Trending News

Blog Post

Divas Highlight: Alicia Keys & Pink
Reviews

Divas Highlight: Alicia Keys & Pink 

Image and video hosting by TinyPic

Mari membuat heboh akhir tahun dengan asupan musik tiap waktu yang menggemparkan dalam Karnaval Divas di Artist Highlight! Berkobar dalam api, Diva Alicia Keys.

Melihat ke dekade lalu, saat Alicia Keys menyandang predikat artis pendatang baru. Meskipun tergolong baru, ia membuat tempat yang layak bagi keberadaan namanya. Lihat saja, ia menggeser Destiny’s Child dari puncak tangga lagu Billboard, ia menjual album pertamanya di atas angka 8 juta kopi di seluruh dunia, dan ia menggondol 5 piala Grammy ketika untuk pertama kalinya ia diperkenalkan dalam ajang penghargaan musik tingkat dunia tersebut. Yang Alicia punya adalah vokalnya yang nge-soul, musiknya yang tulus, keahliannya menulis dan memproduksi lagu, serta kebolehannya bermain alat musik. Ia tidak lahir dengan kemahiran ini semua, tapi ia belajar!

Catet nih. Di usia 7 tahun, Alicia mulai bermain piano. Ia memainkan musik klasik karya Beethoven, Mozart, dan Chopin. Anak pasangan Teresa Augello dan Craig Cook ini terus mengasah kemampuannya dengan belajar musik secara formal. Ia masuk ke Professional Performing Arts School di usia 12, dan berhasil lulus dari sekolah ini di usia 16. Selama waktunya di sekolah, ia belajar vokal dan menulis musik. Kemampuannya membuatnya tak lama dikenali. Bersama manajer, Jeff Robinson, Alicia mulai menjalani jalur musik profesional. Pertama kali, Alicia diperkenalkan ke Arista Records. Petinggi Arista saat itu, Peter Edge sangat berkeinginan untuk meneken kontrak buat Alicia. Sayangnya karena momentum yang kurang tepat, Peter hendak menyelesaikan kerjasamanya dengan label tersebut, Alicia gagal bergabung di bawah payung Arista. Bukan masalah besar, karena ada Columbia yang kemudian merangkulnya. Tapi kali ini momentum yang tak menguntungkan datang dari Alicia sendiri. Ia baru saja diterima di Universitas Columbia. Berusaha menyeimbangkan karir dan pendidikan, Alicia tak kuasa menahan tekanan. Ia akhirnya keluar dari kuliah untuk fokus ke karirnya. Rekaman pertama Alicia adalah lagu ‘Dah Dee Dah’ yang dimasukkan ke dalam soundtrack film “Men In Black”. Langkahnya bersama Columbia hanya sampai disini. Karena label tersebut tak kunjung merilis lagu Alicia sebagai single, apalagi berniat untuk membuatkannya sebuah album. Maka terbanglah Alicia ke Arista, yang kini dipimpin oleh Clive Davis. Kembali ia kehilangan kesempatan untuk berada di Arista karena label tersebut dibubarkan. Clive kemudian membangun J Records dan mengontrak Alicia di dalamnya. Dari sinilah ‘Fallin” hadir, yang berhasil menggeser Destiny’s Child dari puncak Billboard Hot 100 dan “Songs In A Minor” yang terjual sebanyak lebih dari 8 juta kopi di seluruh dunia.

Naik turunnya perjalanan awal karir Alicia berbuah manis. Manisnya buah itu terus ia rasakan dari album ke album. “The Diary Of Alicia Keys” dan “Unplugged” adalah kelanjutan dari estafet sukses yang ia rajut. Hit mosnter ‘If I Ain’t Got You’ adalah hasil dari album ini, plus di masa yang sama ia merekam duet dengan Usher, ‘My Boo’ yang menjadi lagu nomor 1 keduanya. Alicia semakin menggila di ajang Grammy, dimana ia membawa pulang 4 piala di tahun 2005. Album unplugged-nya adalah sesi MTV Unplugged tersukses sejak tahun 1994, dimana Nirvana melakukan sesi unplugged mereka di tahun tersebut.

Keberhasilannya menaklukkan industri musik membuatnya tertantang untuk merambah ke dunia perfilman. Film perdananya, “Smokin’ Aces” di tahun 2007 memasangkannya bersama Ben Affleck dan Andy Garcia. Ia memecahkan box office lewat film “The Nanny Diaries” bersama Scarlett Johansson dan Chris Evans. Di tahun yang sama, ia mengeluarkan album ketiganya, “As I Am” yang kembali membuatnya meroket ke puncak. ‘No One’ mengecap sukses global berikut menjadi single ketiga Alicia yang pernah duduk di posisi 1 Billboard Hot 100. Alicia pun menambah koleksi Grammy-nya lewat album ini. Popularitas Alicia membuat penanggung jawab musik untuk film James Bond memasangkannya dengan Jack White untuk membawakan lagu tema film “Quantum Of Solace”, yang kemudian menjadi lagu tema Agen 007 pertama yang dibawakan secara duet.

Alicia lahir dari ayah dan ibu yang multi-etnis. Banyak kultur yang mengalir dalam darahnya tidak membuatnya merasa minder dan terkucilkan di masyarakat. Ia justru merasa ini adalah keuntunggan baginya untuk masuk ke grup sosial yang bervariasi. Selama berkarir di dunia musik Alicia juga kerap berkolaborasi. Sebelum bersama Jack White, Alicia berkontribusi untuk proyek All Star Tribute “What’s Goin’ On”, menulis sebuah lagu berjudul ‘Impossible’ untuk Christina Aguilera sekaligus memproduserinya, juga ‘Million Dollar Bill’ untuk mendiang Whitney Houston. Alicia juga tampil bersama Jay-Z di lagu ‘Empire State Of Mind’ yang menjadi lagu keempatnya di puncak Billboard. Bersama lagu ini datang sebuah piala Grammy yang membuatnya menjadi kebanjiran trofi. Album keempat Alicia rilis di akhir tahun 2009. “The Element Of Freedom” menghasilkan single-single: ‘Doesn’t Mean Anything’, ‘Try Sleeping With A Broken Heart’, dan juga ‘Unthinkable’.

Setelahnya, Alicia ingin meraih sukses untuk urusan rumah tangga. Ia menikah dengan produser musik Swizz Beatz dan melahirkan anak pertama mereka, Egypt di bulan Oktober 2010. Kehidupan Alicia yang dilimpahi berkah tak membuatnya terlena. Ia mengejar ambisi lain: memproduksi drama musikal “Stick Fly” dan menyutradarai film pendek “Five”. Dan ketika kita pikir Alicia tak akan punya waktu lagi untuk membuat album, hadirlah “Girl On Fire”. Semangat Alicia bak kobaran api membuat kita ikut terbakar dalam semarak musik yang ia hasilkan lewat single andalan dari album ini, ‘Girl On Fire (Inferno Version) (featuring Nicki Minaj)’. Single apik ini memamerkan daya yang Alicia punya dalam dirinya. “Girl On Fire” adalah album pertamanya yang rilis via RCA Records, karena labelnya terdahulu, J telah dibubarkan. “Girl On Fire” punya segudang lagu yang bagi Alicia terkonsep di luar dari apa yang mainstream. Ia menyengaja album untuk terdengar klasik dan personal. CreativeDisc dan Sony Music Indonesia punya satu kursi panas bagi Alicia dan album ini untuk kamu nikmati menjelang penghujung tahun. ‘Brand New Me’ sebagai single terbaru, berikut selusin track lainnya akan memandu kamu berkaca pencapaian setahun ini dan membuat visi untuk tahun depan. Be on fire this December, Karnaval Divas: Alicia Keys di Artist Highlight.

Official Website Alicia Keys
Official Twitter @aliciakeys
Official Facebook Alicia Keys

Image and video hosting by TinyPic
Sekarang saatnya sang penggagas kebenaran tentang cinta, Diva Pink.

Musik Pink adalah musik yang beragam. Ayahnya yang seorang gitaris menginspirasinya untuk menjadi seorang bintang rock. Dan jalan mencapai tujuan rockstar itu melibatkan musik dance, grup vokal, juga R&B. Alecia Beth Moore alias Pink dulunya adalah pesenam. Ya, gaya-gaya gimnastik yang ditunjukkan dalam beberapa penampilan live-nya yang memukau merupakan hasil dari latihan bertahun-tahun yang ia tempa. DI usia belasan ia baru memulai diri untuk mengejar impiannya di bidang musik. Alicia mulai memakai nama Pink atas saran dari sahabatnya ketika ia bernyanyi di klub. Dan atas saran di teman itu tadi juga, Pink mengikuti audisi untuk sebuah grup cewek bernama Basic Instinct. Berhasil dong Pink masuk ke dalam grup ini. Tapi sayangnya, mereka bubar sebelum melakukan apa-apa. Tak puas dengan kenyataan tersebut. Pink bersama dua cewek lain, Stephanie Galligan dan Chrissy Conway membentuk grup bernama Choice. Aliran mereka R&B. Mereka merekam demo sebuah lagu berjudul ‘Key To My Heart’ yang dikirimkan ke petinggi LaFace Records, L.A. Reid. Ka-ching! Mereka berhasil memenangkan kontrak rekaman dengan label ini. Karena usia yang masih di bawah 18 tahun, orang tua dari ketiga cewek ini ikut serta dalam menandatangani kontrak mereka. Satu dua tiga! ‘Key To My Heart’ pun direkam di studio di Atlanta dan dimasukkan ke dalam soundtrack “Kazaam”. Meskipun mereka juga merekam sebuah album dalam periode ini, album itu tak kunjung rilis hingga akhirnya bubar di tahun 1998.

Apa yang salah? Mungkin Pink tak ditakdirkan untuk tampil dalam sebuah grup. Mungkin ia harus berjalan sendiri. Dengan semangat demikian, Pink berjalan sendiri untuk mengerjakan album solonya, masih bersama LaFace Records. Ia berhasil merilis single perdana, ‘There You Go’ yang disusul oleh album “Can’t Take Me Home” di semester pertama tahun 2000. Untuk sebuah debut, album ini berada di tahap memuaskan. Entertainment Weekly menyebutkan sebagai “another brick in R&B wall” namun penjualannya bisa mencapai angka di atas 2 juta kopi di Amerika Serikat. Album ini juga tercatat sukses di belahan dunia lain; Australia. Pink menambah kepopulerannya dengan tur bareng boyband ‘NSync dan bernyanyi bareng Christina Aguilera, Mya, dan Lil Kim di lagu ‘Lady Marmalade’ untuk soundtrack film “Moulin Rouge”. Terlepas dari isu tentang pertikaian timnya dengan tim Christina Aguilera di proyek ini, ‘Lady Marmalade’ adalah sukses mutlak pertama yang Pink peroleh. Ia berhasil dikenali disini. Tapi tak lama, ia berhasil menemukan sukses atas namanya sendiri. Terima kasih kepada album “Missundaztood” dengan moster hit ‘Get The Party Started’ yang membahana di berbagai penjuru dunia. Nama Pink pun bergeser dari penyanyi pop ke penyany pop rock setelah single ‘Don’t Let Me Get Me’ dan ‘Just Like A Pill’ dirilis. Album ini memperkenalkan corak baru musik Pink dengan lirik personal yang ia hasilkan. Pink pun tur bareng Lenny Kravitz yang sepertinya hendak menguatkan image barunya ini.

Semakin banyak kehadiran Pink di berbagai kesempatan. Ia ikut berkontribusi untuk album Faith Hill, “Cry” juga untuk Lisa Marie Presley, “Now What”. Ia membawakan soundtrack film “Charlie’s Angels: Full Throttle” sekaligus berperan sebagai cameo di dalamnya. Album ketiganya, “Try This” semakin memantapkan pijakan kaki Pink dalam ranah musik pop rock: ‘Trouble’ berhasil memenangkan Grammy di kategori Rock! Kelanjutan sukses Pink ia peroleh untuk album “I’m Not Dead”. Pink adalah orang yang lugas. Itu terkesan dari lirik lagunya. Di album ini, Pink memperhatikan beberapa hal yang membuatnya ingin berkomentar. ‘Stupid Girls’ memparodikan selebritis cewek Lindsay Lohan, Jessica Simpson, Paris Hilton, dan curhatannya pada Presiden Amerika saat itu, George W Bush ‘Dear Mr. President’. Bahana sukses Pink berkelanjutan dengan album “Funhouse” yang tercatat sebagai album tersukses Pink! Yang diceritakan album ini adalah pengalaman cintanya yang naik turun dengan Carey Hart. Kebanyakan adalah perpisahan mereka yang terus tertunda dibeberkannya lewat ‘So What’. Hal-hal personal lainnya dari Pink bisa disimak lewat lagu-lagu di album ini. ‘Sober’, ‘Please Don’t Leave Me’, dan ‘Bad Influence’. Sebelum mengambil cuti dari industri hiburan, Pink meninggalkan para penggemar dengan album kompilasinya, “Greatest Hits…So Far” yang menelurkan hit single ‘Raise Your Glass’ dan ‘Perfect’. Pink yang rujuk dengan Carey hendak fokus pada kelahiran anak mereka, Willow.

Kini, setelah cuti Pink selesai, ia siap untuk menggebrak kembali. ‘Blow Me (One Last Kiss)’ berhasil membuat gertakan. Pink berkuasa. Ia mengancam di chart, ia bebas mengudara di stasiun radio, dan ia bolak-balik tayang di stasiun televisi. Single andalan dari album “The Truth About Love” ini yang kemudian meyakinkan orang-orang untuk mengoleksi albumnya. Benar saja, saat diluncurkan, album ini meroket ke puncak, mendapat angka penjualan terbaik di minggu perilisannya. Sekarang, setelah kita semua melepas kecupan terakhir buat Pink, kita akan menikmati irama dansa satu lawan satu lewat ‘Try’. Selain dua ini, masih tersedia 15 track lain dalam “The Truth About Love” yang CreativeDisc dan Sony Music Indonesia punya untuk kado akhir tahun kita. Namanya juga perayaan, mesti heboh dan menggemparkan! Karnaval Divas: Pink di Artist Highlight Desember 2012.

Official Website P!nk
Official Twitter @pink
Official Facebook P!nk

(Ai Hasibuan / CreativeDisc Contributors)

Related posts

Leave a Reply