Trending News

Blog Post

Album of the Day: Arcade Fire – Reflektor
Album of The Day

Album of the Day: Arcade Fire – Reflektor 

Released by: Universal Music Indonesia

Sebagai sebuah band (baik memakai embel-embel indie rock ataupun rock) rasanya Arcade Fire sudah lengkap. Sudah punya nama dimana-mana, selalu jadi headliner festival, penjualan albumnya selalu mencapai jutaan kopi bahkan mendapat penghargaan yang paling bergengsi dengan merebut nominasi utama di Grammy yakni Album of The Year 2011 untuk “The Suburbs”. Setelah Arcade Fire memenangkan Grammy semuanya langsung jatuh hati dengan musik Arcade Fire yang antemik, kritis, sendu, mengawang, megah dan epik. Mungkin setelah “The Suburbs” orang-orang pun menebak seperti apa album keempat dari band asal Kanada ini.

Tradisi merilis album setiap 3 tahun masih dipertahankan band ini dari “Funeral” pada 2004 sampai album terbarunya “Reflektor” yang dirilis 2013 ini. Sebelumnya sudah terdengar bahwa James Murphy yang notabene merupakan salah satu orang yang bertanggung jawab atas scene indie-dance di era 2000an berkat LCD Soundsystem dan DFA Record duduk di bangku produser bersama Markus Dravs yang sudah bekerja bareng mereka dari debut albumnya. Setelah orang-orang mengetahui Murphy menjadi produser maka album terbaru Arcade Fire akan terdengar sedikit dance dan benar saja mereka sedikit melanggar pakem musik mereka yang sudah ditata di tiga album awal mereka via Reflektor yang menggunakan cara viral marketing sebagai cara untuk mempromosikan album keempat mereka. Benar saja cara ini berhasil membuat album ini berada di puncak UK Albums Chart dan US Billboard 200 pada saat minggu pertama album ini dirilis.

Unsur disco yang penuh kegelapan dengan sedikit bumbu funk, selipan vokal David Bowie dan four-to-the-floor music menjadi satu senyawa yang padu dalam “Reflektor” yang dipasang jadi single pertama. They reinventing the “funky” word itself. Track yang sebenarnya tidak terlalu upbeat ini bisa menggetarkan lantai dansa karena unsur catchy bisa kita dapatkan disini tanpa harus menghilangkan scenery indie rock ala mereka. “We Exist” melanjutkan apa yang “Reflektor” berikan. Karena masih menyambung “Reflektor” track ini juga mempunyai benang merah disco dengan indie rock sebagai pelengkap lagu. Bukan Arcade Fire namanya kalau tidak menciptakan unsur drama dan kolosal dan di lagu ini meskipun bernada cukup ceria mereka tetap menyelipkan hal tersebut. They play dub music with carribean music influence too, hal itu bisa kita dengar di “Flashbulb Eyes”. Mereka memang mengambil sedikit tema Haiti di album ini, dan mungkin track ini bisa melambangkan tema tersebut. Dibuka dengan drum ala karnaval “Here Comes The Night Time” adalah fusi antara reggae, carribean music, funk, new wave dan latin. Disini Arcade Fire bermain bukan seperti diri mereka, di lagu ini mereka bertransformasi menjadi sebuah band yang datangnya dari ranah Kepulauan Karibia. Pure dance track. Dengan berujar sinis Butler membuka “Normal Person” dengan lirik “Do you like rock n’ roll music? Cause I don’t know if I do”, mereka memasukkan unsur blues rock dengan sensasi vokal rock n roll ala Mick Jagger atau Pete Townshend. Dan di nomer berikutnya “You Already Know” menyerang kita dengan musik folk yang riuh dengan permainan protopunk. Ada tiga kesamaan di track “Here Comes The Night Time”, “Normal Person” dan “You Already Know”, musik ala Haiti beserta kepulauan Karibia disekitaranya dan juga unsur live yang ditawarkan ketiga lagu ini (riuhan tepuk tangan penonton, beberapa voiceover dari MC dan suasana konser yang muncul) menjadi persamaan dari ketiga lagu tersebut. Ketiga lagu ini memang dipengaruhi sewaktu mereka mengadakan konser pertama kalinya di Haiti dimana masalah kemakmuran, kesenjangan sosial, tingkat pendidikan dan lingkungan menjadi masalah besar di negeri tersebut (bahkan menurut Arcade Fire sewaktu mereka konser disana penonton tidak ada yang tahu band classic rock) sehingga Arcade Fire membuat sebuah penghargaan kepada Haiti yang menginspirasi mereka di ketiga lagu ini dengan mencampurkan unsur musik tradisional Haiti seperti kompa meringue dan rara music ke dalam album ini. Pada awal “Joan of Arc”, hentakan musik punk dihdirkan sebelum berlanjut ke musik progressive rock dan psychedelic rock ala Pink Floyd.

Bagian kedua album ini dibuka “Here Comes The Night Time II” yang merupakan bagian kedua dari “Here Comes The Night Time” dan dilanjutkan oleh “Awful Sound (Oh Eurydice)” dan “It’s Never Over (Hey Orpheus)”, dua track yang terinspirasi dari kisah Orpheus dan Eurydice. “Awful Sound (Oh Eurydice)” sendiri bermain di ballad, sedangkan “It’s Never Over (Hey Orpheus)” terinspirasi dari sound ala David Bowie di era 70’an dan 80’an. Percampuran art rock, post-punk sampai new wave ada disini. Influence dari James Murphy juga sangat terlihat di lagu ini terutama di kompartemen drum dan permainan synth yang berani dan unik. Mereka menanggalkan semua instrumen analog dan bermain menggunakan synth, keyboard, loop dan sample di track yang paling electronic (dan sangat LCD Soundsystem) di album ini yaitu “Porno”. “Afterlife” merupakan track yang seolah mengulang kembali track awal mereka “Reflektor” namun dengan atmosfir yang danceable dan banyaknya pengaruh synth juga musik new wave, sedangkan track penutup “Supersymmetry” terdengar akan lebih baik jika mereka membuang 6 menit terakhir di track ini.

Ada beberapa kelemahan di album ini. Yang pertama adalah ada beberapa track yang durasinya terlalu panjang dan tidak penting untuk dimasukkan dan yang kedua adalah bagian pertama di album ini jauh lebih berani dan berkualitas ketimbang bagian kedua yang flownya lambat dan sedikit standar tanpa mempunyai sesuatu yang membuat bagian kedua album ini didengarkan berkali-kali.

Di album barunya ini Arcade Fire cukup berani melanggar pakem bermusiknya. Album keempat Arcade Fire ini boleh jadi dikatakan bukanlah album terbaik mereka sepanjang mereka merilis album karena di album ini seolah mereka kehilangan jati diri. Namun sebagai sebuah record yang berdiri sendiri tanpa perlu melihat karya mereka sebelumnya album ini sangat ambisius dan catchy. Arcade Fire cukup berhasil dalam “reinventing themselves” di album ini dengan memasukkan unsur-unsur yang mereka belum pernah coba sebelumnya (atau sudah pernah dicoba tapi tidak utuh ditampilkan). Arcade Fire juga pintar melihat iklim musik sekarang yang sedang digandrungi oleh musik disco yang dicampur dengan unsur elektronik atau indie sehingga “Reflektor” ini muncul pada waktu yang pas dan relevan. Meskipun ada beberapa kelemahan dan juga hal yang cukup aneh di album ini setidaknya “Reflektor” masih menjadi salah satu record yang berkualitas di antara record lain di tahun ini. “Reflektor” juga membuktikan bahwa Arcade Fire masih belum habis dan terus menyeimbangkan idealisme bermusiknya dengan komersialisasinya. It seems the word “quality” never went away from them dan terbukti “Reflektor” menjadi record yang masih Arcade Fire dengan unsur-unsur dance sehingga album ini adalah restart untuk mereka dan membuat orang akan memberikan ekspektasi lebih lagi di album ke-lima mereka (mungkin) di 2016 nanti.

Official website

Rate the album:
[ratings]

Buy album on iTunes

(Luthfi / CreativeDisc Contributor)

TRACKLIST
Disc one
0. “Reflective Age (Pre-Gap Hidden Track)” 10:02
1. “Reflektor” 7:34
2. “We Exist” 5:43
3. “Flashbulb Eyes” 2:42
4. “Here Comes the Night Time” 6:30
5. “Normal Person” 4:22
6. “You Already Know” 3:59
7. “Joan of Arc” 5:24

Disc two
1. “Here Comes the Night Time II” 2:51
2. “Awful Sound (Oh Eurydice)” 6:13
3. “It’s Never Over (Oh Orpheus)” 6:42
4. “Porno” 6:02
5. “Afterlife” 5:52
6. “Supersymmetry” 11:16

Related posts

Leave a Reply