Quantcast

Super Generation Fest Sukses Leburkan Dua Generasi

By - 3 weeks ago in Concerts Review

Apa jadinya jika punggawa shoegaze dan dream pop dalam dua generasi yang berbeda bertemu dalam satu acara di tengah sejuknya suasana daerah atas Bandung? Hal tersebut terjawab dalam sebuah gelaran bernama Super Generation Fest 2018 yang diselenggarakan pada Sabtu, 24 November 2018 bertempat di El Dorado Dome, Bandung.

Punggawa yang telah disebutkan di atas diwakili oleh Ride untuk generasi pecinta musik shoegaze di era awal dan DIIV untuk generasi pecinta musik shoegaze di era penerus. Keduanya menjadi penampil utama dalam acara ini. Pemilihan Bandung menjadi tuan rumah acara ini seolah tepat karena Bandung sendiri mempunyai komunitas band dan pecinta musik ala british seperti shoegaze dan britpop yang sudah cukup kuat dan sempat meledak di era 90’an lewat berbagai macam band seperti Cherry Bombshell dan Pure Saturday.

Sebelum DIIV dan Ride melaksanakan tugasnya, giliran dua band lokal seperti Under The Big Bright Yellow Sun dan Rock n Roll Mafia yang memananskan suasana dengan permainan post rock dan electronic. Setelah kedua penampil lokal turun panggung. Kini giliran DIIV yang siap untuk menghibur generasi shoegaze saat ini dengan memakai dandanan seperti stereotip anak indie dan gigs yang sering dilihat di Instagram.

Dengan gaya yang slengean seperti layaknya band indie rock 90’an yang sleazy macam Pavement dan teman satu labelnya Mac DeMarco, DIIV seolah menjadi pahlawan baru bagi generasi muda yang menginginkan suasana santai dan mengawang-ngawang. DIIV muncul ke panggung dalam kondisi yang mungkin antara setengah teler dan setengah kesal karena berbagai macam kendala teknis terus bermunculan dalam penampilan mereka.

Personifikasi DIIV di panggung seolah menjadi personifikasi dari anak muda yang terkesan masa bodo, bebas melakukan apa saja tetapi masih terlihat canggung. Terkadang mereka ingin memanaskan suasana tetapi penonton tidak ngeh kalau mereka sedang ingin memanaskan suasana tetapi karena DIIV bersikap masa bodo penikmatnya juga bertindak demikian.

DIIV kebanyakan membawa lagu baru dan hanya membawakan tujuh lagu dari dua album lama mereka yaitu “Oshin” dan “Is the Is Are”. Lagu baru dari DIIV seolah memantapkan label mereka sebagai grup shoegaze dengan pembawaan musik grunge. Lagu baru DIIV penuh dengan distorsi ritmis dengan vokal lo-fi yang terus membuncah meluapkan perasaan kemarahan dan kegundahan masa muda. Wajar saja jika para penikmat DIIV pada malam itu langsung menerima pesan yang disampaikan DIIV dengan cara moshing di beberapa lagu dan melakukan crowd surfing gila-gilaan sampai badan hampir remuk.

Selesai DIIV memuaskan hasrat pemuda yang mau beranjak dewasa sekarang giliran penonton yang kebanyakan sudah beranjak dewasa menyaksikan Ride, sang idola di masa muda ketika masih semangat-semangatnya membuat band shoegaze yang ambisius atau setidaknya mirip-mirip sama Oasis ritmenya.

Setelah menunggu lama, pada sekitar jam setengah 11 malam Mark Gardener, Andy Bell, Steve Queralt, dan Laurence Colbert muncul. Gaya yang paling mencolok diantara mereka tentunya gaya Mark yang memakai blazer hitam, celana jeans dengan rambutnya yang botak seolah-olah bukan melihat legenda shoegaze tetapi seperti melihat penyanyi soul dan jazz. Tetapi dandanan seperti itu ternyata sesuai dengan gaya Mark di atas panggung. Selama di panggung Mark terus memberikan senyum, membungkukkan badan sambil berterima kasih bisa tampil di Indonesia untuk pertama kalinya, dan terus mengucap “hatur nuhun” dengan logat Oxford. Terlihat sangat rendah hati dan kebapakan, sedikit berbeda dengan musik yang dibawakan yang penuh dengan jeritan dan reverb gitar di sana sini.

Ride membawakan tembang lawas mereka bercampur dengan tembang baru mereka dari album “Weather Diaries”. Lagu-lagu legendaris mereka seperti “Seagulls”, “Dreams Burn Down”, “Leave Them All Behind”, “Drive Blind”, “Chelsea Girl’, “Vapor Trail”, dan “Taste” berhasil membawa penonton yang kebanyakan sudah berumur kembali mengingat masa lalunya bahkan sampai “Twisterella” diselipkan di tengah setlist sebagai bentuk rasa terima kasih dari Ride untuk yang punya hajat acara ini karena sangat tergila-gila dengan “Twisterella”. Mungkin karena faktor usia dan penampilannya yang sudah larut penonton Ride terlihat lebih kalem dan lebih santai dalam menghayati permainan Andy Bell yang terus menerus mengarsir gitar untuk mendapatkan noise yang sesuai untuk menenangkan penonton. Andy seperti seorang seniman shoegaze dimana gitar adalah kanvasnya dan tangannya ibarat pensil yang terus menerus mengarsir untuk mendapatkan harmoni shoegaze yang sempurna. Ride seolah membuktikan bahwa umur bukan menjadi halangan mereka untuk bermain musik seperti tiga puluh tahun yang lalu dan terdengar masih prima untuk memainkan nada-nada shoegaze yang mumpuni. Ada rasa keintiman, kerendahan hati, dan kelembutan yang ditawarkan Ride dibalik deru gitar yang terus menerus menyayat telinga dan pikiran.

Super Generation Fest berhasil meleburkan dua generasi penikmat shoegaze dalam satu malam dan tempat. Kedua penampil utamanya berhasil membuktikan bahwa shoegaze dan dream pop mampu menembus generasi dan penikmat dan bisa dilihat dari para penonton Ride yang menikmati aksi panggung DIIV begitu juga sebaliknya. Kedua penampil ini membutikan bahwa shoegaze dengan reverb mautnya masih mampu membius dan menangkap emosi penontonnya setelah tiga dekade musik ini dibuat dan dipopulerkan. Memang benar apa kata Andy Bell dalam konferensi pers acara ini.

‘Kami hanya memainkan reverb saja dan bisa pergi keliling dunia’

Lahir bersama Britpop, besar bersama Evangelion dan pop kultur

Comments

Leave a Reply

Related Articles

Concerts Review | December 3, 2018 By

Berteman Bersama Franz Ferdinand Pada Malam Sabtu

Music News | November 15, 2018 By

RIDE, DIIV dan Sederet Artis Rock Ramaikan Super Generation Fest 2018

Concerts Review | August 28, 2018 By

Pendewasaan Paramore dalam Konser Keduanya di Indonesia