Trending News

Blog Post

Extreme Live in Singapore: This is a Rock Show!
Concerts Review

Extreme Live in Singapore: This is a Rock Show! 

Dalam rangkaian Pornograffitti Live! World Tour 2014, kuartet rocker asal Boston, Massachusetts EXTREME menyambangi Singapura untuk pertama kalinya pada 5 juni 2014 yang lalu dalam konser yang diorganisir oleh Promotor Live! Empire, bertempat di The Coliseum Hard Rock Hotel, Resort World Sentosa, Singapura.

Singapura termasuk kota yang beruntung dikunjungi gitaris Virtuoso Nuno Bettencourt, vocalist Gary Cherone, bassist Pat Badger dan drummer Kevin Figueiredo pada tour-nya kali ini. Hanya dua kota di Asia Tenggara yang disinggahi yaitu Manila (03/06) dan Singapura (05/06). CreativeDisc secara khusus datang dan menjadi saksi konser group band legendaris yang telah menghasilkan 5 studio album sejak 1989 ini, termasuk album Pornograffitti (1990) dengan single “More Than Word”-nya yang melambungkan nama Extreme ke jajaran band rock/heavy metal papan atas dunia.

The Coliseum yang berada di area Hard Rock Hotel Sentosa sore itu di hari kamis terlihat lebih ramai dari hari weekdays biasa. terlihat orang-orang yang telah mulai mengantri untuk menyaksikan konser Extreme yang akan digelar. Dari beberapa orang yang sempat penulis sapa, ternyata ada yang datang dari belahan dunia lain, seperti Jason Cavallaro yang terbang dari Perth, Australia, Hu Yen yang datang dari Vietnam atau Kamal yang asal Pakistan, beberapa fans asal Jepang, tak kerkecuali juga puluhan teman-teman dari Jakarta Indonesia. Semuanya datang dan berkumpul di Hard Rock Hotel Sentosa hanya untuk menyaksikan konser Extreme Pornograffiti Live!. Jason mengatakan, “This is the concert of my life and Singapore is the nearest city to watch Extreme as they are not coming to Australia, so I didn’t think twice to go here”, katanya sambil tersenyum dan memperlihatkan cover CD dan DVD semua album Extreme yang dibawanya serta untuk dimintakan signature dari semua personil Extreme.

Tepat pada pukul 20:40 lampu The Coliseum dipadamkan tanda pertunjukan akan dimulai. Penonton yang telah menunggu sejak jam 19:00 PM berteriak histeris menyebut nama Extreme berkali-kali. Intro keyboard dari lagu “Decadence Dance” dimainkan, bersamaan dengan itu background panggung yang merupakan cover album Pornograffiti mulai dinaikkan, disusul intro rif gitar dari Nuno, gebukan drum Kevin, dan cabikan bass Pat. Gary Cherone pun berteriak, “Let’s Go..!!”. Sejak itu penonton hanyut dalam euphoria funky metal yang dihadirkan Extreme.

Lagu kedua dalam setlist mereka adalah “Lil’ Jack Horney”, disusul “When I’m President” dan “Get The Funk Out” yang kental dengan beat funky-nya. Nuno selanjutnya menanggalkan jacket jeans biru tua tanpa lengannya dan duduk di kursi sambil menyiapkan gitar akustik, dia sempat berucap, “This is our first time to have a show in Singapore, We apologize for taking so long, 25 years to get here”. Gary kemudian bertanya, “Are you ready to sing?”, kontan disambut dengan teriakan “yeeaaaahhh” dari penonton. Yup, “More Than Words”, Nuno mulai memainkan intro lagu ballad yang sangat fenomenal ini. Penonton pun bernyanyi sepanjang lagu dengan Gary. What a nice moment.

Memasuki lagu berikutnya, Extreme kembali dengan format berempat, membawakan lagu nge-beat “Money (in God We Trust)”. Selanjutnya adalah “It’s (a Monster)” dan “Pornograffitti”. Dua lagu yang mempunyai tingkat kesulitan tinggi. Dan seperti biasa pada lagu “It’s (a Monster)”, Nuno memainkan interlude sambil duduk di depan drum untuk lagu ini. Teman saya seorang gitaris fans berat Nuno pernah bilang bahwa Nuno memainkan sambil duduk karena part interlude di lagu ini sangat sulit, makanya Nuno harus memainkannya sambil duduk.

Walaupun tahun terus berganti dan mereka bertambah tua tapi saya merasakan aksi panggung dan kemampuan vocal Gary Cherone tetap prima, tidak banyak berbeda kemampuannya dengan zaman keemasan Extreme di awal tahun 90-an. Dia sangat menguasai panggung dan begitu attraktif di sepanjang performance. Begitu juga Nuno Bettencourt, Dewa gitar kelahiran Portugal, 20 September 1966 ini masih membuktikan bahwa dia masih pantas berada di jajaran gitaris papan atas dunia dan menjadi panutan bagi gitaris-gitaris muda saat ini. Kemampuan jari-jarinya menjelajahi fret-fret gitar Wasburn N4 Nuno Bettencourt’s signature-nya masih lincah dan tanpa cela di tiap nomor yang dibawakan, begitu juga stage act dan support-nya di backing vocal-nya sangat pantas untuk diacungi jempol. Tak kerkecuali Pat Badger dan Kevin Figuaredo, 2 personil ini juga membuat Extreme sangat solid.

Selanjutnya, Extreme mengajak crowd untuk cooling down. Nuno kembali duduk di kursi, dan kali ini memainkan keyboard. Yes, lagu berirama swing “When I first kissed you” ikut dimainkan. Gary membawakannya dengan sempurna, yang membawa penonton ke dalam suasana romantis, dengan lighting panggung warna biru yang redup.

Masuk ke session berikutnya, Extreme membawakan “Suzy (Wants her all day what?”, disusul “He-Man Woman Heater” yang didahului oleh intro gitar “Flight of the wounded Bumblebee” yang membuat penonton berdecak kagum dengan petikan jari-jari Nuno. Lagu ballad “Song For Love” yang dimainkan setelahnya kembali menciptakan koor massal di konser ini. Semua penonton ikut bernyanyi dan melambaikan tangan di udara. Demikian juga di lagu berikutnya “Hole Hearted” yang dulu juga pernah merajai Chart lagu di seluruh dunia, penonton kembali ber-sing along dari awal sampai akhir lagu. Session ini ditutup oleh “Play With Me”, dari album pertama mereka, self tittled album Extreme (1989). Keempat personil Extreme kemudian menghilang ke belakang panggung bersamaan dengan berakhirnya lagu ini.
Para penonton tidak beranjak dari posisinya masing-masing dan berteriak “We want More.. We Want More”.

Selang beberapa saat Nuno, Gary, Pat dan Kevin kembali naik ke panggung disambut teriakan histeris. Nuno mengambil Mic dan mengucapkan terima kasih nya kepada penonton dan sabar selama 25 tahun menunggu kedatangan Extreme di Singapura, so, “Singapore deserves some more songs”, ucapnya. Tidak tanggung-tanggung, 5 lagu kembali dimainkan Extreme untuk encore, yaitu ; “Rest in Peace” (III Sides to every story, 1992), “Take Us Alive” (Take Us Alive, 2008), Solo acoustic gitar “Midnite Express” (Waiting for Punchline, 1995), serta dua lagu lainnya dari Album III Sides to Every Story, “Am I Ever Gonna Change” dan “Cupid’s dead” yang merupakan lagu penutup. Selanjutnya ke-empat personil bersama-sama menyampaikan salam perpisahan kepada penonton. Wajah-wajah puas dan penuh senyum bertebaran di The Coliseum malam itu. That was really a rock show..!!,

Total setlist Extreme Pornograffiti live! ini adalah 19 lagu. Semua lagu dari album Pornograffiti dimainkan malam itu. Sungguh merupakan sebuah malam yang tidak akan terlupakan, 2 Jam pertunjukan terasa berlalu begitu cepat. Walaupun ini adalah konser kedua Extreme yang saya pernah tonton (sebelumnya adalah ketika Extreme live in Jakarta, December 2008), konser kedua ini terasa lebih memuaskan karena setlist nya lebih panjang dan harus terbang dulu ke Singapura untuk menyaksikan mereka.
Thanks a lot Live! Empire for such a wonderful concert..!

(Text & Photos by Budi Susanto)

Setlist:
Decadence Dance
Li’l Jack Horny
When I’m President
Get the Funk Out
More Than Words (Acoustic)
Money (In God We Trust)
It (‘s a Monster)
Pornograffitti
When I First Kissed You
Suzi (Wants Her All Day What?)
Flight of the Wounded Bumblebee / He-Man Woman Hater
Song for Love
Hole Hearted
Play with Me
Rest in Peace
Take Us Alive
Midnight Express
Am I Ever Gonna Change
Cupid’s Dead

Related posts

Leave a Reply