Trending News

Blog Post

September Artist Highlight – Esperanza Spalding
Reviews

September Artist Highlight – Esperanza Spalding 

Image and video hosting by TinyPic

Esperanza Spalding, dara kelahiran 18 Oktober 1984, telah aktif dalam karir di dunia musik sebagai penyanyi semenjak tahun 2000. Namun namanya mulai dikenal banyak orang setelah memenangkan gelar Best New Artist pada ajang Grammy Awards 2011 yang lalu. Padahal ia sebelumnya telah menghasilkan tiga buah album bercorak jazz, yaitu Junjo (2006), Esperanza (2008) dan Chamber Music Society (2010). Siapakah sebenarnya Esperanza Spalding?

Esperanza dibesarkan di daerah King, Portland, Oregon, oleh ibunya yang berstatus sebagai single parent. Perpaduan aneka ras dari ayah (Afrika-Amerika) dan ibunya (Welsh, Native-American, Hispanik) menyebabkan Esperanza memiliki fisik yang eksotis. Bakat seninya mungkin diturunkan oleh ibunya yang dulu nyaris pernah menjadi penyanyi pula. Meski menyebutkan sang ibu sebagai pemberi pengaruh utama dalam kecintaanya akan musik, Esperanza juga menyebutkan jika penampilan celloist terkenal Yo-Yo Ma di salah satu episode Mister Roger’s Neighborhood saat ia berusia empat tahun, yang mencetuskan semangatnya untuk mengejar karir dalam bermusik.

Saat ia berusia 5 tahun, dia bahkan secara otodidak belajar memainkan biola dan kemudian bermain bersama Chamber Music Society of Oregon yang dilakukannya sampai ia berusia 15 tahun. Dalam rentang usia ini, Esperanza juga belajar bermain gitar, oboe, klarinet dan juga bass. Sungguh suatu bakat yang luar biasa untuk anak semuda itu. Ditambah lagi dengan kepiawaiannya dalam menguasai berbagai bahasa seperti Spanyol dan Portugis, selain bahasa Inggris, tentu saja. Meski begitu, Esperanza tidak pernah menganggap dirinya sebagai seorang musical prodigy. Dengan rendah hati ia berkata, “I am surrounded by prodigies everywhere I go, but because they are a little older than me, or not a female, or not on a major label, they are not acknowledged as such.”

Esperanza keluar dari sekolah umum semasa SMA karena menganggap sekolah itu terlalu mudah dan membosankan. Selanjutnya ia mulai berkonsentrasi pada karir musiknya. Pada awalnya Esperanza mengambil kursus vokal karena menganggap suaranya pas-pasan dan hanya cocok dikumandangkan di kamar mandi. Di periode ini ia pun mulai menulis lagu untuk orang lain, seperti band indie rock lokal bernama Noise for Pretend. Sampai kemudian ia pun bergabung dengan band ini dan mengambil posisi vokalis. Dalam pengalamannya bersama Noiise for Pretend ia mulai mengembangkan bakat bernyanyi sekaligus menemukan melodi yang tepat untuk nyanyiannya. Menurut Esperanza, bernyanyi itu sulit dan penuh tantangan.

Meski keluar dari sekolah umum, namun Esperanza berkeinginan untuk belajar tentang musik secara lebih formal dengan mendaftar untuk mendapatkan beasiswa di program musik Universitas Negeri Portland. Meski begitu ia kemudian akhirnya memilih untuk mendaftar di Berklee College of Music atas dorongan guru bassnya dan berhasil memeroleh beasiswa. Meski begitu tabungan Esperanza tidak bertahan lama dalam membiayai hidupnya sehingga akhirnya ia bangkrut dan berfikir untuk melepaskan karir musik dan memilih untuk pindah ke ilmu politik saja. Namun, seorang gitaris jazz dan komposer bernama Pat Metheny mendorong semangat Esperanza dan menyebutkan jika Esperanza memiliki faktor X dan akan berhasil jika saja bersungguh-sungguh dalam berupaya.

Setelah menamatkan pendidikan musiknya, Esperanza segera bergabung dengan almamaternya dengan menjadi seorang staff pengajar dan menjadi salah satu dosen termuda dalam sejarah, karena barus berusia 20 tahun. Tidak itu saja, buah kerja kerasnya membuahkan hasil, karena di tahun 2006, album debutnya yang bertajuk Junjo pun rilis, di bawah label Ayva Music. Selanjutnya Esperanza merilis album Esperanza (2008) dan Chamber Music Society (2010) yang kali ini dibawah naungan label Heads Up International.

Setelah keberhasilannya meraih Grammy, nama Esperanza Spalding pun kemudian dikenals ecara lebih luas dan semakin banyak saja yang mengenal bakatnya. Pintar bernyanyi dan juga seorang multi-instrumentalis merupakan kelebihannya yang menjadi bakat yang sangat diandalkannya. Mesi begitu Esperanza lebih berkonsentrasi untuk memainkan bass sebagai instrumen utama yang dimainkannya. Selain karena disebutkan lebih beresonansi dengan dirinya, Esperanza juga menyebutkan jika bass itu seperti, “waking up one day and realizing you’re in love with a co-worker.“.

Pada tanggal 20 Maret yang lalu, Esperanza merilis album keempatnya yang berjudul Radio Music Society. Album bercorak jazz kontemporer yang beramunisi 12 lagu ini segera saja mendapat sambutan yang positif. John Bungey dari The Times menyebutkan jika album ini sebagai, “journey through soul, gospel, balladry and big-band swing,” dan menyebutkan, “for those who have hitherto found her considerable abilities easier to admire than enjoy, this is the most convincing display yet.” Radio Music Society menoreh prestasi yang tidak main-main di tangga lagu, seperti menduduki posisi satu di Billboard Top Jazz dan sepuluh di Billboard 200.

Jadi, tunggu apa lagi, simak sebuah pengalaman musikal yang luar biasa bersama Esperanza Spalding di Artist Highlight bulan September ini pilihan Universal Music Indonesia dan CreativeDisc.

Official Twitter Esperanza Spalding
Official Website Esperanza Spalding

Related posts

Leave a Reply