Trending News

Blog Post

Album of The Day: Diddy Dirty Money – Last Train to Paris
Album of The Day

Album of The Day: Diddy Dirty Money – Last Train to Paris 

InterscopeReleased by: Universal Music Indonesia

Pada masanya, Sean Combs, dengan nama panggung Puff Daddy atau P.Diddy, adalah nama yang sangat berpengaruh di skena Rap/Hip-Hop/R n B. Apalagi label Bad Boys Records miliknya seolah menjadi kawah candradimuka yang menggodok nama-nama yang sekarang cukup dikenal luas, seperti Notorious B.I.G., Mary J. Blige, Usher, TLC dan banyak lagi. Namun dengan berjalannya waktu dan masuknya nama-nama baru yang bertaji, namanya kemudian seolah menjadi sedikit diluar fokus perhatian. Akan tetapi Combs, yang sekarang dikenal cukup dengan Diddy saja, seolah tidak mau kalah untuk membuktikan jika ia masih sakti dalam menghasilkan materi bagus. Bahkan dalam album kelimanya yang berjudul Last Train to Paris ini ia mengajak duo Dirty Money untuk membantunya dan menambah semarak album tersebut.

Mengutip Wikipedia, Diddy menyebutkan jika album Last Train to Paris adalah sebuah album electro-hip-hop-soul funk, dan itu tidak salah sama sekali. Terdengar ambisius? Mungkin saja. Akan tetapi Diddy dapat dipertanggungjawabkan kredibilitasnya untuk menghasilkan sebuah album yang tematis dan terkonsep dengan matang. Disebutkan Last Train to Paris sebagai sebuah perjalanan dari London menuju Paris, berjumpa seorang perempuan, kemudian berpisah-bertemu-berpisah dan akhirnya bertemu lagi. Kalau kita mencermati kronologis penempatan track-tracknya, maka Last Train to Paris memang memiliki struktur seperti sebuah film tiga babak, dengan Diddy dan duo Dirty Money sebagai pemeran utamanya serta barisan pemeran pendukung yang tidak kalah berkelasnya. Menarik.

Lantas, selain sebagai sebuah album yang terkonsep, bagaimana dengan materi yang terdapat dialamnya? Jangan kuatir, ternyata Diddy masih mempunyai tangan yang sangat dingin dalam mengolah lagu-lagu yang berselubung atmosfir hip-hop yang kental namun tidak melupakan unsur pop yang ringan sehingga lagu-lagu dalam album ini menjadi mudah dicerna dan fun. Yang membedakan materi album ini dengan banyaknya rap atau hip-hop yang banyak beredar saat ini adalah keberanian untuk setia pada akarnya namun tidak menabukan unsur kekinian (baca: dance/elektropop) dan berhasil tidak terdengar jenerik atau pasaran.

Ladies and gentlemen, yeah, I’m here to tell you that this is a brand new sound. This, this will change your lives” demikian monolog yang mengawali Yeah Yeah You Would sebagai track pembuka album. Menegaskan bahwa kita bisa mengharapkan sesuatu yang baru dari Last Train to Paris. Dengan dibantu oleh vokal penyanyi senior yang eksentrik Grace Jones, track ini memang tepat sebagai pemanasan, disusul dengan sebuah anthem dansa-midtempo bergaya urban, I Hate That You Love Me dan langsung meningkatkan intensitasnya dalam Ass on the Floor yang mengandalkan drum-loop yang berderap dan Swiss Beatz membantu dalam vokal rapnya.

Unsur urban memang tampaknya diadopsi dengan cukup efektif oleh Diddy untuk mewarnai albumnya. Coba saja Someone to Love Me yang minimalis, soulful dan sekaligus hip. Sementara pengaruh trip-hop yang sensual dapat ditemui dalam Shades dimana Justin Timberlake, dibantu Lill Wayne, ngerap dengan lirih sedang James Faunterloy dan Bilal berduet dalam vokal yang harmonis. Nama-nama solois pria terkemuka lainnya, seperti Usher, Chris Brown, Trey Songz dan Drake memang diperdayagunakan oleh Diddy untuk menghasilkan materi yang tidak hanya kekinian namun juga variatif, karena masing-masing solois tersebut membawa ciri khas mereka dengan kental dalam tiap-tiap lagu mereka ditampilkan.

Untuk menghindarkan kesan steril tentu saja harus menyisakan lagu-lagu yang menguras emosi dan menggugah. Terseliplah Angel yang menampilkan rap Notorious B.I.G. yang telah tiada dengan imbuhan vokal Rick Ross yang terdengar seperti terluka dengan parah hatinya atau Coming Home yang menampilkan Skylar Grey yang sendu, mengiringi vokal utama Diddy yang ngerap dengan bersemangat dan optimistik.

Dengan banyaknya nama-nama beken yang membantu, memang pada banyak bagian nama Diddy-Dirty Money seolah terpinggirkan dan memberi banyak ruang untuk para pendukung tersebut. Namun saat mereka kemudian mendapat porsi mereka kembali, mereka memanfaatkan momen tersebut dengan maksimal dan gemilang. Duo Dirty Money yang terdiri atas Dawn Richard (dari kumpulan Danity Kane) dan Kalenna, tidak hanya menyumbang vokal yang kuat akan tetapi ternyata merupakan mitra kompak bagi Diddy dalam menulis banyak lagu-lagu bagus. Tidak heran jika Last Train to Paris adalah sebuah proyek kerjasama sebagai bentuk simbiosis mutualisme yang efektif dan tepat guna. Banyak yang menyebutkan jika Diddy adalah produser yang bertangan dingin namun sebaiknya menghindarkan menempati posisi vokal, karena kurang berbakat dalam melagukan rapnya. Mungkin Diddy bukan rapper terbaik sepanjang masa (pada beberapa bagian autotunes menjadi alat bantu yang harus disyukuri oleh Diddy), akan tetapi setidaknya ia mempunyai visi dan memperhatikan estetika. Pada akhirnya, Last Train to Paris seolah membuktikan bahwa ia masih nama terkuat dalam industri musik dunia.

Official Website

(Haris / CreativeDisc Contributors)

Rate This Album: [ratings]

Track List:
1. “Intro”  1:33
2. “Yeah Yeah You Would” (featuring Grace Jones) 3:42
3. “I Hate That You Love Me” 3:35
4. “Ass on the Floor” (featuring Swizz Beatz)  4:04
5. “Looking for Love” (featuring Usher) 4:18
6. “Someone to Love Me”  3:08
7. “Hate You Now” 4:10
8. “Yesterday” (featuring Chris Brown) 4:31
9. “Shades” (featuring Justin Timberlake, Bilal, Lil Wayne, James Fauntleroy)  5:57
10. “Angels” (featuring The Notorious B.I.G. & Rick Ross) 5:11
11. “Your Love” (featuring Trey Songz) 3:54
12. “Strobe Lights” (featuring Lil Wayne) 3:33
13. “Hello Good Morning” (featuring T.I.)  4:27
14. “I Know” (featuring Chris Brown, Wiz Khalifa & Seven of Richgirl)  4:31
15. “Coming Home”” (featuring Skylar Grey) 3:59
16. “Loving You No More” (featuring Drake)  4:05

Related posts

Leave a Reply