Trending News

Blog Post

Album of The Month: 30 Seconds to Mars – Love, Lust, Faith and Dreams
Album of The Day

Album of The Month: 30 Seconds to Mars – Love, Lust, Faith and Dreams 

Released by: Universal Music Indonesia

Kakak beradik Jared dan Shannon Leto serta Tomo Mili?evi?, yang tergabung dalam band pengusung rock-alternative, 30 Seconds to Mars, pun rupanya ingin kembali memanaskan industri musik dunia dengan album ke empat mereka, Love, Lust, Faith and Dreams. Empat tahun sudah berlalu semenjak album ketiga mereka, This Is War (2009), tentu saja menjadi pertanyaan, apakah Leto bersaudara dan Mili?evi? masih menawarkan hal yang sama atau justru sesuatu yang berbeda?

Up In The Air merupakan single andalan mereka. Secara umum lagu ini masih mengandalkan semangat antemik yang sangat bersemangat, lengkap dengan gimmick chant yang bergemuruh. Seperti biasa, lagu-lagu 30 Seconds to Mars tak luput dari sesuatu yang terdengar dramatis. Begitu juga dengan Up in The Air. Hanya saja, ada yang berbeda kali ini. Mereka dengan sengaja membalut lagunya dengan sentuhan elektro-pop yang catchy. Ini membuat Up in The Air terdengar sangat mudah untuk dicerna. Berbicara soal gimmick, lagunya diluncurkan melalui SpaceX CRS-2 dan dibuat tersedia untuk para kru Expedition 34 dan juga Expedition 35 crew di International Space Station untuk diputar pada tanggal 4 Maret.

Jika harus membanding-bandingkan, Love, Lust, Faith and Dreams memang terdengar agak berbeda dibandingkan dengan album mereka sebelumnya. LAgu-lagu yang terdapat di dalam album ini masih mengusung semangat rock-alternatif tentu saja. Megah dan antemik. Akan tetapi Love, Lust, Faith and Dreams juga terdengar jauh lebih accessible, easy listening, catchy and pop-ish.

Namun jangan kuatir, Love, Lust, Faith and Dreams masih terdengar seperti 30 Seconds to Mars. Hanya saja kini mereka tidak terlalu getol dalam mengejar kegaharan rock dan Leto pun tampaknya tidak terlalu minat untuk berteriak-teriak di setiap lagu.

Seperti kita ketahui, 30 Seconds to Mars tidak pantang untuk mengimbuhi lagu-lagunya dengan elektronika, namun sejalan dengan konsep pop yang tampaknya lebih dikedepankan oleh mereka dalam Love, Lust, Faith and Dreams, elektropop lebih condong mendominasi. Selain Up in The Air, kita juga bisa menyimak Do or Die yang anthemik dan new-wave-ish. Atau Race yang dibuka dengan scoring menggugah ala film-film blockbuster Hollywood, dan kemudian beat elektro segera hadir meski secara umum Race merupakan sebuah lagu rock.

Yang patut disimak adalah bagaimana dalam Love, Lust, Faith and Dreams terdapat banyak sekali aransemen string section yang melodramatis ala film scoring. Simak saja Pyres of Varanasi yang memasukkan potongan nyanyian berbahasa Hindi, namun sebenarnya adalah sebuah nomor instrumentalia yang memadukan antara scoring ala film dengan beat synth-pop new wave.

Simak juga track terakhir Depuis Le Début yang memiliki gaya yang sama. Jika sudah mendengarkan album soundtrack Tron Legacy yang dikerjakan oleh Joseph Kosinski dan Daft Punk, maka lagu ini rasa-rasanya bisa menjadi salah satu track scoring untuk film tersebut. Setelah aransemen yang menggebu tersebut, uniknya track ditutup dengan ala kotak musik yang melantunkan Swan Lake komposisi Tchaikovsky.

Dengan latar belakangnya sebagai seorang aktor, mungkin saja Jared Leto ingin 30 Seconds to The Mars tidak kehilangan akar filmisnya, sehingga kemudian mengaransemen banyak lagunya dengan semangat sinematis. Beberapa lagu tidak hanay terdengar sebagai cocok sebagai sebuah musik scoring, beberapa lain pun terdengar pas sebagai lagu soundtrack sebuah film.

Mendengarkan Bright Lights, sontak kita bisa merasakan suasana romantis tapi sendu memenuhi benak. Memadukan antara synth-pop 80-an dengan elektro-pop bertempo sedang yang kekinian, lagu ini berhasil mencuri perhatian, meski liriknya tak luput dengan menggunakan F word. Leto yang bernyanyi dengan secara lebih lirih sukses dalam mengajak kita untuk larut dalam balutan moody-nya.

Bagi yang kangen dengan 30 Seconds to Mars “yang lama”, tidak usah kuatir juga, karena Love, Lust, Faith and Dreams juga menyediakan beberapa lagu rock alternative yang emo-ish seperti yang kita kenal. Ada Conquistador yang lengkap dengan teriakan khas Leto dan chant bergemuruh. Ada juga City Angels, balada ala 30 Seconds to Mars yang meski mengalun lembut tapi tetap mengandalkan ketukan drum penuh tenaga pada akhirnya. Jangan lewatkan pula Convergence yang dipenuhi dengan distorsi gitar atau Northern Light yang kelam.

Love, Lust, Faith and Dreams ditangani langsung oleh Jared Leto sebagai produser dan juga kolaborator lama mereka, Steve Lillywhite. Dengan sentuhan aspek dramatis pada melodi dan notasi yang lebih kental, Love, Lust, Faith and Dreams memang terdengar seperti menyimak sebuah perjalanan filmis namun dalam bentuk audio.

Namun sekali lagi 30 Seconds to Mars membuktikan jika mereka siap memberikan sebuah album yang sangat layak untuk disimak. Enjoyable and entertaining. Meski memang kini jauh lebih ngepop, bahkan dibandingkan This Is War, sekalipun, namun Love, Lust, Faith and Dreams tetap dipenuhi oleh banyak hal baru serta mereka tidak pernah melupakan akar bermusik mereka.

Official Website

(Haris / CreativeDisc Contributor)


VO by @Cung2

TRACKLIST
1. “Birth” 2:07
2. “Conquistador” 3:12
3. “Up in the Air” 4:36
4. “City of Angels” 5:02
5. “The Race” 3:40
6. “End of All Days” 4:51
7. “Pyres of Varanasi” 3:12
8. “Bright Lights” 4:46
9. “Do or Die” 4:07
10. “Convergence” 2:00
11. “Northern Lights” 4:44
12. “Depuis Le Début” 2:33

Related posts

Leave a Reply