Trending News

Blog Post

Architecture In Helsinki Live in Jakarta
Concerts Review

Architecture In Helsinki Live in Jakarta 

Mendapatkan kesempatan ini memang cukup unik dimana saya harus berjuang untuk mendapatkan tiket gratis untuk menonton aksi dari Architecture In Helsinki, band indie pop dari Australia ini. Beruntung, Green Sands selaku official sponsor dari gigs ini memberikan free ticket ke saya (dengan sedikit drama juga sebenarnya) melalui akun twitter @GreenSandsID dan sontak saja saya benar-benar senang mendapatkannya karena gigs ini juga bertepatan dengan hari ulang tahun saya yang ke-17 yaitu tanggal 10 Maret.

Architecture In Helsinki mungkin asing bagi pendengar mainstream namun bagi khalayak pecinta musik indie dan juga alternative mereka sudah dikenal luas, band dari Australia yang terdiri dari Cameron Bird, Jamie Mildren, Sam Perry, Kellie Sutherland dan Gus Franklin ini dibentuk pada tahun 2000 ini sudah menelurkan empat album yaitu Finger Crossed (2003), In Case We Die (2005), Places Like This (2007), dan Moment Bends (2011) yang merupakan karya paling anyar dan paling digemari oleh penikmat musik tanah air. Mereka mengumumkan akan bertandang ke Jakarta dalam turnya untuk mempromosikan album barunya setelah kemarin mereka sempat datang ke Singapura di hari sebelumnya.

Konser sendiri bertempat di Fairgrounds yang dulunya lebih beken dengan nama Bengkel Night Park yang memang sudah menjadi tempat konser bagi artis-artis indie. Saya pun datang ke venue pada jam 18:00 untuk mengambil free ticket terlebih dahulu dan menunggu 2 jam sampai gate dibuka. Setelah memasuki ke arena konser saya harus menunggu lagi selama 42 menit untuk menonton opening act nya yaitu Bottlesmoker, sebuah duo asal Bandung yang memainkan musik ambient-trip hop-electronica yang bersandar pada mainan seperti Nintendo DS, Atari, Lonceng, dan juga gelembung mainan. Penampilan duo yang sukses membawakan musik dengan megah, pyshcedelic dan juga mengawang ini menghibur penonton dan memberikan pemanasan yang sejuk untuk menunggu AIH maju. Bottlesmoker juga unik dari segi penampilan dan kostum dimana mereka menggunakan baju astronot dan juga tutup kepala suku Indian (mirip sama apa yang dikenakan oleh Jamiroquai) dan memang musik yang ditawarkan juga benar-benar pumping, gila dan unik. Setelah Bottlesmoker main selama 45 menit, mereka pamit undur diri dan saatnya DJ Imam Darto yang mengisi acara. Namun sayang debut penyiar radio ini sebagai DJ terkesan gagal karena kurang begitu mendapat antusiasme dari penonton dan track yang dipilihnya juga tidak sesuai dengan sikon sehingga cukup menimbulkan kegaringan di sela waktu acara. Setelah menunggu terlalu lama untuk melihat AIH tampil, akhirnya pada jam 22:09 mereka akhirnya maju ke panggung dengan tampilan yang mayoritas berbaju biru. Pembuka lagu yaitu “Desert Island” dimainkan, yang cukup membuat Fairgrounds bergoyang lalu dilanjutkan dengan “Hold Music”, masuk ke “Like It Or Not” penonton sudah mulai panas dengan handclapping oleh massa. Mereka melanjutkan dengan “Souvenirs” yang jarang dimainkan oleh mereka. Lagu kelima mereka memainkan “Everything’s Blue” dan pada saat “That Beep”, pecahlah Fairgrounds dengan euphoria dance yang mereka tawarkan di lagu ini. Lagu yang sangat familiar di telinga ini memang dibawakan secara apik oleh mereka dimana mereka tidak tak berhenti berdansa dengan penonton lewat lagu ini. Lagu ini juga lagu yang pumping dan unik secara komposisi dan di ending lagu chant “That beeep, beeep, beep” tak dapat dielakkan lagi. Keith Sunderland sang vokalis cewek dari band ini masih bernyanyi di lagu selanjutnya yaitu “Denial Style”, dengan set yang minimalis mereka bisa memanfaatkannya dengan baik. Cameron Bird mengambil alih vokal utama dan berujar “This song for the video game lovers” sebelum memulai lagu kedelepan dan tentu saja itu pertanda bahwa “Escapee” akan dimainkan. Thanks to game FIFA 2012 yang telah memperkenalkan lagu ini kepada khalayak ramai sehingga lagu ini menjadi the most-known song untuk penonton di Fairgrounds. Tentu saja ketika lagu ini dimainkan suasana konser pun naik kembali. “Debbie” menjadi lagu tereksentrik mereka di sepanjang konser dengan teknik rap yang rapi dan permainan yang ciamik. Lagu kesepuluh yaitu “It’5!” mereka memainkan pertunjukan satu keyboard untuk berdua. Track ini benar-benar catchy dengan mengandalkan unsur electropop. “Do The Whirlwind” merupakan lanjutan ke-groovy-an dari yang sudah mereka tumpahkan di lagu sebelumnya. “Wishbone” menjadi lagu yang unik dimana beatnya turun lalu naik kembali lalu turun kembali. Keith mengambil alih vokal pada lagu ini dan dia sempat melakukan solo gitar. Dan track kesukaan saya yang cukup mellow dan sedikit berdown ria yaitu “W.O.W.” juga dimainkan dimana Keith sendiri benar-benar menjadi diva dengan suaranya yang lembut dan merdu terdengar. Sebuah cover dari Kim Carnes yaitu “Bette Davis Eyes” juga dibawakan oleh mereka pada “I Know Deep Down” mereka bermain sangat enerjik demi menjaga penonton berdansa. Lagu yang paling saya tunggu yaitu “Contact High” dimainkan dimana performance mereka benar-benar mencapai puncaknya. Selesai “Contact High” mereka berpamitan sebentar dan penonton tahu bahwa ini adalah trik untuk encore. Benar saja, mereka akhirnya membawakan 2 lagu lagi yaitu “Maybe You Can Owe Me” dan “Heart It Races” yang sukses membuat penonton memainkan koor “o o o” serasa di hutan.

Dan sekian juga konser Architecture In Helsinki kali ini, permainan yang mumpuni dan juga sound system yang epik membuat gigs ini semakin berkesan. Mereka juga menawarkan konser yang unik dan bagus meski dengan set yang begitu minimalis. Sebuah kado yang indah dan epik di hari ulang tahun ke-17 saya dan dirayakan bersama mereka.

Thanks to @GreenSandsID yang memberi kesempatan menonton aksi band yang hebat ini. 😀

Photos courtesy of freemagz.com

(Luthfi / CreativeDisc Contributor)

Related posts

Leave a Reply