Trending News

Blog Post

MR. BIG : Singapore is One of Our Favorite Places in The World !!
Concerts Review

MR. BIG : Singapore is One of Our Favorite Places in The World !! 

Meliput group band legendaris MR. BIG di Singapore atas undangan Promotor The Wonderland adalah sungguh merupakan one of the best opportunities tahun ini buat saya. Walaupun ini bukanlah kali pertama buat saya menyaksikan langsung konser MR. BIG, tapi tetap saya ingin kembali menyaksikan musisi-musisi hebat ini beraksi di atas panggung. Singapura adalah kota terakhir yang disinggahi MR. BIG dalam rangkaian The Stories We Could Tell World Tour di tahun 2014 ini.

Sebelumnya saya sudah membaca dari media online, MR. BIG yang terdiri dari Paul Gilbert (Gitar), Billy Sheehan (Bass), Eric Martin (Vocal) dan Pat Torpey (Drums) akan dibantu oleh additional drummer Matt Starr, drummer kawakan yang tergabung bersama Ace Frehley (Ex-KISS). Pat Torpey digantikan Matt Starr dalam tour album baru ini karena menderita penyakit Parkinson dari bulan July 2014 yang lalu.

Sore itu 26 November 2014, Kallang Theater yang berada bersebelahan dengan Singapore National Stadium mulai dipenuhi oleh fans setia MR. BIG. Terlihat diantaranya puluhan penonton yang berasal dari Indonesia. Saya melihat Ari Lasso, Andra Ramadhan (gitaris Andra & The Backbone), dan Ridho Hafiedz (Gitaris Slank) dan teman-temannya diantara penonton malam itu. Disamping itu juga terlihat banyak dari penonton yang membawa gitar dan bass mereka. Saya berpikir pasti mereka akan ikut Meet and Greet setelah konser dan dimintakan tanda tangan kepada Billy Sheehan dan Paul Gilbert.

Pukul 6:30 PM penonton yang tadinya berkumpul di lobby Kallang Theater mulai masuk ke dalam. Kallang Theater tidaklah terlalu besar, diperkirakan hanya menampung 2000-an penonton (seated). Tata Panggung MR. BIG malam ini terlihat minimalis, back drop adalah logo MR. BIG, drum set berada di tengah-tengah panggung, perangkat Amplifier Bass dan Gitar berada sejajar dengan drum, disebelah drum ada perangkat yang masih ditutupi kain hitam. Tata cahaya juga minimalis, bahkan saya tidak melihat ada follow spot di sisi kanan dan kiri atas. Saya menunggu di sisi panggung sebelah kanan dengan kamera DSLR yang sudah saya persiapkan sejak di hotel tempat saya menginap. Agak surprise juga ketika tahu yang akan memotret konser ini hanya 3 orang, saya sendiri dari Creativedisc.com, satu orang dari media Singapura, yang kebetulan saya sudah kenal ketika dulu sama-sama memotret Singapore Rock Fest 2014 serta satu lagi dari Promotor Wonderland.

Tepat pukul 7:30, musik yang diputar dan lampu-lampu dipadamkan pertanda pertunjukan akan segera dimulai. Satu persatu personil MR. BIG mulai mengambil tempat di atas stage disambut teriakan histeris dari penonton. Billy Sheehan disebelah kiri, Paul Gilbert di sebelah kanan, Matt Starr di belakang perangkat drum serta Pat Torpey disebelahnya dengan perangkat perkusinya. Yes, Intro gitar Paul, gebukan drum Matt Starr dan cabikan bass Billy Sheehan pada lagu “Daddy, Brother, Lover Little Boy” langsung membahana. Tanpa aba-aba, penonton VIP yang tadinya duduk manis di kursi langsung menyerbu barikade di depan panggung begitu intro lagu ini dimainkan. Agaknya mereka ingin lebih dekat dengan panggung. Atmosfir Rock Show yang sesungguhnya langsung terasa. Saya mulai melakukan tugas, memotret MR. BIG di tiga lagu pertama dari media pit. Lagu Daddy Brother Lover Little Boy disusul oleh “Gotta Love The Ride” dari album terakhir “The Stories We Could Tell” (2014) dan “American Beauty” dari Album “What if” (2011). Tidak ada break, MR.BIG langsung memainkan single pertama dari Album “What If” yaitu “Under Tow”, serta nomor lama “Alive and Kickin”. Eric Martin kemudian menyapa penonton sebelum memulai nomor “I Forget to breathe” ; “So, We are playing songs from Way Back Machine, We in the past and present, for you die-hard fans from the way back and for some new generation I can see from here, We have a new album It’s called The Stories We Could Tell and here is the song called I Forget to Breathe”. Lagu “I Forget To Breathe” disusul “Take Cover” dan “Green Tinted Sixties Mind”.

Seperti biasa di konser-konser MR. BIG sebelumnya, Virtuoso gitar Paul Gilbert melakukan solo gitar yang tetap membuat penonton berdecak kagum. Tidak dapat dibantah bahwa Paul Gilbert sampai saat ini merupakan salah satu panutan gitaris-gitaris muda dunia dengan guitar licks-nya yang khas. Selesai dengan solo gitar, nomor-nomor berikutnya berturut-turut dibawakan adalah “The Monster in Me” (The Stories We Could Tell, 2014), “Rock N’ Roll Over” (MR. BIG, 1989), “As Far As I Can See” (What If (2011). Selanjutnya MR.BIG sedikit menurunkan tempo, “Promise Her The Moon” dibawakan tapi tidak sampai selesai, dan langsung disambung dengan “Wild World”, lagu milik Cat Stevens yang di-cover oleh MR. BIG dalam album “Bump Ahead” (1993). Dua lagu ini menciptakan koor tiada henti dari penonton sampai akhir lagu. Tak sampai disitu kembali penonton diajak ber-sing along di nomor “Just Take My Heart”, nomor ballad yang paling terkenal dari album “Lean Into It” (1991). Disini Pat Torpey yang dari awal hanya membantu pada perkusi/tambourine mengambil alih tempat Matt Starr, dia memainkan drum di lagu ini dan pada lagu berikutnya “Fragile” (The Stories We Could Tell, 2014). Dengan permainan drum yang tidak banyak variasi Pat akhirnya menyelesaikan dua lagu ballad ini. Saya terus terang senang kembali melihat Pat di belakang drum, dan saya ikut menyanyi di lagu “Just Take My Heart” sampai selesai.

Billy Sheehan selanjutnya menguasai panggung. Dia memainkan solo bass selama lebih kurang 5 menit yang diakhiri dengan duel solo bass dan gitar dimana Paul dan Billy seakan-akan bercakap-cakap silih berganti menggunakan instrument musik masing-masing. One of the coolest part of this concert..!! Duel bass dan gitar ini langung disambut dengan nomor “Addicted to That Rush”, sebuah tembang lawas dari album pertama mereka, “MR. BIG” (1989). “To be with You” adalah nomor berikutnya. ya tentu saja, ini adalah lagu wajib di setiap set-list konser MR. BIG sejak album Lean Into It (1991) dirilis. Semua penonton kembali menyanyikannya bersama-sama. “Colorado Bulldog” akhirnya mengakhiri set mereka malam itu. Kelima personil kemudian menghilang dari panggung seiring lampu panggung yang dipadamkan.

Penonton belum ada yang meninggalkan tempat karena mereka tidak yakin bahwa lagu “Colorado Bulldog” adalah lagu terakhir untuk malam itu. Dan benar saja, tidak lama kemudian kelima personil kembali ke atas stage. Surprise dipersembahkan oleh MR. BIG, Paul Gilbert duduk di belakang drum, Billy Sheehan dan Matt Starr menyandang gitar, Eric Martin dengan bass, sedangkan Pat Torpey dengan mic di tangan. Paul gilbert langsung menggebuk drum ketika aba-aba diberikan oleh Pat. Dan, Yes sebuah intro drum yang tidak asing lagi bagi saya : “Living After Midnight”, sebuah lagu dari Judas Priest di-cover oleh formasi kejutan ini dengan baik sekali, penonton-pun kembali ikut bernyanyi bersama. Setelah nomor ini MR. BIG kembali dengan formasi awal. Billy sempat mengucapkan terima kasih untuk para die-hard fans yang selalu setia mendukung mereka. Billy mewakili rekan-rekannya mengungkapkan betapa senangnya mereka kembali ke Singapura, “Singapore is one of our favorite places in the world..”, disambut oleh applause meriah dari penonton. Dan sebagai lagu pamungkas malam itu, MR. BIG memainkan nomor lawas, “Thirty Days in The Hole”. Konserpun berakhir dengan klimaks, lebih kurang 23 lagu dibawakan oleh MR. BIG sebagai penutup rangkaian konser World Tour 2014 mereka ini.

Text & Photos : Budi Susanto/CreativeDisc
Thanks to : Yoke Leng and The Wonderland

Related posts

Leave a Reply