Trending News

Blog Post

Album of The Day: Florence + The Machine – Lungs
Album of The Day

Album of The Day: Florence + The Machine – Lungs 

PhotobucketFlorence + The Machine mulai mencuri perhatian saya saat muncul di situs Channel V Asia sebelum resmi mengudara lewat saluran kabelnya. Berkat acara BBC Introducing, F+tM mulai dikenal dan melesat di tengah kancah musik Inggris. Album perdana mereka, Lungs, yang menurut Flo sendiri lebih liar dan terurai, saat dirilis langsung mendarat di posisi kedua pada UK album chart selama 5 minggu berturut-turut di bawah posisi album Michael Jackson saat Juli 2009 lalu. Hebatnya album ini kembali naik di posisi puncak tangga lagu Inggris setengah tahun kemudian, selama dua minggu di Januari 2010. Lungs menuai pujian dari sejumlah media dan kritikus musik. Jauh sebelum albumnya terbit, saat single perdana ‘Kiss with A Fist’ dirilis pada pertengahan 2008, F+tM telah menjadi nama yang ramai dibicarakan para kritikus musik Inggris sebagai kesegaran di tengah kejenuhan atas fenomena Amy, Lily dan Adele. Single perdana ini akhirnya digunakan dalam soundtrack film Jennifer’s Body.

Dengarkan musik F+tM dengan perspektif baru dan terbuka. Mereka membawa musik pop yang unik dan eksentrik. Mungkin karena latar belakang pengaruh musik yang digemari Flo mulai dari Hole hingga Nirvana, Kate Bush sampai Celine Dion, membuat nuansa musik di album ini lebih berwarna dengan berbagai lapisan mulai dari indie pop, alternatif, soul, rock hingga sedikit aroma folk. Rasanya tepat jika Flo dibantu oleh Paul Epworth, produser pemenang berbagai penghargaan yang telah menangani Bloc Party, Kate Nash, Jack Penate dan The Rapture. Selain itu Steve Mackey dari Pulp juga turut membantu di album ini.

Sebagai pembuka adalah tembang ‘Dogs Days Are Over’. Dengan intro alunan ukulele, Florence membawa kita menuju klimaks dengan reffrein yang semarak lalu bermanuver kembali ke sela yang hening berganti-ganti. Sebuah tembang dinamis yang akan mengangkat mood pendengar. Intro ‘Rabbit Heart’ yang bertempo cepat segera mencuri hati saya dengan nuansa yang beraroma new wave dan retro pop 80-an. Lagu ini sendiri memiliki lirik yang tidak biasa, yang menjadi kekuatan Flo. Meski temanya seakan tentang patah hati dalam balutan tempo yang ceria, lagu ini sebenarnya mengisahkan ketakutan Flo menghadapi ketenaran.

Sementara lewat ‘I’m Not Calling You A Liar’ Flo bertutur tentang bagaimana rasanya jatuh cinta. Uniknya Flo melukiskannya secara ironis. Seakan ia menyadarkan bagaimana kita dapat membual tentang atau terbuai oleh rayuan gombal saat kita sedang jatuh cinta. Melodinya sendiri dan interpretasi vokal Flo malah lebih mirip meratap.
‘Howl’ sendiri merupakan sebuah komposisi orkestra yang megah. Beberapa dari lagu di album ini berkisah tentang kematian dan kekerasan. Menurut Flo sendiri tema apalagi yang dapat diangkatnya. ‘Kiss With A Fist’ adalah salah satu contohnya. Tembang ini sebuah kental dengan nuansa rock. Sementara liriknya sendiri sangat menyempal, mengisahkan tentang relasi cinta dalam ikatan yang unik. Flo sendiri nampaknya berupaya membuat ironi lebih baik dikecup disertai dengan tinju daripada tak merasakan kecupan sama sekali. Meski Flo sendiri mengisahkan bahwa lagu ini tidak mengisahkan tentang kekerasan domestic tapi lebih kepada hubungan cinta dengan kekuatan yang saling merusak. Tapi coba perhatikan liriknya rasanya pas sekali menggambarkan kondisi yang dialami sebagian orang dalam hubungan cinta mereka…

broke your jaw once before spilt your blood upon the floor
you broke my leg in return
sit back and watch the bed burn
well love sticks sweat drips
break the lock if it don’t fit
a kick in the teeth is good for some
a kiss with a fist is better than none

‘Girl with One Eye’ lebih kental dengan nuansa blues dalam balutan gitar yang khas. Sementara ‘Drumming Song’ yang menjadi single ke-4 dibalut dengan drum, piano, bass dan strings section. Lirik dari lagu yang diproduseri oleh James Ford ini gelap, hiperbola dengan metafora tentang bagaimana jatuh cinta dapat membuat seseorang menjadi begitu irasional. Komposisi berikutnya ‘Between Two Lungs’ lebih kental dengan ritmik yang perlahan tetapi kemudian bermanuver menjadi cepat di bagian tengah lagu sebelum kembali menjadi perlahan. Sangat dinamis. ‘Cosmic Love’ merupakan salah satu komposisi yang megah dengan solo petikan harpa mengalir hampir di sepanjang lagu. Salah satu lagu dengan lirik tentang kematian adalah ‘My Boy Builds Coffin’. Temponya begitu cepat. Sebuah komposisi yang terkesan seakan menertawakan kematian dengan harmoni antara lirik yang dipadukan nuansa riang dari lagu ini. ‘Hurricane Drunk’ memiliki melodi riang yang catchy akan membuat kita ingin ikut bernyanyi bersama. Sementara ‘Blinding’ yang lebih simple di awal berubah menjadi klimaks dengan gebukan drum yang megah di bagian tengah hingga akhir lagu.
Sebagai penutup di album ini F+tM membawakan ulang lagu dari The Source dan Candi Staton ‘You’ve Got The Love’. Interpretasi vokal Florence yang begitu kuat, membuat lagu ini seakan lagu asli F+tM sendiri. Memang gaya dan warna vokal Florence yang khas mampu membuat ciri yang kuat menempel di benak kita.
(Timmy / CreativeDisc Contributors)

Track List:
1. “Dog Days Are Over” (Florence Welch, Isabella Summers) – 4:12
2. “Rabbit Heart (Raise It Up)” (Welch, Paul Epworth) – 3:52
3. “I’m Not Calling You a Liar” (Welch, Summers) – 3:05
4. “Howl” (Welch, Epworth) – 3:34
5. “Kiss with a Fist” (Welch, Matt Alchin) – 2:04
6. “Girl with One Eye” (Alchin, David Ashby, James McCool) – 3:38
7. “Drumming Song” (Welch, James Ford, Crispin Hunt) – 3:43
8. “Between Two Lungs” (Welch, Summers) – 4:09
9. “Cosmic Love” (Welch, Summers) – 4:15
10. “My Boy Builds Coffins” (Welch, Christopher Lloyd Hayden, Rob Ackroyd) – 2:56
11. “Hurricane Drunk” (Welch, Eg White) – 3:13
12. “Blinding” (Welch, Epworth) – 4:40
13. “You’ve Got the Love” (Anthony B. Stephens, Arnecia Michelle Harris, John P Jr. Bellamy) – 2:48

Related posts

Leave a Reply