Trending News

Blog Post

Album of The Day: Landon Pigg – The Boy Who Never
Album of The Day

Album of The Day: Landon Pigg – The Boy Who Never 

PhotobucketKetika tiba menjadi romantis, maka itu masanya Landon Pigg. Saat dia mengajak untuk ‘Falling In Love At A Coffee Shop’, maka bersiap untuk petualangan musikal dalam irama indie-pop yang ditingkahi oleh denting gitar akustik ala Pigg yang menghanyutkan. “I never knew just what it was about this old coffee shop / I love so much / All of the while I never knew / I never knew just what it was about this old coffee shop / I love so much / All of the while I never knew”. Wow!

‘The Boy Who Never’ adalah album kedua dari Landon Pigg, 26 tahun, penyanyi asal Nashville, Tennessee. Heran karena tidak mengetahui ‘LP’ (2006) album perdananya atau beberapa EP-nya terdahulu? Tidak perlu merasa seperti itu, karena Pigg bukanlah jenis penyanyi dalam ranah mainstream. Tapi, bukan berarti kita tidak bisa mencermati musik enigmatisnya.

Sungguh menyejukkan saat mendengarkan trek ‘The Boy Who Never’, yang diringi oleh bisikan marakas, ketukan lembut perkusi, alunan string mendayu dan denting gitar nan merdu. Sungguh jenis lagu yang paling pas sebagai eskapisme dari kerutinan sehari-hari.

Alternatif lain dapat ditemukan pada ‘Looks So Tired’ yang menyedihkan namun tak terasa melarat-larat. Atau mungkin ‘A Ghost’ yang menawarkan nuansa folk eklektik, dengan ritme yang naik turun, mengajak emosi pendengar besertanya.

Di produseri oleh Jacquire King, yang sebelumnya telah membantu Kings of Leon atau Tom Waits dan yang juga telah membidani album mutakhir Norah Jones, ‘The Fall’, maka musik-musik yang ditulis oleh Pigg menghadirkan romantisme yang disalut oleh musik yang jenial.

Mungkin romantisme musik Pigg bukan jenis balada menye-menye atau melulu soal cinta, akan tetapi komposisi musiknya berbicara dalam konteks yang mengizinkan kita untuk merasa romantis. Pigg dan musiknya meniupkan ruh untuk setiap lagu, menjadikan mereka hidup dan berbicara secara verbal maupun psikis terhadap pendengarnya.

Baiklah. Baiklah. Mungkin tidak semua orang akan mengalami pengalaman yang seperti itu saat mendengarkan album ini, akan tetapi Pigg jelas-jelas adalah musisi yang tidak hanya mengejar komersialisme dalam bermusik, melainkan memberi paradigma sendiri akan jenis pop yang ditawarkannya.

‘Take A Chance’ begitu soraknya. Dalam balutan atmosfir rock yang kental, Pigg menyebarkan optimisme. “But now I see what I’ve been missin’ / All this time I’ve took second guessin’ / Now I need… / To take a chance on me”

Coba simak ‘Made For Glory’, dalam musik minimalisnya, mengejar semangat yang sama, meski Pigg bernyanyi secara lebih lirih. Sedang pada ‘Speak To The Keys’ yang bernuansa retro 60-an ia bernyanyi dengan lebih riang.

Kesimpulannya, mendengarkan Landon Pigg mungkin akan larut dalam melankolia atau dinamisme. Dan, terimakasih untuk penggarapan musik Pigg yang dewasa, baik musikalitas maupun esensial, maka mendengarkannya tidak terasa menjemukan atau memabukkan, karena ‘The Boy Who Never’ menawarkan bahannya dalam takaran yang pas.
(Haris / CreativeDisc Contributors)

TRACK LIST:
01. This Far
02. A Ghost
03. Blue Skies
04. Falling In Love At A Coffee Shop
05. Take A Chance
06. The Boy Who Never
07. Made For Glory
08. Speak To The Keys
09. Rooftops
10. Look So Tired
11. If I’m Saying Nothing

TRIVIA:
Oh ya, Pigg juga baru saja membintangi debut aktingnya dalam ‘Whip It’ bersama Ellen Page, yang merupakan debut penyutradaraan bagi Drew Barrymore. Perannya adalah sebagai seorang musisi (tentu saja) yang menjadi object of affection karakter utamanya, yang diperani oleh Page.

Related posts

Leave a Reply