Trending News

Blog Post

Album of The Day: OneRepublic – Native
Album of The Day

Album of The Day: OneRepublic – Native 

About One Republic

Mari mundur ke tahun 2007, saat lagu ‘Apologize’ begitu sering terdengar dan One Republic menjadi salah satu nama pendatang baru yang begitu diperhitungkan. Musik rock yang mereka ciptakan punya rasa. Rasa itu yang diterima oleh masyarakat sehingga lagu-lagu yang mereka hasilkan mendapat plakat hits. ‘Apologize’ adalah sukses yang tak terbantahkan. Tapi untuk Ryan Tedder, frontman OneRepublic, mencapai sukses itu bukanlah jalan yang mudah. Ia memulainya di tahun 2002 dengan mengumpulkan satu per satu orang untuk tergabung dalam kumpulan ini. Setelah formasi lengkap, pacuan untuk kontrak rekaman pun dimulai. Bersama Columbia, One Republic mulai mendapat titik terang untuk mengubah aktivitas panggung ke aktivitas studio.

Sayangnya, titik terang itu meredup tatkala Columbia tak kunjung berhasil merilis rekaman mereka. Alih-alih menyodorkan One Republic ke permukaan, label itupun kemudian melepaskan band yang akhirnya berjalan sendiri, tanpa kontrak dan tanpa label. Untungnya ada MySpace yang bisa menjadi motivasi. Mereka memanfaatkan teknologi internet sebagai sumber daya dan situs musik tersebut sebagai show room-nya. Dan voila, One Republic didengar! Tak cuma didengar, mereka juga ditawari kesempatan untuk melangkah ke liga yang lebih besar bersama Mosley Music Group, label yang dimiliki oleh Timbaland. Dari sinilah keajaiban ‘Apologize’ tercipta. Tak cuma top spot di chart musik, tapi juga unggulan di berbagai ajang penghargaan musik. One Republic datang dan diperhitungkan!

Keajaiban itu berlanjut hingga sekarang. Ryan Tedder, Zach Filkins, Drew Brown, Eddie Fisher, dan Brent Kutzie menyambung nyawa kehidupan rekaman mereka dengan album ketiga yang rilis tahun ini. “Native”, sebuah album dengan sound pop rock murni, dengan lagu-lagu yang memiliki optimisme tinggi. ‘Feel Again’ dan ‘If I Lose Myself’ sudah membuktikan betapa album ini layak punya. Kemahiran Ryan dalam mencipta lagu dengan keapikan musik yang dihadirkan oleh anggota band lainnya memiliki daya saing tinggi untuk berpacu dalam daftar album terbaik rilisan 2013 ini. Semangat rock yang dikandungnya patut dijadikan salah satu highlight dalam The Month of Rock, April ini, hanya di CreativeDisc yang bekerjasama dengan Universal Music Indonesia.

http://www.onerepublic.com/

(Ai Hasibuan / CreativeDisc Contributors)

Review album One Republic “Native”

Released by: Universal Music Indonesia

Ryan Tedder and the gang is back! Yep, it’s OneRepublic new album, folks! Senang sekali mendengarkan Native, album ketiga mereka, karena tampaknya OneRepublic terus berkembang dalam musiknya dan tidak berkutat dalam ranah aman seperti untuk terus bermain dalam musik yang membuat mereka terkenal dalam album dbeut mereka, Dreaming Out Loud (2007).

Oh yes, Native still sounds like OneRepublic we know. Dan tentu saja, siapa yang bisa melewatkan vokal renyah Tedder yang memikat? It’s a classic Tedder-ish actually. Sebuah album pop-rock antemik dengan semangat yang menggebu sementara vocal Tedder terdengar begitu gloomy ditengah semaraknya.

Dua single utamanya, Feel Again dan If I Lose Myself bisa jadi bukti akan menjadi bukti jika OneRepublic terus berkembang. Mereka memang masih terdengar sangat OneRepublic, namun disaat yang sama kita merasakan pergerakan mereka kearah yang cukup berbeda. OneRepublic terdengar memberi imbuhan elektro-pop, memberi variasi yang cukup kaya bagi singlenya. Akan tetapi lagu-lagu ini juga terdengar lebih mapan dan matang.

Kelemahan OneRepublic, baik di album Dreaming Out Loud maupun album kedua mereka, Waking Up (2009), adalah mereka terlalu berkonsentrasi ada beberapa lagu saja, sementara kebanyakan lagu terdengar seperti filler. Untunglah hal tersebut kini semakin diminimalisir oleh mereka. Native terdengar seperti sebuah album solid yang setiap lagu yang dipersembahkan dapat berdiri sendiri dengan kuat.

Setiap track dibangun dengan presisi yang pas serta rangka musik yang jelas. Simak saja What You Wanted yang terdengat seperti lagu U2 di era akhir 80-an – awal 90-an. Dibuka dengan beat drum yang berirama konstan dan tempo medium yang mengalun namun tetap bergelora dengan semangat rock. Atau track I Lived yang kental dengan nuansa folk-rock. Hey, memang terdengar sedikit Mumford & Sons-esque, akan tetapi citarasa Ryan Tedder terlalu kental di sini untuk membuat kita menuduh mereka “menjiplak”.

Light It Up menyalurkan semangat rock yang lebih kental, lengkap dengan riff gitar elektrik yang berlarat dan chant vokal segala. Meski ini merupakan lagu yang paling tidak OneRepublic, akan tetapi jelas merupakan sebuah tantangan yang menarik untuk diri mereka sendiri. Tentu saja, memasuki chorus dan bridge, ruh OneRepublic kembali hadir. Hasilnya tidak mengecewakan, meski tidak istimewa juga. Bagaimanapun OneRepublic lebih pas di lagu-lagu yang mengandalkan notasi yang melodius dan ear-catchy.

Syukurlah Native memiliki banyak materi seperti itu. Kalau mau terhanyut oleh denting piano yang mengalun inda serta vokal Tedder yang memabukkan, maka simak nomor minimalis Au Revoir, yang sesuai judulnya, terdengar sedikit “sedih”. Sementara Burning Bridges terdengar sangat konvensional OneRepublic, dan mengingatkan akan Good Life, baik secara beat dan tempo hingga aransemen. Tidak mengapa. Terkadang formula bagus memang harus direpetisi.

OneRepublic juga bisa mengusung synth-pop dalam balutan musik era 90-an dalam Cant’s Stop, walau itu membuat mereka, well, terdengar seperti perpaduan antara Sinead O’Connor dan Duran Duran. Namun mereka juga punya Burning Bridges yang istimewa. Secara umum, it’s a classic OneRepublic, tapi di satu sisi lain, lagu ini terdengar sangat berbeda karena mengandung semangat self-empowerment yang dibalur melalui tone yang antemik.

Begitulah, Native jelas merupakan album OneRepublic yang paling memuaskan sampai saat ini. Kita bisa menyimak album ini secara penuh, menelusuri setiap track, nyaris tanpa ada keinginan untuk menekap tombol skip di remote. Selain karena memiliki materi yang lebih kaya secara dinamisasi, akan tetapi juga keinginan OneRepublic untuk terus maju dalam musiknya sehingga hadir dalan aransemen yang cukp berbeda dari biasanya.

To sum it up, Native maybe is an electronic tinged album from OneRepublic, akan tetapi secara umum dia tetap menampilkan musik-musik yang organis. Dan satu yang pasti, jelas merupakan sebuah peningkatan secara kualitas yang signifikan. Ryan Tedder tidak hanya mampu menciptakan lagu-lagu yang berkesan, namun secara vokal juga hadir dengan lebih mapan dan penuh penjiwaan. So, what do you waiting for? Go grab it soon. Native is a one fine pop album that deserve to listen over and over it again.

Official Website

(Haris / CreativeDisc Contributor)

TRACKLIST
1. “Counting Stars” 4:17
2. “If I Lose Myself” 4:01
3. “Feel Again” 3:05
4. “What You Wanted” 4:01
5. “I Lived” 3:54
6. “Light It Up” 4:10
7. “Can’t Stop” 4:09
8. “Au Revoir” 4:50
9. “Burning Bridges” 4:17
10. “Something I Need” 4:01
11. “Preacher” 4:08
12. “Don’t Look Down” 1:39

Related posts

Leave a Reply