Trending News

Blog Post

Album of The Day: The Strokes – Comedown Machine
Album of The Day

Album of The Day: The Strokes – Comedown Machine 

Released by: Sony Music Entertainment Indonesia

Tak selamanya lagu-lagu “sisa” dari produksi album sebelumnya adalah koleksi karya-karya yang kurang layak. Seperti itulah kira-kira gambaran yang ingin dideskripsikan oleh band asal New York ini, The Strokes. Setelah malang melintang kurang lebih selama 15 tahun di dunia musik, mereka sadar bahwa kesuksesan album debut “Is This It” 10 tahun yang lalu merupakan pijakan yang memiliki tingkatan level yang tinggi, sehingga sah-sah saja apabila pada karya-karya selanjutnya mereka memilih untuk bersenang-senang dengan musikalitas yang ingin dijelajahi. Tak terkecuali album ini, “Comedown Machine” yang merupakan album bersenang-senang ala mereka, yang ternyata juga merupakan lagu sisa materi album sebelum-sebelumnya.

Sedikit gambaran, memang album ini terkesan seperti sebuah album PHP atau Pemberi Harapan Palsu. Dibuka dengan lagu yang cukup menjanjikan, “Tap Out” yang diawali dengan lolongan gitar dan dilanjut dengan memainkan riff-riff yang terbagi menjadi 2 layer. Track ini cukup asik untuk dinikmati, sedikit lounge namun dengan bass yang lebih renyah. Lalu ekspektasi pendengar mulai dinaikkan menuju track kedua, “All The Time”, sebuah track yang terkesan memiliki spirit garage scene kota New York dengan beat-beat drum yang menggugah. Ada pula track menarik lainnya, “One Way Trigger” yang terdengar seperti musik pop 80-an ala A-HA atau George Michael. Pada saat-saat ini mungkin anda akan berpikir bahwa album ini sangat menarik. Namun yang terjadi selanjutnya, ya terserah anda mau mengekspektasikannya seperti apa, tetapi menurut saya, The Strokes seperti kehilangan energi pada bagian second half dari “Comedown Machine”.

Saya tahu, memang lagu “80’s Comedown Machine” adalah lagu yang memiliki nuansa yang lambat, namun entah mengapa 5 menit lagu ini tak dapat dimaksimalkan dengan baik oleh mereka. Mungkin saja permainan dinamikanya tak terolah dengan baik. Selain itu vokal Julian Casablancas tak terdengar dengan baik serta asal-asalan di dalam track “Partners In Crime”. Finally, album ini diakhiri dengan “Call It Fate, Call It Karma” yang terdengar seperti dongeng sebelum tidur, dalam artian yang positif tentunya. Walaupun begitu, mereka masih menyuguhkan track-track catchy seperti “Chances” dan juga “Happy Ending”

Seriously, album ini adalah musuh para kritikus pada umumnya. Mereka semua menginginkan The Strokes kembali seperti masa-masa “Is This It” atau “Room on Fire” yang memiliki ciri khas New York scene. Apalagi album ini terbilang sangat didominasi oleh sang vokalis, Julian Casablancas, serta bukan terdengar seperti sebuah album yang dibuat dengan cara band. Sedikit banyak, saya setuju dengan kalimat terakhir, namun bukan berarti disini saya setuju dengan pendapat para kritikus musik di beberapa media musik kebanyakan. Saya menangkap adanya eksperimen bemusik yang sangat hati-hati disini, di satu sisi mereka ingin menanjak menuju stage musik yang lebih luas, namun di satu sisi mereka ingin jati diri mereka sebagai The Strokes tetap terjaga. Sebuah usaha yang patut diapresiasi menurut saya. Mungkin The Strokes merasa lebih baik melakukan diversifikasi musikalitas dengan cara yang pelan-pelan tapi pasti. Ya, mungkin karena itulah sebagian besar lagu-lagu yang terdapat dalam album ini merupakan kumpulan sisa materi-materi pada album sebelumnya. Namun apakah pengalaman selama 15 tahun masih belum cukup bagi The Strokes untuk menggebrak industri musik? Terlalu naif untuk menjawab tidak. Let this album be a real “countdown machine”..

Official Website

(Galih Gumelar / CreativeDisc Contributor)

TRACKLIST
1. “Tap Out” 3:42
2. “All the Time” 3:01
3. “One Way Trigger” 4:02
4. “Welcome to Japan” 3:50
5. “80s Comedown Machine” 4:58
6. “50/50” 2:43
7. “Slow Animals” 4:20
8. “Partners in Crime” 3:21
9. “Chances” 3:36
10. “Happy Ending” 2:52
11. “Call It Fate, Call It Karma” 3:24

Related posts

Leave a Reply