Trending News

Blog Post

Album of the Day: Lorde – Pure Heroine
Album of The Day

Album of the Day: Lorde – Pure Heroine 

Lorde is on fire! Dia juga menaburkan “Pure Heroine” ke dalam sajian New Artist Highlight Januari ini di CreativeDisc.

Down under dalam beberapa tahun belakangan ini tak terbelakang dalam urusan musik. Samantha Jade, Gotye, dan kini Lorde. Sebagai “produk musik”, mereka sudah bisa dipercaya sebagai penyaji sukses dalam setiap aksi yang mereka tunjukkan. Kisah yang beragam pun melatari jalan sukses masing-masing. Teristimewa bagi Lorde yang dinobatkan sebagai New Artist Highlight Januari ini, kita akan kenalan dengan si pemilik suara dibalik monster hit ‘Royals’ ini.

Ella Maria Lani Yelich-O’Connor dilahirkan di Devonport, Auckland, Selandia Baru. Seni yang mengalir dalam darah Lorde adalah turunan dari sang ibu, Sonja, yang berprofesi sebagai penulis sajak. Panduan ibunya mengantarkannya pada seni peran drama dan juga tarik suara. Talenta didukung dengan kecerdasan, membuat ibu dan ayahnya, Vic, tak khawatir dengan prestasi yang harus terbengkalai karena ambisi di dunia seni.

Di sekolah menengah, Lorde ingin menggantungkan harapannya lebih tinggi lagi. Setelah memenangkan lomba nyanyi di sekolahnya, selanjutnya adalah mendapatkan kontrak rekaman dengan Universal. Itu terjadi saat ia masih di usia 14 tahun. Kemampuannya yang memukau label besar tersebut tak hanya terbatas pada kepiawaiannya bernyanyi, tapi juga kemampuannya menulis lagu. Stardom, here she comes!

Menjelang akhir tahun 2012, Lorde mulai “menjual” musiknya. Ia dan label memperkenalkan diri lewat SoundCloud. Album mini dengan judul “The Love Club” diunggah ke situs tersebut untuk dunia nikmati. Respon super positif mereka terima, meyakinkan bahwa album ini harus dirilis secara resmi setahun kemudian. Enggak perlu banyak promo, Lorde sudah tenar dengan sendirinya. Single ‘Royals’ menjadi yang terpopuler di seputar Selandia Baru dan Australia. Taruhan besar label buat untuk memperkenalkan Lorde ke dataran Amerika. Vini, vidi, vici, Lorde menginvasi dengan keunikan sebagai kekuatan utamanya.

Januari ini, banyak yang akan Lorde hadapi. Pertama, kesiapannya bertanding di ajang Grammy. She’s up to 3 awards, including Song and Record of the Year untuk ‘Royals’. Kedua, album “Pure Heroine” yang masih tangguh di jajaran atas album chart. Dan ketiga, menghiasi New Artist Highlight dengan pesonanya. You can call her queen bee! Universal Music Indonesia dan CreativeDisc sangat mengesahkan hal itu untuk terjadi!

(Ai Hasibuan / Creativedisc Contributors)

Released by: Universal Music Indonesia

Siapa itu Lorde? Tiba-tiba saja dia mencuri perhatian melalui Royals, sebuah single yang mencuat di mana-mana dan menduduki tangga lagu. Dan siapa kira perempuan asal Selandia Baru bernama lengkap Ella Maria Lani Yelich-O’Connor ini berusia sangat belia, yaitu 17 tahun (saat itu barus berusia 16 tahun). Single yang terdapat dalam EP The Love Club itu sontak membuat orang bertanya-tanya siapa gadis yang menangkap aura gloomy namun tanpa harus terdengar berlarat? Ia dengan berani memadukan antara Rnb dengan indie-pop serta elektro-pop bertempo sedang yang segar. Vokalnya yang berkarakter juga menjadi andalan tersendiri. Perpaduan unsur-unsur inilah yang membuat kehadiran Lorde menjadi menarik untuk disimak dalam album debutnya, Pure Heroine.

Pure Heroine bisa disebutkan sebagai perpanjangan tangan dari The Love Club. Ia memperkenalkan musik Lorde yang memadukan antara indie-pop, synth-pop, dan elektro-pop namun tanpa harus terdengar cheesy ala bubblegum atau teen-pop. Padahal, secara tematis, Lorde masih membahas hal-hal yang banyak dibicarakan oleh artis sesusianya, yaitu percintaan maupun eksistensi diri.

Akan tetapi, ada sesuatu yang matang dari cara Lorde membawakan lagu-lagunya dan juga aransemennya yang terdengar seperti Lana Del Rey hanya saja dengan tone yang lebih ringan dan mengadopsi musik pop dengan lebih lekat.

Album dibuka dengan vokal berat Lorde mengawali Tennis Court. Pola ketukan beat-nya agak terpengaruh oleh aksen RnB, meski secara nyata dia merupakan sebuah synth-pop yang menekankan pada kata pop. Berat di awal, namun chorus justru menghadirkan ritme yang lebih cair dan ringan.

Album dilanjutkan dengan 400 Lux, yang masih mengadopsi gaya yang serupa hanya saja melodi mendapatkan percabangan ke arah lain. Bayangkan sebuah lagu hip-hop yang dinyanyikan dalam versi yang lebih toned-down dengan pop lebih menjadi fokus meski warnanya tidaklah hilang secara penuh. Gaya yang setipe dapat ditemui dalam Buzzcut Season, Team, Glory and Gore atau track terakhir A World Alone.

Secara umum, Pure Heroine diisi oleh banyak lagu yang memiliki gaya moody yang serupa serta dalam balutan tempo sedang. Akan tetapi Lorde juga dapat tampil ngebeat dalam irama dance ala trance seperti dalam Ribs. Sementara dalam White Teeth Teens ia menghadirkan semangat retro-soul yang uniknya dipadu dengan elektro-pop ringan, membuat lagunya terdengar segar.

Dalam Still Sane, Lorde bernyanyi dengan balutan emosi yang terjaga dalam sad-core atmosferik yang menghanyutkan. Di sinilah kita bisa merasakan semangat gloomy tadi dengan lebih ekstensif, meski tetap saja, ia tidak akan sampai membuat kita yang mendengarkan merasa frustasi.

Sama halnya dengan Lana del Rey, Lorde jelas terpengaruh oleh bubble-gum pop, akan tetapi dia pun tidak lantas terjun bebas dalam ranah yang sama namun dengan berani memilih pendekatan yang mungkin kurang awam bagi penikmat musik pop itu secara umum.

Patut dipuji justru kelebihan Lorde untuk menulis lagu-lagu yang “non-mainstream” akan tetapi tetap terdengar ear-catchy dan easy listening. Padahal setiap lagu dijahit berdasarkan serat yang cenderung tebal dan berat.

Inilah kelebihan Lorde. Ia menulis setiap lagu di album ini. Dan dalam usianya yang tergolong sangat muda itu, ia telah memiliki sense of music jauh di atas rata-rata musisi seusianya. She’s like has this old-soul akan tetapi tidak kehilangan keremajaanya.

Kesuksesan Lorde mungkin juga karena orang sudah bosan dengan penyanyi remaja yang tampil nyaris seragam dengan lagu yang renyah sesaat namun hilang kemudian. Ia menawarkan sesuatu yang “berat” dalam lirik dan musiknya , namun tidak kehilangan semangat bubble-gum pop tadi.

Official Website

Rate the album:
[ratings]

Buy album on iTunes

(Haris / CreativeDisc Contributor)

TRACKLIST
1. “Tennis Court” 3:18
2. “400 Lux” 3:54
3. “Royals” 3:10
4. “Ribs” Little 4:18
5. “Buzzcut Season” 4:06
6. “Team” 3:13
7. “Glory and Gore” 3:30
8. “Still Sane” 3:08
9. “White Teeth Teens” 3:36
10. “A World Alone” 4:54

Related posts

Leave a Reply