Trending News

Blog Post

Top 25 Album of 2013
Album of The Day

Top 25 Album of 2013 

Selamat tinggal 2013, selamat datang 2014. Di awal tahun ini, CreativeDisc khusus mempersembahkan 25 judul album yang dianggap terbaik oleh tim Creative Disc. Tahun 2013 memang tahun yang cukup meriah dalam bidang musik, termasuk dengan rilisnya banyak album bagus. Banyak sekali catatan-catatan menarik yang terjadi di tahun 2013. Memilih 25 di antaranya tentunya memerlukan kesulitan tersendiri dan sebuah daftar seperti ini tidak terlepas dari unsur subjektifitas. Akan tetapi, tanpa banyak basa-basi lagi, berikut Top 25 Album of 2013 versi kontribbutor Creative Disc.

25. Justin Timberlake – The 20/20 Experience 2 of 2
The 20/20 Experience – 2 of 2 masih membuktikan jika Justin Timberlake tidak hanya seorang penyanyi. Ia juga musisi dan konseptor ulang. Ia merupakan sebuah paket ganda yang berlaku layaknya cermin bagi arah musikalitas seorang Justin Timberlake. Ia membuktikan jika Timberlake sama sekali tidak meninggalkan ranah pop yang membesarkan namanya, namun di lain pihak masih menghadirkan musik yang berkelas. Full review.

24. Demi Lovato – Demi
Hal terbesar yang Demi Lovato lakukan untuk album terbarunya, “Demi” ini adalah keterlibatan yang lebih dalam. Artis yang berusia 20 tahun ini menyatakan bahwa dirinya begitu mendalami peran sebagai pencipta lagu, sehingga harapannya besar bagi pendengar untuk bisa menikmati sajian dari hati ini. Saat sebuah album hadir dengan judul selftitled, harus diakui terbentuk sebuah ekspektasi bahwa album tersebut akan menjadi statement keras, atau pengelupasan jati diri si artis. “Demi” bagi Demi Lovato adalah lompatan kembali ke asal, gaya pop rock yang sejatinya membuat ia bertempat di industri musik. Full review

23. Arctic Monkeys – AM
Arctic Monkeys memilih untuk memundurkan linimasa evolusi musik dari album ke album dan menurut saya hal tersebut cukup unik bagi ukuran band yang besar di dekade 2000an, terlebih mereka berhasil menginterpretasi kemunduran linimasa tersebut ke dalam kumpulan karya yang cukup segar dan memiliki identitas tersendiri. Dan sebagai sebuah album yang memperlihatkan dimensi baru bermusik Arctic Monkeys, “AM” akan menimbulkan polarisasi reaksi bagi para penikmatnya. Hanya ada dua pilihan, antara betul-betul menyukainya atau betul-betul membecinya. Full review

22. Jessie J – Alive
Perjalanan Jessie J untuk mewujudkan album keduanya ini adalah sebuah perjalanan yang berat. Bayangkan, ia mempersiapkan waktu seumur hidupnya untuk album pertama, sementara album yang kedua ini dia hanya memiliki kurang lebih dua tahun saja. Dua tahun itu pun bukan berarti bahwa ia tersekap di dalam studio untuk fokus pada “Alive“, judul album keduanya ini, tapi ia juga harus melakukannya sembari menderita akibat cedera kaki, kesibukan mengisi soundtrack untuk sejumlah film, dan juga mengikuti kegiatan amal dengan membabat habis rambutnya, yang kini menjadi gaya pribadi yang ia embrace. Full review

21. Miley Cyrus – Bangerz
Ketika membaca “Bangerz” sebagai tajuk album, sepertinya ekspektasi bermunculan kalau album ini sepenuhnya akan menggertak. Tapi syukurlah tak demikian adanya. Dinamika terjadi disini. Dengan dirilisnya album ini, saatnya media dan publik tak lagi terpengaruh dengan segenap kegilaan yang Miley hadirkan. Tapi mereka punya bahan telaahan baru yang bisa jadi akan mengaburkan segala ketidaksesuaian lalu dan menggantikannya dengan pencapaian artistik bintang muda ini. Full review.

20. Eminem – The Marshal Matters LP 2
Tigabelas tahun setelah The Marshall Mathers (2000) dan beberapa album di antaranya, Eminem alias Marshall Bruce Mathers III alias Eminem (no pun intended) merilis sebuah sekuel yang diberi judul The Marshall Mathers LP 2. Dan Slim Shady pun kembali mengangkat isu-isu yang familiar, dendam, kemarahan, patah hati dan hal-hal yang gay unfriendly lainnya. Tujuh belas tahun setelah Infinite, ia tidak banyak berubah. Akan tetapi, setidaknya Eminem kini sadar jika ciri khasnya masih bisa dieksploitasi untuk mempertahankan ciri khasnya. Apakah semua emosi yang terhimpun dalam album ini asli atau buatan, itu semua mungkin hanya Eminem dan Tuhan yang tahu. Full review.

19. James Blake – Overgrown
Selamat datang ke dunia James Blake, di mana soul, jazz, RnB bahkan gospel berpadu dengan dubstep dan elektronika. Dunia di mana moody dan sedikit kelam akan mewarnai saat menyimaknya. Dunia di mana eklektisme musiknya akan dibawakan oleh vokalnya yang penuh dengan aura misterius. Dengan Overgrown, sekali lagi James Blake membuktikan jika ia merupakan seorang musisi muda yang memiliki visi yang jenial dan memiliki konsep album yang memikat. Sebuah album “alternatif” yang sangat layak buat disimak. Full review.

18. Britney Spears – Britney Jean
Dengan mengedepankan namanya sebagai judul album, Britney Spears mengklaim album ini sebagai album paling personalnya. Well, mendengarkan albumnya, jujur sulit untuk mencari sisi personal dari seorang Britney Jean, akan tetapi sebagai seorang sensasi pop bernama Britney Spears, jelas merupakan album yang mencolok. bagi yang setia dengan imej yang dibangun oleh Britney Spears, Britney Jean merupakan sebuah album yang sangat layak untuk disimak dan ia belum gagal untuk mengajak kita untuk larut dalam pesonanya sebagai penampil pop yang tahu bagaimana untuk menampilkan musik pop itu dengan baik. Britney Spears jelas masih merupakan salah satu yang terbaik, tidak hanya untuk generasinya akan tetapi juga untuk skena pop masa kini dan juga masa depan. Full review.

17. CHVRCHES – The Bones of What You Believe
CHRVCHES, nama panas dalam ranah musik elektronik terutama di bidang synthpop/electropop. The Bones of What You Believe, debut albumnya, CHRVCHES juga mampu membuktikan bahwa musik dreamwave atau dream pop yang biasanya terdengar berat atau terlalu atmosferik dan mengawang bisa dibawakan begitu enak dan catchy berkat racikan mereka mengolahnya ke dalam musik synthpop ala 80?an yang groovy dan penuh dengan beat yang megah. Jadi jangan heran bila banyak yang memuji album debut mereka karena mereka mampu menciptakan lagu yang seru dan ringan dengan genre yang bisa dikatakan susah dicerna oleh masyarakat dan berat. Full review.

16. Paramore – Paramore
Terlepas dari berbagai latar belakang yang membuat album keempat Paramore harus berjarak empat tahun dari album sebelumnya, Hayley Williams bersama teman-temannya yang baru membuktikan jika Paramore masih mampu menghadirkan sebuah album yang sangat artikulatif. Tidak hanya sangat enjoyable, album ini juga memiliki kualitas yang dapat dipertanggungjawabkan serta dapat menjadi pernyataan jika Paramore tidak pergi kemana-mana. Full review.

15. Ellie Goulding – Halcyon Days
Entah murah hati atau ingin mencurahkan semangat berkaryanya, Ellie Goulding tampaknya sangat rajin dalam mempermak album-albumnya. Setelah album debutnya, Lights (2010) pun hadir dalam berbagai bentuk repackaged, maka kini giliran album sophomore-nya, Halcyon (2012), mendapat treatment serupa. Halcyon Days namanya. Album ini benar-benar melimpah dengan, tentu saja, Ellie Goulding. Siapa yang bisa menolak limpahan 21 lagu yang terkandung di dalamnya. Maka, Halcyon Days tidak hanya tepat bagi para penggemarnya akan tetapi juga cocok bagi yang ingin memulai untuk mengenal Ellie Goulding. Full review.

14. Avril Lavigne – Avril Lavigne
Dan dalam album kelimanya, Avril memilih sebuah album yang berjudul sesuai dengan namanya, Avril Lavigne.Oh yes, Avril Lavigne masih terdengar sangat Avril Lavigne. Bukan sebuah album yang menandakan kedewasaan. Tampaknya kita masih belum bisa mengharapkan Lavigne melepaskan trade-mark-nya sebagai princess of rock. Ia masih muda, berjiwa pemberontak, dan terdengar sedikit labil. Akan tetapi Avril Lavigne juga memiliki banyak lagu yang menyenangkan untuk disimak tanpa harus dipaksakan terdengar remaja. Dan ini menunjukkan jika Avril Lavigne masih merupakan seorang musisi yang patut diandalkan. Full review.

13. Sara Bareilles – The Blessed Unrest
Sara Bareilles kini menjadi nama yang diperhitungkan, nama dengan tingkat antusiasme yang tinggi. Album keempatnya, The Blessed Unrest yang dirilis di pertengahan 2013 ini adalah sajian matang dalam takaran kolaborasi baru, yang lagi-lagi menantang bagi nilai keartisan. Syukurnya, peruntungan tersebut hadir, mampu memberi cap “paid-off”. Musik Sara bukan bergeser, namun meningkat. Ia menghadirkan kematangan dengan masih menyisipkan aroma playful dalam album ini. “The Blessed Unrest” pasti mengangkat nama Sara Bareilles ke level sukses baru, karena akan lebih banyak orang yang menginginkan musiknya. Full review.

12. Icona Pop – This is…Icona Pop
cona Pop. Nama yang akhir-akhir ini cukup sering wara-wiri di skena musik pop dunia. Duo asal Swedia yang terdiri atas Caroline Hjelt dan Aino Jawo ini cukup sukses dengan single demi single seru serta album debut mereka, Icona Pop. Kini mereka melanjutkan kesuksesan tersebut dengan album kedua mereka, serta debut internasional mereka, This Is… Icona Pop. This Is… Icona Pop tidak pernah membosankan. Setiap lagu dipastikan akan sangat memuaskan untuk disimak. Sebuah debut menyenangkan yang sayang untuk dilewatkan. Full review.

11. Kings of Leon – Mechanical Bull
Kings of Leon kembali lagi dengan Mechanic Bull yang menegaskan jika mereka merupakan band rock yang cukup stabil namun tidak terjebak dalam stagnansi akan tetapi terus mencoba formula baru.Mechanical Bull menunjukkan kematangan Kings of Leon sebagai musisi serta merupakan pamer ketajaman mereka dalam meramu formula album yang juara. Rasa-rasanya dengan mudah kita bisa mengatakan jika Mechanic Bull merupakan salah satu album terbaik tahun ini. Full review.

10. One Direction – Midnight Memories
Midnight Memories is better than Take Me Home but not more than Up All Night. Di lbum ini One Direction bukan memainkan permainan melainkan menggali lebih dalam. Midnight Memories adalah album yang mengantarkan kelima cowok asal UK ini ke arah musik yang lebih dewasa. Meskipun demikian, tetap saja ada area abu-abu yang dimanfaatkan sebagai playground untuk memikat pendengar lebih luas sekaligus mempertahankan fanbase yang sudah terbentuk. Full review.

09. Avicii – True
Tim Bergling atau yang lebih populer dengan Avicii saat ini merupakan salah satu pendatang baru dalam skena progressive house sekaligus merupakann komoditas panas. Padahal, beberapa tahun lalu mungkin hanya sedikit yang mengenal dirinya. Namun, sekarang ia mungkin salah satu nama yang cukup diperhitungkan, yang terbukti dengan sambutan meriah untuk album debutnya , True. Ia bukan DJ biasa yang mengejar sensasi buble-gum pop yang seru namun kemudian menghilang tanpa bekas. Dan rasa-rasa-nya True cukup sukses dalam menjalan tugasnya. Ia tidak hanya menghibur, namun juga memberi sebuah penanda akan gaya bermusik Avicii kepada kita, para pendengar musik.Full review.

08. Disclosure – Settle
Wajar saja jika Settle disambut dengan baik, karena sebagai sebuah album debutan, Disclosure menunjukkan sense of music yang matang serta kemampuan mengkomposisikan lagu dengan presisi yang tepat, seolah-olah mereka telah kenyang makan asam garam di skena EDM ini. Well, Guy baru berusia 21 sedang adiknya Howard, baru menginjak 18 tahun. So yes, age ain’t a thing but number right? Settle adalah album yang istimewa dan Disclosure merupakan pendatang baru yang sinarnya mencorong. Bukan tidak mungkin ke depannya, duo kakak beradik Guy dan Howard Lawrence ini akan menjadi sosok-sosok penting dalam skena electronic dance music, tidak hanya Inggris namun juga dunia. Full review.

07. Bastille – Bad Blood
Inggris tampaknya memang selalu bisa diandalkan dalam memberikan nama-nama baru yang menjanjikan dalam industri musik, termasuk grup baru bernama Bastille ini. Awalnya dibentuk Dan Smith sebagai proyek solo, kini Bastille juga terdiri atas Chris ‘Woody’ Wood, Kyle Simmons dan Will Farquarson. Setelah merilis sebuah EP berjudul Laura Palmer di tahun 2011, kini mereka siap memeriahkan skena pop-rock dengan album debut, Bad Blood.Overall, Bad Blood ini adalah album yang sangat enjoyable. Terlepas dari beberapa kemiripan ataupun tuduhan jenerik kepada lagu-lagunya, Bastille sukses menghadirkan album ini dalam lagu-lagu easy listening yang menarik. Setiap track hadir dengan memikat dan secara keseluruhan menyatu sebagai album yang tidak membosankan sama sekali. Full review.

06. Daft Punk – Random Access Memories
Di saat musik elektronik makin berisik soundnya (thanks to dubstep) dan makin mengandalkan komputer. Daft Punk, duo robot asal Perancis ini malah membuat musik 70?an dan 80?an, Yap album studio keempat mereka Random Access Memories menawarkan kembali “the glory era of disco music”. Album ini bisa menyatukan genre yang dicintai hampir semua pendengar mulai dari pop, r&b, disco, easy listening, jazz fusion, funk, soft rock bahkan sampai prog-pop sekalipun. Jadi wajar bila album ini mendapat review yang sangat positif dari berbagai kalangan karena permainan paradoks ala Daft Punk ini bisa dikatakan sukses dan berhasil, tanpa kesan “terpaksa” vintage, natural, tidak out of date dan juga mampu membius berbagai kalangan. Full review.

05. OneRepublic – Native
Senang sekali mendengarkan Native, album ketiga OneRepublic, karena tampaknya mereka terus berkembang dalam musiknya dan tidak berkutat dalam ranah aman seperti untuk terus bermain dalam musik yang membuat mereka terkenal dalam album debut mereka, Dreaming Out Loud (2007). To sum it up, Native maybe is an electronic tinged album from OneRepublic, akan tetapi secara umum dia tetap menampilkan musik-musik yang organis. Dan satu yang pasti, jelas merupakan sebuah peningkatan secara kualitas yang signifikan. Ryan Tedder tidak hanya mampu menciptakan lagu-lagu yang berkesan, namun secara vokal juga hadir dengan lebih mapan dan penuh penjiwaan. Full review.

04. Lady Gaga – ArtPop
Menghadirkan sesuatu yang ambisius sepertinya sudah menjadi tekad Lady Gaga semenjak album keduanya, Born This Way. Makanya, tidak mengherankan jika ia menyusul dengan ARTPOP, sebuah album, yang sama dengan Born This Way, mungkin perlu waktu untuk dapat benar-benar dimengerti dan (tentunya) dinikmati. Setelah kita cukup familiar dengan materinya, yang tentunya bisa terjadi jika kita sudah mendengarkan Artpop dalam frekuensi lebih dari empat kali, barulah kita dapat mencerna setiap lagu dalam album ini dengan baik. Dan kita kemudian menyadari jika Gaga masih merupakan artis pop terdepan yang mungkin terlihat tidak kompromistis, akan tetapi pada dasarnya tetap merupakan seorang penampil yang peduli dengan pendengarnya. Full review.

03. Katy Perry – Prism
Bisakah kita sebut Katy Perry sebagai reigning Queen of Pop? Dari segi fans dan penjualan album, itu mungkin saja. Namun, sebagai seorang musisi, jelas Katy Perry masih memerlukan banyak waktu untuk membuktikan eksistensi dirinya. Kini hadir persembahan terbarunya, sebuah album yang berjudul sederhana, namun sepertinya berjuta makna, Prism. Prism jelas merupakan sebuah album pop yang menyenangkan untuk disimak bagi penikmat musik pop ringan. Penuh dengan lagu-lagu manis dan catchy yang siap menemani pendengarnya. Katy Perry sepertinya memang tidak berniat untuk mengejar prestise artistik bermusik tertentu. Ia hanya ingin menampilkan pop pada sosok terdepannya bukan mengejar “tahta” yang didambakan oleh banyak insan musik pop. Dan rasa-rasanya ia cukup berhasil untuk itu. Full review.

02. Justin Timberlake – The 20/20 Experience 1 of 2
The 20/20 Experience adalah album yang istimewa. Tidak hanya menandakan kembalinya Justin Timberlake ke skena musik yang membesarkan namanya, namun juga merupakan sebuah album berkelas yang mampu memadukan antara semangat “old-soul” dengan kemapanan musik masa kini. Dan ia berhasil karena JT merupakan seorang musisi yang brilian. Ia tidak hanya dianugerahi oleh vokal yang juara akan tetapi selera musik yang bagus. Dan ia membuktikan jika para pengekornya harus belajar lebih banyak jika ingin memiliki kualitas bermusik yang berkelas dan matang sepertinya. Full review.

01. Lorde – Pure Heroine
Siapa itu Lorde? Tiba-tiba saja dia mencuri perhatian melalui Royals, sebuah single yang mencuat di mana-mana dan menduduki tangga lagu. Dan siapa kira perempuan asal Selandia Baru bernama lengkap Ella Maria Lani Yelich-O’Connor ini berusia sangat belia, yaitu 17 tahun (saat itu baru berusia 16 tahun). Single yang terdapat dalam EP The Love Club itu sontak membuat orang bertanya-tanya siapa gadis yang menangkap aura gloomy namun tanpa harus terdengar berlarat? Ia dengan berani memadukan antara Rnb dengan indie-pop serta elektro-pop bertempo sedang yang segar. Vokalnya yang berkarakter juga menjadi andalan tersendiri. Perpaduan unsur-unsur inilah yang membuat kehadiran Lorde menjadi menarik untuk disimak dalam album debutnya, Pure Heroine. Kesuksesan Lorde mungkin juga karena orang sudah bosan dengan penyanyi remaja yang tampil nyaris seragam dengan lagu yang renyah sesaat namun hilang kemudian. Ia menawarkan sesuatu yang “berat” dalam lirik dan musiknya, namun tidak kehilangan semangat bubble-gum pop tadi. Full review.

(Haris / Creative Disc Contributor)

Apa album terbaik di tahun 2013 versi kamu?

Related posts

Leave a Reply