Trending News

Blog Post

Album of the Day: Various Artists – The Hunger Games: Catching Fire (Original Motion Picture Soundtrack)
Album of The Day

Album of the Day: Various Artists – The Hunger Games: Catching Fire (Original Motion Picture Soundtrack) 

Released by: Universal Music Indonesia

Selamat datang para tribute ke dalam Hunger Games jilid 2, Catching Fire. Film yang diangkat dari novel Suzanne Collins ini kembali memeriahkan layar lebar dengan aktris pemenang Oscar, Jennifer Lawrence melanjutkan kisahnya sebagai si gadis pemanah Katnis Everdeen. Sebagaimana film pertamanya, The Hunger Games: Catching Fire pun memiliki album soundtrack yang menampilkan barisan artis yang memeriahkan film tersebut.

Seperti halnya album The Hunger Games: Songs From District 12 And Beyond (2012), tidak semua lagu yang terdapat dalam album ini bisa didengar dalam filmnya, kecuali Atlas milik Coldplay yang menjadi lagu penutup saat kredit film bergulir.

Tidak heran jika Atlas dipilih sebagai lagu utama dari The Hunger Games: Catching Fire, karena memang lagu yang ditulis oleh Guy Berryman, Jonny Buckland, Will Champion dan Chris Martin ini memiliki aspek sinematis yang kuat. Mengandalkan denting piano, Atlas adalah semua yang kita harapkan dari balada milik Coldplay. Mulai dari vokal lirih hingga aransemen yang atmosferik menghantui sampai ia kemudian memuncaki chorus yang menggebu. Nothing new actually, meski pastinya akan memuaskan para penggemar lagu-lagu balada ala Coldplay. Aransemen Atlas bahkan dipakai dalam beberapa bagian musik latar filmnya.

Namun, album soundtrack The Hunger Games: Catching Fire tidak hanya memiliki Atlas. Ia juga memiliki barisan judul lain yang tak kalah kuat dan barisan penyanyi/band yang tak kalah hebat. Namun, dibandingkan album untuk film pertama, soundtrack Catching Fire lebih banyak diisi oleh musisi yang lebih dikenal awam. Selain Coldplay, sebut saja ada Christina Aguilera yang once again will scream at the top out of her lung with We Remain. Bukan. Ditulis Aguilera bersama maestro power-ballad, Ryan Tedder juga Mikky Ekko dan Brent Kutzle, memiliki notasi dan melodi yang pasti akan lebih menggugah jika dinyanyikan dengan penuh perasaan dan emosi yang terjaga. Tapi tentu saja kita tidak akan bisa melewatkan Aguilera memamerkan kekuatan vokalnya, bukan?

Mikky Ekko sendiri juga hadir memeriahkan dengan lagu Place For Us yang dibantu oleh Ammar Malik. Vokal khas Mikky Ekko hadir dengan sangat pas membawakan lagu pop-rock mid-tempo yang menghanyutkan ini. Sudah saatnya memang Mikky Ekko menghadirkan album debutnya, karena musik pop yang dibawakannya meski masih berada di wilayah mainstream namun dikemas dengan pendekatan yang lebih eklektik.

Dan album soundtrack yang banyak beredar saat ini tidak akan lengkap tanpa kehadiran Ellie Goulding, Imagine Dragons atau Of Monsters and Men. Ellie Goulding lagi-lagi menawarkan sebuah lagu syahdu untuk disumbangkan dalam film. Dalam The Hunger Games: Cathing Fire ia memberikan Mirror yang masih berbalut dubstep, namun juga mengandalkan ambiance yang moody meski tidak terdengar terlalu gelap juga.

Sementara itu Imagine Dragons menghadirkan Who We Are yang lagi-lagi merupakan eksplorasi band rock ini di ranah elektro-pop, namun dengan kehadiran mars di dalamnya, membuat lagunya terdengar lebih berdentum tanpa kehilangan semangar rock ala Imagine Dragons. Sementara itu band folk-rock yang tengah naik daun, Of Monster and Men menyumbangkan Silhouttes yang pada awalnya terdengar seperti sebuah lagu yang dinyanyikan Karen O bersama Yeah Yeah Yeahs sebelum akhirnya menunjukkan ciri khas band asal Islandia ini.

Pengusung folk yang tengah naik daun lainnya, The Lumineers khusus menghadirkan lagu berjudul Gale Song yang dipersembahkan untuk salah satu karakter utama dalam The Hunger Games, Gale Hawthorne yang diperankan oleh Liam Hemsworth. Pengusung folk-rock yang juga tengah hangat dibicarakan, The National menyanyikan Lean yang terdengar memadukan antara indie-rock dengan folk dalam lagu yang terdengar cukup melankolis. Sementara itu, musisi senior Patti Smith menghadirkan nomor blues rock yang sepertinya dipersembahkan untuk sang karakter utama, Katnis.

Album ini juga menyediakan banyak nama-nama populer lainnya, sebut saja Sia Furler yang akhir-akhir ini lebih sering terlibat sebagai penulis lagu. Khusus untuk The Hunger Games: Catching Fire ia menyanyikan Elastic Heart yang sebenarnya jauh lebih nge-pop dibandingkan lagu-lagu yang biasa dinyanyikannya. Menggandeng The Weeknd dan Diplo, Elastic Heart adalah sebuah elektro-pop-RnB yang sukses karena vokal unik Sia dan The Weekend yang berkolaborasi secara efektif dalam membawa atmosfir gloomy lagunya.

The Weeknd juga tampil solo dalam Devil May Cry. Lagu ini mungkin bisa menjadi contoh dimana penyanyi 23 tahun asal Kanada bernama asli Abel Tesfaye ini merupakan salah satu penyanyi RnB terbaik saat ini. Vokalnya yang lembut mengalun dengan pas saat membawakan lagu yang dengan cerdik memasukkan elemen folk ke dalamnya tanpa harus terdengar gimmicky.

Sementara itu Lorde menawrakan sesuatu yang berbeda dalam Everybody Wants to Rule the World. Ia menghadirkan sensasi epik dan megah dalam lagu ini, meski secara vokal ia masih terdengar grungy seperti biasanya. Jangan lewatkan nomor cantik dari Santigold, Shooting Arrows at the Sky, yang seperti biasa dengan tepat guna menghadirkan synth-pop berbalut new-wave yang segar dan menggugah.

Di antara barisan nama-nama populer ini, bagi yang mengharapkan lagu-lagu dari nama-nama yang relatif kurang terkenal, jangan kuatir karena album masih menyisakan beberapa tempat untuk mereka, meski sayangnya memang sangat sedikit, jika tidak mau disebut sisa-sisa. Phantogram, duo elektro-rock dari New York memberikan Lights yang menghadirkan aransemen manis yang tak terduga. Sementara Antony and the Johnsons mungkin sudah berkarir semenjak tahun 1998, akan tetapi namanya memang relatif kurang dikenal oleh kuping awam. Dengan chamber pop sebagai subgenre yang diusung, tidak heran jika Angel on Fire terdengar begitu melodramatis dan juga sinematik. Pas sebagai penutup album.

Secara umum, dengan hadirnya nama-nama populer, soundtrack The Hunger Games: Catching Fire terdengar seperti sebuah album kompilasi hits ketimbang sebuah repertoar musisi-musisi gress dengan pilihan lagu yang segar seperti umumnya sebuah album soundtrack, terutama untuk film young adult atau remaja. Bahkan The Hunger Games: Songs From District 12 And Beyond pun masih menawarkan koleksi seperti ini.

Perpindahan supervisi musik dari T Bone Burnett (Across the Universe, Walk the Line dan up-and-coming Inside Llewyn Davis) ke Alexandra Patsavas mungkin bisa menjadi penyebabnya. Pilihan Patsavas untuk menghadirkan nama-nama yang lebih populer dan nge-pop sebenarnya juga sudah ditunjukkanya di soundtrack The Twilight Saga: Eclipse (2010). Mungkin ini sudah merupakan bagian dari modus operandinya, sehingga memang sulit untuk dihindarkan.

Bukan berarti jelek, akan tetapi sulit juga untuk menafikan beberapa lagu terkesan hit-and-miss, tidak pas atau kurang menangkap atmosfir filmnya. Lagu-lagu dalam album ini jelas bagus-bagus, akan tetapi cenderung berdiri sendiri ketimbang memberi kontribusi yang efektif untuk aspek tematis filmnya. Dan ini mungkin terjadi karena Patsavas ingin albumnya terdengar lebih high-profile dengan barisan artis yang tengah naik daun.

Rate the album:
[ratings]

Buy album on iTunes

(Haris / CreativeDisc Contributor)

TRACKLIST
1. “Atlas” 3:56
2. “Silhouettes” Of Monsters and Men 4:31
3. “Elastic Heart” (featuring The Weeknd and Diplo) Sia Furler 4:18
4. “Lean” The National 4:31
5. “We Remain” Christina Aguilera 4:00
6. “Devil May Cry” 5:23
7. “Who We Are” Imagine Dragons 4:09
8. “Everybody Wants to Rule the World” Lorde 2:35
9. “Gale Song” The Lumineers 3:05
10. “Mirror” Ellie Goulding 4:21
11. “Capitol Letter” Patti Smith 3:33
12. “Shooting Arrows at the Sky” Santigold 3:36
13. “Place for Us” Mikky Ekko, Ammar Malik 3:31
14. “Lights” Phantogram 3:45
15. “Angel on Fire” Antony and the Johnsons 3:47

Related posts

Leave a Reply