Trending News

Blog Post

Album of The Day: The Smashing Pumpkins – Oceania
Album of The Day

Album of The Day: The Smashing Pumpkins – Oceania 

OceaniaOceania adalah bagian dari proyek ambisius The Smashing Pumpkins yang diberi judul Teargarden by Kaleidyscope, yaitu serangkaian lagu (44 buah) yang dirilis mulai Desember 2009. Sejauh ini, termasuk Oceania, jumlah yang dirilis oleh band pengusung rock alternative ini masih mencapai separuhnya, sehingga bisa dipastikan akan masih ada beberapa lagu lagi yang akan dirilis oleh band yang digawangi oleh Billy Corgan ini. Adapun proyek ini diniatkan sebagai gerakan kembali ke akar yang dilakukan oleh The Smashing Pumpkins, yang pastinya untuk mempertegas eksistensi mereka sebagai salah satu band lawas yang masih mampu menjaga keberadaan diri mereka.

Meski The Smashing Pumpkins hanya menyisakan Corgan sebagai anggota asli, dengan Jeff Schroeder (gitar), Mike Byrne (drums) dan Nicole Fiorentino (bass) yang kini menjadi motor penggerak band ini, namun tampaknya Corgan memang memiliki kekuatan tensendiri yang susah dibantah karena Oceania jelas-jelas memiliki segala kekuatan psychedelic rock yang dulu membesarkan nama The Smashing Pumpkins. Mendengarkan album ini seolah-olah membawa kita pada kejayaan mereka di dekade 90-an yang lalu. Banyak materi yang dengan tegas mempertunjukkan kemampuan Corgan dalam menyajikan lagu-lagu rock yang grungy namun tetap harmonis.

Well, there’s a reason you don’t see Iha or Wretzky–it’s because I don’t need them. I don’t need anyone. I only need myself.” Demikian kata Corgan. Sebuah pernyataan yang terdengar arogan, namun ternyata rasa percaya diri yang besar tersebut memang adanya. Oceania masih menghadirkan lagu-lagu yang kuat yang memadukan antara hooks, distorsi dan lirik yang menarik. Album dibuka dengan Quasar, sebuah nomor up-tempo yang cukup predictable dan mengingatkan akan materi di album debut mereka, Gish (1991), untuk diletakkan sebagai nomor pembuka. Riff gitar yang bising dipadu dengan gebukan drum yang gencar. Vokal Corgan sendiri terdengar eklektik, berpindah-pindah dari gahar dan lembu dengan sekenanya.

Terlepas dari nomor pembuka yang mengindikasikan sebuah album rock yang riuh, namun Oceania sebenarnya dipenuhi dengan banyak lagu-lagu yang berjalan dengan tempo yang relatif lebih sedang, tidak berapi-rapi meski tetap berada di dalam koridor rock yang jenial. Track kedua, Panopticon, sudah langsung menyambangi kita dengan gaya bernyanyi Corgan yang megawang, meski distorsi masih menjadi bagian yang tak terpisahkan. The Celestial, yang menjadi single andalan Oceania jelas menunjukkan jika The Smahing Pumpkins bertujuan untuk menunjukkan sisi melankolis mereka. String section dan gitar akustik awalnya menjadi teman bernyanyi Corgan, sebelum drum dan gitar listrik juga mengambil bagian, namun melankolis tidak pernah bergerak jauh.

Lagu-lagu berikutnya pun hadir dalam gaya melankolis tadi, seperti Viloet Rays, My Love is Winter, Oceania, dan Pale Horse. Lagu-lagu ini bermain dalam tempo-tempo sedang dengan sentimentalitas serta melankolisme yang tebal. Bahkan di lagu seperti One Diamond, One Heart, The Smashing Pumpkins meminggirkan kekuatan rock mereka dan memilih bermain-main di ranah synth pop. Namun jangan harapkan synth-pop yang berdefup dengan irama dansa yang kencang karena lagi-lagi melankolisme tadi menjadi tema utama. Nomor minimalis pun dapat ditemui dalam track yang berjudul Pinwheels, namun kali ini tempo bergerak dengan sedikit lebih cepat.

Corgan bernyanyi dengan penuh perasaan di tiap lagu, yang sesuai dengan mood dan atmosfir yang diusung oleh lagunya. Bahkan di nomor bertempo cepat dan lebih kental dengan nuansa rock seperti The Chimera, Corgan tidak pernah benar-benar membiarkan dirinya untuk terjerat euforia untuk tampil gahar. Dengan jangkauan vokal yang tertahan, vokal Corgan terdengar lebih lirih berbanding terbalik dengan distorsi yang menyelubungi lagunya.

Ini seharusnya memang tak aneh, karena bukankah Corgan memang kita kenal dengan pendekatan ini pada beberapa album The Smahing Pumpkins dengan contoh paling konkrit mungkin adalah Adore (1998). Namun alih-alih membalut lagunya dengan elektronika, semua track hadir dengan lebih organis dan mengingatkan kejayaan The Smashing Pumpkins pada album Siamese Dream (1993) atau yang paling ambisius, Mellon Collie and the Infinite Sadness (1995). Hanya saja tone dan tema di dalam Oceania tidak pernah benar-benar terdengar gahar karena seperti telah disebutkan tadi, Corgan tampaknya memilih bermain-main dengab melankolisme.

Akan tetapi jangan kuatir, karena Oceania masih menyimpan kekuatan seorang Billy Corgan dan The Smashing Pumpkins. Setiap lagu yang terdapat dalam Oceania menyenangkan untuk disimak. Mungkin tidak mencapai fase phenomenal seperti gebrakan mereka dulu akan tetapi bagi yang kangen dengan semangat rock ala The Smashing Pumpkins, jelas Oceania harus disimak. Mengingat proyek Teargarden by Kaleidyscope belum lagi kelar, jelas dalam waktu dekat kita masih akan mendengarkan kerja kreatif Billy Corgan dengan The Smashing Pumpkinsnya.

Official Website

(Haris / CreativeDisc Cobtributor)

TRACKLIST
1. “Quasar” 4:55
2. “Panopticon” 3:52
3. “The Celestials” 3:57
4. “Violet Rays” 4:19
5. “My Love Is Winter” 3:32
6. “One Diamond, One Heart” 3:50
7. “Pinwheels” 5:43
8. “Oceania” 9:05
9. “Pale Horse” 4:37
10. “The Chimera” 4:16
11. “Glissandra” 4:06
12. “Inkless” 3:08
13. “Wildflower” 4:42

Related posts

Leave a Reply