Trending News

Blog Post

Album of the Day: Mogwai – Rave Tapes
Album of The Day

Album of the Day: Mogwai – Rave Tapes 

Released by: Sony Music Entertainment Indonesia

Setelah merilis “Hardcore Will Never Die, But You Will” di tahun 2011, tampaknya tak ada tanda-tanda bagi band post-rock asal Skotlandia, Mogwai untuk ikut-ikutan mati dalam derasnya arus elektrifikasi yang mereka usung sendiri. Malah, album berikutnya merupakan sebuah pertanda kalau mereka benar-benar perduli dengan mainan baru mereka kini. Ibarat kata, senjata makan tuan. Mereka mengumpan diri mereka sendiri dengan berbagai elemen bermusik yang belum mereka gunakan sebelumnya, namun yang terjadi adalah mereka malah keasyikan dan seolah-olah tak menunjukkan kata berhenti. Dan hal tersebut semakin mereka lanjutkan di album ke-delapan yang bertajuk “Rave Tapes”.

Jangan bayangkan irama pecah belah, depresi berkepanjangan, atau musik bising dalam menyikapi judul album ini. Sebaliknya, “Rave Tapes” berisi sekumpulan bunyi-bunyian dingin yang (kini) didominasi oleh bunyi-bunyian synthesizer yang merengek-rengek. Hal ini cukup menarik mengingat tepat beberapa bulan sebelumnya Mogwai juga merilis sekumpulan soundtrack bagi sebuah acara televisi Perancis yang berbunyi 180 derajat dengan “Rave Tapes”. Namun walaupun begitu, Mogwai tetaplah Mogwai. Jika anda gemas dan sering mempertanyakan mengapa Mogwai tak pernah menciptakan sebuah “ledakan” dalam karya-karyanya, mungkin kekecewaan anda tak akan pernah terobati. Mereka masih seperti yang dulu, membiarkan irama-irama yang mereka susun berbicara sendiri tanpa harus mereka kendalikan.

Album dibuka dengan track “Heard About You Last Night”, sebuah track yang tak terdengar pretensius namun masih tetap terdengar ambisius. Riff-riff gitar yang renyah berpadu dengan dentingan keyboard berhasil membangun sebuah alur yang mistis. Kedua instrumen tersebut berjalan masing-masing namun masih tetap berpijak pada satu benang merah dan diakhiri dengan serangan synthesizer yang terdengar begitu sci-fi. Lebih banyak serangan synthesizer lagi pada track “Simon Ferocious”, namun kali ini dengan pola lagu yang lebih terbaca dibandingkan track sebelumnya. Permainan bass yang apik serta synthesizer menjadi kunci pada puncak dinamika lagu ini dimana kedua instrumen tersebut membangun tekstur, tak sekedar mengisi bebunyian yang terdapat di dalamnya.

Kemudian track dilanjut dengan “Remurdered”. Awalnya anda hanya akan mendengar strumming gitar yang sayup-sayup serta irama keyboard, namun adanya perubahan dentuman bass drum, gemericik hi-hat, serta electro-pad menjadi drum yang diiringi dengan synthesizer (lagi) di pertengahan lagu seolah-olah memberi sinyal adanya multiinterpretasi. Bisa jadi hal itu merupakan representasi dari adanya hasrat yang kuat, bisa jadi perubahan itu adalah emosi yang semakin agresif. Tapi yang pasti anda akan merasakan energi yang semakin kuat dan stagnan hingga akhir lagu. “Repelish” diawali dengan ucapan yang mereplikasi ucapan Michael Mills yang mendiskusikan adanya pesan-pesan setan di dalam lagu “Stairway to Heaven” milik Led Zeppelin. Kontroversial memang, namun dengan iringan musik yang sedikit bernada kecewa serta terkesan sinis, seolah-olah Mogwai seperti “mengasihani”replikasi ucapan Mills. Dan bahkan terkesan mengolok-olok. Benarkah? Ya, album ini mungkin terdengar multiinterpretatif. Tapi bukankah hal tersebut justru malah membangkitkan naluri sejati seorang manusia, yaitu berpikir? Apapun alasan Mogwai, yang pasti album ini bukanlah tipe album yang bisa anda pakai untuk pesta piyama.

Memasuki bagian akhir album, track “No Medicine for Regret” kembali merangsang telinga dengan bunyi-bunyian synthesizer serta distorsi gitar halus yang melingkupi latarnya. Seolah-olah anda diberi pilihan, mendengarkan layer utama musiknya yang menenangkan atau layer lainnya yang terdengar “menakutkan”. Namun pada dasarnya kedua layer tersebut sangatlah padu walaupun memang antara layer utama dengan layer lainnya seperti dua sisi yang berbeda dan kemudian disatukan dalam satu alur musik yang sama. Penggunaan vocoder kemudian mewarnai “The Lord is Out of Control” yang seolah-olah menggaungkan melankolia menyakitkan. Benar-benar penutup yang terdengar ironis.

Bagi saya pribadi, menikmati “Rave Tapes” seperti mengoptimalkan sense-sense personal sebagai seorang manusia. Ya saya tahu ini agak hiperbolis, silahkan tertawa saja sesuka hati anda. Saya menyatakan hal ini karena saya rasa “Rave Tapes” bukanlah sekadar sekumpulan lagu-lagu yang dikompilasi ke dalam satu album. Saya pikir Mogwai merancang album ini layaknya sebuah perjalanan. Perjalanan dimana anda akan dipaksa menjadi manusia. Perjalanan dimana musik menjadi sebuah bentuk manifestasi, bukan tujuan itu sendiri. 19 tahun berkarya membuktikan kalau tak hanya teknis bermusik saja yang semakin jitu, namun juga mampu untuk menyuguhkan substansi musik yang semakin bermutu. Dan Mogwai telah membuktikan hal itu.

Official Website

Rate the album:
[ratings]

Buy album on iTunes

(Galih Gumelar / CreativeDisc Contributor)

TRACKLIST
1. “Heard About You Last Night” 5:22
2. “Simon Ferocious” 4:48
3. “Remurdered” 6:25
4. “Hexon Bogon” 2:35
5. “Repelish” 3:56
6. “Master Card” 3:57
7. “Deesh” 5:33
8. “Blues Hour” 6:17
9. “No Medicine for Regret” 5:39
10. “The Lord is Out of Control” 4:21

Related posts

Leave a Reply