Trending News

Blog Post

The Stone Roses Live in Jakarta, 23 Feb 2013
Concerts Review

The Stone Roses Live in Jakarta, 23 Feb 2013 

THIS IS THE ONE WE’VE WAITED FOR!!! Yap, kuartet pencetus musik britpop yang sempat bubar di tahun 1996 akhirnya melakukan reuni nya di tahun 2011 mendatangi Jakarta untuk pertama kalinya. Hal ini membuat senang para pecinta madchester dan britpop karena sang legenda akhirnya menunjukkan skillnya di hadapan penonton di Lapangan D Senayan. Band yang mempunyai 2 album yang sangat legendaris ini sebelum ke Jakarta mereka sempat singgah di Dubai untuk memulai tour di tahun 2013 ini.

Di venue acara terlihat pecinta britpop yang lintas generasi mulai dari yang tua sampai remaja dari yang berkulit sawo matang sampai ekspatriat semua berbondong-bondong datang dan rela becek-becekan di Lapangan D demi melihat penampilan Ian Brown, Reni, Mani dan John Squire dalam konser reuni yang atraktif dan magis.

Seperti biasa sebelum memulai konser diputar lah beberapa lagu yang menjadi influence The Stone Roses mulai dari The Beatles sampai The Beach Boys. Begitu lagu “Stone Love” milik The Supremes diputar teriakan memanggil masing-masing personil makin menggila karena lagu “Stone Love” menjadi penanda bahwa mereka sebentar lagi akan menghibur penonton dengan deretan lagunya yang melegenda di kalangan pecinta britpop. Benar saja setelah lagu itu habis Ian Brown, Reni, Mani dan John Squire akhirnya masuk dan mulai memasang instrumen masing-masing. “I Wanna Be Adored” pun digeber dan sontak para penonton langsung liar, di lagu pertama pun para penonton tidak henti-hentinya untuk bergoyang dan melompat. “Mersey Paradise” pun menjadi gacoan kedua mereka disambut sing-a-long penonton yang begitu membahana. Penonton sedikit melemaskan tenaga di lagu “(Song For My) Sugar Spun Sister”. Aksi panggung Ian Brown yang unik dengan signature move nya yang dikenal dengan “monkey dance” pun turut dimainkan Ian. Penonton pun tidak tahan untuk melakukannya juga seolah Ian pada malam itu adalah instruktur senam “monkey dance” massal. “Ten Storey Love Song”, juga turut dibawakan dan ini adalah lagu pertama yang dibawakan dari album kedua mereka “Second Coming”.

Penonton menjadi ganas kembali di lagu “Where’s Angel Play” hal ini dikarenakan Ian melempar dua tambourine ke arah penonton setelah itu Ian langsung berdansa kembali disambut oleh penonton. Sesekali Ian mempertunjukkan gaya menarinya yang nyentrik lengkap dengan gimmick yang memanaskan konser mulai dari gaya seperti binaragawan, nyengir sampai memainkan bahunya berkali-kali, sangat epik. “Shoot You Down” menjadi pelemasan untuk penonton sebelum dihajar oleh keepikan dari lagu “Fool’s Gold” yang membuat seisi Lapangan D menari-nari layaknya berada di sebuah klub di Manchester pada tahun 1990. “Fool’s Gold” merupakan puncak atraksi mereka yang pertama dimana lagu ini dimainkan dengan sangat panjang diiringi oleh gerakan Ian, cabikan mantap dari bas Mani, Pukulan sleazy dari Reni dan permainan psychedelic yang ditawarkan John Squire. John Squire pun mempertunjukkan atraksi gitarnya. Solo gitar John Squire membuat penonton tercengang dan diiringi oleh lighting yang wah membuat para penonton makin bergoyang mengikuti dentuman lagu yang begitu psychedelic. Setelah mereka menebar keajaiban di “Fool’s Gold”. “Something’s Burning” dibawakan dan untuk kali ini giliran atraksi Mani dengan bas nya. Solo bas dari Mani pun sukses mendatangkan decak kagum dari penonton. Begitu genjrengan gitar “Waterfall” dimulai para penonton pun kembali meriah dan semakin memanas. Salah satu signature song mereka ini sukses untuk membuat penonton sing-a-long dan berdansa terus menerus sepanjang lagu. Banyak penonton yang begitu emosional terhadap lagu ini dikarenakan banyak orang yang mengatakan bahwa lagu ini menjadi lagu terbaik dari album pertana The Stone Roses. Seperti yang ada di album, sehabis “Waterfall” mereka langsung menghajar dengan “Don’t Stop” yang membuat penonton terus bergoyang tanpa henti sampai moshing pun tidak dapat dihindarkan sambil menikmati alunan lagu yang sangat epik. Tidak cukup sampai di situ mereka berempat terus membuat penonton mengeluarkan seluruh energinya di lagu “Made of Stone”, ya lagu yang membuat nama mereka melejit ini membuat para penonton terus menerus bergoyang dan melompat-lompat. Dan yang paling saya tunggu yaitu “This Is The One” akhirnya diputar juga. Para penonton pun diselimuti rasa kekaguman sekaligus haru terutama pendukung Manchester United karena lagu ini merupakan lagu pengiring masuk pemain di Old Trafford. Dan pastinya tensi penonton pun makin meriah dan terus bernyanyi hingga habis. “Love Spreads” pun dibawakan lengkap dengan permainan memukau dari John Squire yang membuat penonton terus berteriak mengelukan namanya. Masuk ke dua lagu puncak atraksi mereka dan “She Bangs The Drums” dibawakan pertama membuat energi penonton terus dipakai untuk menikmati lagu ini bersama mereka. Setelah lagu ini main sejenak Reni sang drummer menunjukkan atraksi drum solonya dan setelah petikan groovy dari bas polkadot Mani masuk berarti lagu penutup konser dan andalan mereka untuk membuat malam itu menjadi malam yang tidak pernah dilupakan di hati para penontonnya yaitu “I Am The Ressurection” pun dimainkan. Kegegeran penonton pun makin menjadi-jadi apalagi setelah lagu mulai masuk di bagian instrumental. Ian Brown pun langsung pecicilan ke bagian kiri dan kanan panggung untuk menyalami penonton, menunjukkan gerakan “monkey dance” nya, berinteraksi dengan penonton sampai bergoyang dengan muka yang ditutupi oleh baju The Stone Roses yang dilempar penonton. Dan konser pun ditutup dengan aksi Ian Brown mencium bendera Manchester United hasil lemparan penonton yang disambut dengan chant “Glory Glory Manchester United” dan langsung dilempar kembali begitu Reni yang notabene fans Manchester City datang untuk merebut benderanya, begitu unik dan kocak. Setelah mereka membungkukkan badan ke penonton mereka pun meninggalkan panggung memang tanpa encore tapi tidak membuat penonton merasa protes karena 16 lagu bagi mereka sudah lebih dari cukup untuk dinikmati sekaligus kembali bernostalgia di masa silam.

Performance mereka dari awal sampai akhir konser pun benar-benar luar biasa. Saya melihat atraksi memukau yang terus ditawarkan oleh masing-masing personil terutama untuk Ian yang mempunyai unsur lengkap menjadi frontman dan pemimpin pesta. John Squire yang tidak henti-hentinya menawarkan riff maut. Gebukan drum Reni yang membuat penonton terus berjingkrakan dan sabetan bas Mani yang menambah groovy suasana. Saya pun begitu takjub melihat penampilan mereka. Saya seperti berada di Manchester selama konser berlangsung bukan di Jakarta. Sungguh hebat mengingat umur mereka yang sudah memasuki kepala 5 namun tidak ada tanda-tanda kelapukan mereka seperti forever young. Ada hal unik yang terjadi di konser dimana para penonton berteriak “Happy Birthday Ian” dan dia membalas dengan “F**k you” mungkin dia tidak ingin dianggap makin menua.

Begitulah, cerita tentang band yang menjadi pionir band britpop yang mampu mengubah tatanan musik di UK selama 1 dekade. Dan yang hadir di situ menjadi saksi sang legenda yang dibicarakan banyak orang di komunitas indie. Penonton pun seolah benar-benar emosional di konser ini karena akhirnya bisa melihat sang idola bermain. Mimpi selama lebih dari 17 tahun untuk melihat band ini bersatu kembali dan disaksikan oleh mata kepala sendiri menjadi nyata dan tidak mustahil. Para penonton pun pulang dengan kenangan yang tidak bisa dilupakan dan bermimpi indah pada tidurnya pada hari itu juga. YEAH, THEY’RE THE ONE THAT WE WAITED FOR!

Special Thanks to Flux and Play & Blood Brothers Indonesia

(Luthfi / CreativeDisc Contributors)
Foto by Milankoni.

Setlist:
Adored
Mersey Paradise
Sugar Spun
Sally Cinnamon
Ten Storey
Where Angels Play
Shoot U Down
Fools Gold
Somethings Burning
Waterfall
Don’t Stop
Made of Stone
T.I.T.O
Love Spreads
She Bangs
Resurrection

Related posts

Leave a Reply