Trending News

Blog Post

October Artist Highlight – The Killers
Reviews

October Artist Highlight – The Killers 

Banyak yang keliru mengira The Killers sebagai bagian dari invasi Inggris ke Amerika, berdasarkan gaya bermusik mereka yang sedikit memadukan post-punk dengan brit-rock. Di tambah pula aksen Inggris frontman sekaligus vokalis mereka, Brandon Flowers. Padahal, band yang juga terdiri atas Dave Keuning (gitar), Mark Stoermer (bass, vokal latar) dan Ronnie Vannucci, Jr.(drum), ini asli berasal dari tanah Amerika Serikat, tepatnya Las Vegas, Nevada.

Nama The Killers diambil dari logo sebuah band fiktif di video musik band New Order berjudul Crystal. The Killers sendiri berawal saat Flowers, di tahun 2001, ditinggalkan oleh band lamanya, Blush Response, yang mengusung synthpop, setelah dia menolak pindah dari Las Vegas ke Los Angeles bersama mereka. Setelah menyaksikan penampilan band asal Inggris, Oasis, Flowers pun mengetahui jika passion bermusik sebenarnya adalah di rock. Nasib mempertemukan dirinya dengan gitaris Keuning yang memiliki selera musik yang sama. Di penghujung 2001, mereka sudah mereka sebuah demo berisi 4 buah lagu, termasuk lagu versi awal dari Mr. Brightside dan Under the Gun.

Di awal tahun 2002, Flowers dan Keuning mulai melakukan penampilan publik mereka. Pertunjukan live pertama mereka berlangsung di  Cafe Espresso Roma, Las Vegas, di bulan Januari. Saat itu mereka dibantu oleh drummer lokal Matt Norcross dan Dell Neal, yang merupakan teman sekamar Keuning yang bertugas memainkan bass. Matt dan Dell juga yang membantu proses perekaman demo tersebut.

Saat skena musik di Las Vegas didominasi oleh genre seperti punk, nu-metal dan rap, musik yang dibawakan oleh The Killers terdengar segar dan berbeda. Para penggiat musik lokal memberi masukan positif terhadap mereka, bahkan salah seorang dari mereka menyebutkan jika musik The Killers itu, “pop styles of British music and the lo-fi fuzz of modern indie rock.” Ditengah euforia tersebut, dengan berbagai alasan The Killers harus melepas Matt dan Dell. Seorang drummer bernama  Brian Havens juga sempat bergabung, sebelum akhirnya dipecat juga.

Namun untunglah tak lama kemudian, tepatnya di bulan Agustua 2002, Flowers dan Keuning bertemu dengan Stoermer dan Vannuci yang kemudian memutuskan bergabung dengan The Killers. Pada awalnya band berlatih di garasi Vannuci, karena dirinya satu-satunya anggota yang telah memiliki rumah. Tak jarang, malam-malam mereka menyusup ke ruangan musik UNLV (universitas lokal) dimana Vanucci belajar tentang perkusi, untuk berlatih.

Nama The Killers sendiri semakin populer di Las Vegas dan menarik banyak fans setia. Seorang pencari bakat bernama  Braden Merrick tertarik dengan musik mereka saat mendengarkan salah satu demo mereka di salah satu situs musik lokal di Vegas. Lantas ia menawarkan diri untuk menjadi manajer mereka. Braden mengajak The Flowers mengunjungi San Fransisco untuk merekam demo bersama Jeff Saltzman dan Mark Needham yang kemudian dikirim ke berbagai label di Amerika. Sayangnya, nasib baik belum singgah karena banyak yang menolak. Untungnya Warner Bros. Records tertarik untuk mengundang mereka untuk melakukan showcase. Meski hasil akhirnya juga berbuntut kegagalan, namun penampilan The Flowres menarik minat Niall Norbury, yang berasal dari Inggris.

Niall membawa demo tersebut ke Inggris dan memainkannya untuk temannya yang bernama Ben Durling. Kebetulan Ben bekerja di sebuah label independen Inggris yang bernama Lizard King Records. Tidak butuh waktu lama, The Killers kemudian menandatangi kontrak bersama label tersebut di bulan July 2003. Di bulan Agustus single Mr. Brightside pun premiere di radio dan The Killers kemudian melakukan pertunjukan di seputar London.

Setelah mendapatkan perhatian yang cukup intensif di London, The Killers kembali ke Amerika dan diundang  untuk bermain di acara ASCAP CMJ Music Marathon di  New York.Beberapa label kemudian tertarik untuk menaungi The Killers, meski kemudian mereka pada akhirnya berada di bawah naungan Island Def Jam di awal 2004.

Di bulan Juni, album debut mereka Hot Fuss pun dirilis, yang ternyata disambut dengan hangat. Di Inggris, Hot Fuss meraih posisi 1 dan sertifikat 6X Platinum di bulan Januari 2005. Di Amerika sendiri, album tersebut mencapai posisi 7 dan meraih sertifikat 3X Platinum. Berkat album ini The Killers memeroleh 3 nominasi Grammy Awards dan bahkan majalah musik populer, Rolling Stone, memasukkan album Hot Fuss di peringkat 43 di daftar 100 Best Albums of the Decade serta masuk pula di daftar  1001 Albums You Must Hear Before You Die.

Kesuksesan Hot Fuss disusul dengan album-album berikutnya, yaitu Sam’s Town di tahun 2006 dan Day & Age di tahun 2008. Di Amerika, Sam’s Town menduduki nomor 2 sebagai posisi tertinggi sedangkan Day & Age duduk di posisi 6. Sementara di Inggris, kedua album tersebut bersanding dengan Sam’s Town di posisi 1.

Setelah hiatus selama empat tahun, kini The Killers kembali lagi dengan album keempat mereka yang berjudul Battle Born. Dirilis pada tanggal 18 September 2012, album ini lagi-lagi duduk di posisi 1 di Inggris. Semetara di Amerika mereka menduduki posisi 3. Dengan kesuksesan yang berturut-turut ini, sudah selayaknya memang jika kita sebutkan The Flowers sebagai salah satu band terkemuka saat ini dengan karya-karya yang sangat layak dinanti.

Dan oleh karena itu CreativeDisc dan Universal Music Indonesia memilih The Killers menjadi salah satu Artist Highlight di bulan Oktober 2012 ini!

Official Website The Killers
Official Facebook The Killers
Official Twitter @thekillers

Related posts

Leave a Reply