Trending News

Blog Post

Album of The Day: Dev – The Night The Sun Came Up
Album of The Day

Album of The Day: Dev – The Night The Sun Came Up 

Released by: Universal Music Indonesia

Who is Dev? Well, you might know her from that Far East Movement hits single, Like A G6. Akan tetapi, penyanyi asal California, Amerika Serikat yang bernama asli Devin Star Tailes ini, harus berterimakasih kepada duo The Cataracs yang menemukan “bakat” Dev melalui situs MySpace-nya. Setelah itu semua tinggal sejarah. Setelah wara-wiri membantu banyak artis lainnya, akhirnya Dev pun berkesempatan untuk merilis album debutnya, yang bertajuk The Night The Sun Came Up pun rilis.

Sebelum album ini rilis, Dev juga telah merilis beberapa single sekaligus videonya sebagai pemanasan, sebut saja Bass Down Low, Fireball, Bounty Bounce, Take Her From You dan Killer. Sayangnya untuk album The Night The Sun Came Up yang beredar di Indonesia, lagu-lagu tersebut tidak masuk ke final cut, namun bisa ditemukan dalam versi-versi lainnya seperti repackaged untuk keluaran Inggris. Namun kelebihannya adalah kita dapat menyimak album yang mengandung lagu seperti Naked, single terbaru Dev yang menampilkan Enrique Iglesias.

Terlepas dari masalah teknis perilisan dan kandungan materi, satu yang pasti dalam album The Night The Sun Came Up, Dev menunjukkan jika ia adalah seorang penyanyi yang berkharisma dan bukan seorang bintang instan. Secara kualitas vokal, Dev memang tidak terdengar luar biasa sehingga akan terasa naif jika mengharapkan ia hadir dengan nyanyian penuh teknik juara atau melengking tinggi dan membahana. Andalan Dev adalah bagaimana suara manisnya menyatu dalam degup elektro-pop ringan namun menghanyutkan. Yep, it’s an pop album in its very core.

Tapi jangan salah juga. Ini bukan sekedar pop. Mendengarkan The Night The Sun Came Up, kita percaya jika Dev bersama produsernya, The Cataracs, mempunyai visi yang cukup luas dalam konsep pop yang mereka usung. Jadi album ini tidak melulu berisi track-track dance yang seru namun juga tak terlupa memasukkan semangat rock dan subtilitas kedalamnya. Dev menyebutkan jika ia bukanlah seorang rapper, melainkan menerapkan teknik singtalk. Mengingatkan akan Ke$ha, akan tetapi kelebihan Dev adalah ia juga berani untuk bernyanyi dengan secara lebih utuh. Pada beberapa lagu ia terdengar sensual, namun disisi lain ia berani tampil garang.

Single paling sukses dari album ini mungkin adalah In The Dark. Dengan mengambil sampel lagu I Like to Move It milik Reel 2 Real (1994), In The Dark adalah sebuah anthem club yang panas dan menggoda. Alih-alih nge-rap, Dev menyebutkan gaya vokalnya sebagai sing-talk, sebuah justifikasi ang cukup layak, karena jujur saja, jika disebut nge-rap, gaya dan artikulasi Dev memang tidak luar biasa, jika tidak mau disebut biasa-biasa saja. Namun dengan gaya “bernyanyi sambil berbicara” yang dilakukannya, single ini malah terasa lebih seksi dan adiktif. Kesan sensual lain dapat ditemukan dalam single terbarunya, Naked yang merupakan elektro-dance yang memikat dan sensual. Dev pun memilih untuk bernanyi ketimbang nge-rap disini, menemani vokal Enrique. Meski tidak luar biasa, namun vokal mereka cukup berakarakter dan berpadu dengan cukup baik dan mengena.

Album dibuka dengan Getaway yang awalnya dibuka dengan lirih dan berbau rock sampai masuk bagian tengah saat tiba-tiba aransemen berubah menjadi elektronika dengan pengaruh Hip-hop. Setelah itu album langsung menghajar pendengaran kita dengan In My Trunk yang sangat nge-beat, berdentum dan intens. Keseruan tersebut dapat ditemui juga dalam Lightspeed atau Breathe. Sejenak melepas sensasi elektro-house ada pula Kiss My Lips yang meski tetap mengandalkan beat elektronika, akan tetapi hadir dalam tempo yang lebih perlahan.

Dev pun tidak melulu membiarkan kita bergoyang-goyang mengikuti irama lagunya karena album juga menyediakan Dancing Shoes, salah satu track terbaik milik album ini. Dengan aransemen ala pop-rock, Dev bernyanyi dengan sangat lembut, diiringi dengan musik yang meski penuh dengan semangat namun terasa sangat manis. Atau jangan lupakan juga Perfect Match sebuah pop manis yang terdengar lebih organis ditengah dentuman musik mesin di album ini. Kesan romantis dan cute adalah andalan utama dari lagu ini. Album pun dengan sempurna ditutup dengan Shadows yang bergaya ala pop-folk-akustik meski tetap mengusung elektro-pop sebagai balutan utama. Hanya saja, dengan tempo yang bergerak sedang, Shadows menjadi terasa tepat sebagai lagu yang berfungsi sebagai penutup album. Cool and sweet. Harus dicatat, lagu-lagu ini berhasil karena vokal Dev yang mampu membawakan lagu-lagu tersebut dalam gaya yang jauh lebih subtil dibanding biasanya.

Futuristik dan kekinian mungkin kesan yang lekat dalam album The Night The Sun Came Up, akan tetapi album ini tidak lantas menjadi steril dan gersang, karena kita masih bisa merasakan sentuhan humanis yang manis di dalamnya. Secara fisik, Dev terlihat urakan akan tetapi jangan sampai kesan secara fisik mempengaruhi penilaian terhadap dirinya dan album debutnya ini. Dengan sensitifitas berseni yang berpadu dengan semangat pop-komersil debfganb sangat baik, tidak heran jika kemudian Dev terlihat cukup menonjol ketimbang barisan penyanyi baru yang banyak beredar akhir-akhir ini. Overall, The Night The Sun Came Up adalah album yang pantas untuk disimak dan sangat ditunggu gebrakan berikutnya dari seorang Dev.

Official Website

Rate this album: [ratings]

(Haris / CreativeDisc Contributor)

TRACKLIST
1. “Getaway” 2:21
2. “In My Trunk” 3:18
3. “Me” 3:37
4. “Naked” (with Enrique Iglesias) 3:58
5. “Lightspeed” 4:00
6. “Breathe” 3:40
7. “Dancing Shoes” 5:03
8. “Perfect Match” 3:19
9. “In the Dark” (featuring Flo Rida) 3:48
10. “Kiss My Lips” (featuring Fabolous) 3:51
11. “Shadows” 4:23

Related posts

Leave a Reply