Star entertainment yang sudah malang melintang di bidang event management dan entertainment dari tahun 2001. Pihak promotor memilih The Kasablanka sebagai tempat konser tersebut, sebuah hall yang bertempat di lantai 5 Mall Kota Kasablanka Jakarta Selatan.

Setelah matahari terbenam, terlihat sudah banyak penonton mengantri untuk segera masuk ke area konser. Di dalam area konser, tempat duduk penonton terbagi berdasarkan kelas kategori, yang paling depan untuk kategori VVIP berlanjut kebelakang VIP, Platinum Soprano, Gold Tenor, Silver Alto, Bronze Bass. unik juga menamai kategori penonton dengan nama rentang nada vokal.

Ardhito Pramono didapuk menjadi pembuka konser Kenny G malam itu, singer-songwriter berusia 23 tahun asal Jakarta ini, mengemas setnya dengan piano elektrik, membawakan lagu lagu ciptaannya, seperti What do You Feel About Me, Fake Optics, Bitterlove dan menutup dengan Rayuan Pulau Kelapa ciptaan Ismail Marzuki.

Tak perlu jeda lama, intro musik mulai dimainkan, panggung yang megah itu penuh diisi oleh band pengiring tur Kenny G. Penonton nampak dibuat sedikit bingung, karena terdengar alunan saxophone yang meliuk liuk memainkan opening tune, namun Kenny G tak kunjung muncul di atas panggung, dan ternyata Kenny G berada di tengah-tengah penonton VVIP, semua penonton pun bersorak histeris.

Setelah memainkan intro yang cukup panjang Kenny G pun naik ke atas pentas melalui sisi sebelah kiri panggung, Kenny G membuka dengan tiupan nada panjang tanpa jeda, sedikit berbeda dari rekaman aslinya. Sembari menyapa penonton di sebelah kiri dan kanan meminta sedikit bantuan tepuk tangan, Kenny G masih terus menahan tiupannya. Tepuk tangan penonton pun riuh menggema di The Kasablanka. Kemudian instrumen lain pun mengambil bagiannya. Silhoutte, lagu yang dirilis tepat 30 tahun lalu disuguhkan dengan cantik.

Melanjutkan set awalnya dengan lagu G-Bop, lagu yang diambil dari album Breathless dirilis pada tahun 1992 silam. Lagu yang bertempo cukup cepat ini membuat penonton semakin terpacu mengikut setiap beatnya. “Thank you Very Much, Selamat datang terima kasih, sapanya kepada para tamu yang sudah hadir, maaf bahasa Indonesia saya tidak bagus, tapi akan saya coba”, sapa Kenny G. Yang kemudian dibalas dengan tepuk tangan penonton.

Ini merupakan konser kembalinya Kenny G di Jakarta, setelah terakhir ia bermain di sebuah festival Jazz di Jogjakata pada tahun 2015. “Saya, sudah sering datang ke Jakarta, saya sempat senang sekali menghibur disini, oh my goodness“. Ujarnya. Oke sekarang saya akan memainkan Silhoutte. Imbuhnya.

Actually the song is called Havana, i made a mistake. Tambahnya lagi. Penonton pun tergelak. Seraya keyboard dimainkan, Kenny G, mengambil saxophone sopranonya, kemudian memainkan intro Havana, lagu yang kental dengan nuansa bossa membuat penonton menghentak kaki kecil mengikuti irama lagu. Di bagian coda lagu, pemain perkusi Ron Powell beralih dari sisinya di sebelah kanan, maju mengambil posisi Kenny G di tengah depan. Ia membawa Pandeiro, sebuah instrument perkusi yang terlihat seperti rebana. Tanpa sapaan sedikit pun, Ron Powell kemudian memainkan pandeironya dengan beberapa pattern yang kemudian diikuti crowd clap dari penonton, sesi solo ini berhasil menutup set havana dengan meriah.

Nada pembuka dari piano terdengat tak asing, Kenny G mengimbuh dengan saxphonenya, diikuti oleh instrument lainnya, lagu Forever in Love pun disambut tepuk tangan penonton. Berlanjut dengan nomor klasik dari Joao Gilberto, Desafinado lagu yang rilis pada tahun 1959 memang sudah sering dibawakan Kenny G dibanyak konsernya, kental dengan aroma latin ini lebih rancak dari versi aslinya. Kenny G berganti instrument dengan Saxophone tenornya, memainkan nomor monumental yang sepertinya semua pencinta jazz mengenal lagu ini, Pick Up The Pieces dari Average White Band dibawakan ciamik oleh Kenny G, lagu dirilis sebagai single berkolaborasi dengan David Sanborn yang juga seorang pemain Saxophone.

Going Home, salah satu lagu yang sangat ditunggu oleh penonton di The Kasablanka pun dimainkan, semua penonton pun berdiri ingin mengabadikan momen langka itu dengan gawainya. Ada yang sekedar berjoget kecil mengikuti alunan nada di panggung. Rehat sejenak, sedikit memberi jeda setelah digempur lagu dan liukan nada saxophone. Ratusan penonton yang memenuhi hall seluas 2000 meter persegi ini terlihat didominasi oleh umur 30 tahun ke atas, sebagian berdandan necis dan glamor bersama pasangan atau kolega. Nampak juga yang masih berseragam kantor mengingat hari itu adalah hari kerja.

Dengan setelan jass berwarna biru gelap dan rambut ikalnya yang khas, Kenny G kembali menyapa penonton dengan memperkenalkan anggota band turnya, dari kiri ke kanan Piano dan keyboard – Robert Damper satu sekolah denganku saat SMA imbuh Kenny G, Gitaris John Raymond pada gitar kemudian di sebelahnya dengan set drum yang megah Danny Bejarano, yang tampil paling aktratif Ron Powell pada perkusi dan terakhir Vail Johnson pada bass. band ini telah bersama mengiringi Kenny G ke berbagai konser dan festival selama lebih dari 20 tahun.

Kemeriahan One Night Only Kenny G Live in Jakarta dilanjut dengan nomor yang kental nuansa oriental, jasmine Flower dimedley The Moon Represents My Heart dengan feel lagu yang sepertinya menyadur dari lagu Ni Wen Wo Ai milik Teresa Teng, membuat malam itu menjadi syahdu, tak sedikit dari penonton yang ikut bernyanyi Wo ai Ni dengan lirih.

The moment menggema di The Kasablanka disambut riuh penonton, nomor monumental dari Kenny G yang rilis pada tahun 1996 sedikit mengingatkan music video yang berkesan sering diputar pada awal kemunculan tv swasta di indonesia.

Total 17 lagu dibawakan oleh Kenny G pada malam itu di Jakarta. Termasuk hits single Songbird yang sangat dinanti, serta My Heart Will Go On, soundtrack Film epik Titanic yang juga dipopulerkan oleh Celine Dion, mewarnai set akhir. Pada Sesi Encore Kenny G memberikan dua lagu ‘bonus’ untuk penonton malam itu, Against Doctor’s Orders dan Theme Dying Young menutup One Night Only Kenny Live in Jakarta dengan manis.

Teks: Ardy
Photo: Budi Susanto

Comments

Leave a Reply

Related Articles

Concerts Review | December 13, 2018 By

JUDAS PRIEST – FIREPOWER WORLD TOUR 2018 in JAKARTA : METAL GODS Masih Tetap Beringas

Concerts Review | December 3, 2018 By

Berteman Bersama Franz Ferdinand Pada Malam Sabtu

Concerts Review | November 15, 2018 By

Guns N’ Roses Not In This Lifetime Tour Jakarta: Konser Reuni Yang Megah!