Trending News

Blog Post

Interview With Boyzone: Ronan Keating Mengerti Kenapa Zayn Keluar Dari 1D
Artist Interviews

Interview With Boyzone: Ronan Keating Mengerti Kenapa Zayn Keluar Dari 1D 

Boyzone. Siapa yang gak kenal dengan boyband satu ini. Meledak di akhir 90an, tetap melekat di dekade 2000an, hingga tetap eksis sampai saat ini. Musik pop dengan pola lagu yang easy listening, tentunya merupakan formula yang pas yang menjadikan grup ini bertahan dan digemari hingga saat ini.
Dan dalam rangka rangkaian tur “BZ20” yang berlangsung selama tahun 2014-2015, Boyzone mampir untuk tampil di Istora Senayan pada 22 Mei 2015.

CreativeDisc pun berkesempatan menghadiri press conference dan interview secara personal dengan grup yang digawangi oleh Ronan Keating, Mikey Graham, Keith Duffy dan Shane Linch tersebut. Press conference yang digelar sehari sebelum konser mereka, dihadiri oleh banyak media serta Zoners (fans Boyzone) yang antusias untuk bertatap muka dengan idolanya. Dimulai dengan menghadirkan panel pertama dari pihak promotor (Full Color & Hype), label (Warner) dan pihak hotel Sultan, mengisyaratkan bahwa konser kedua Boyzone di Jakarta ini akan sangat meriah dan pastinya memanjakan para penikmat musik Boyzone dari berbagai kalangan.

Dan setelah mendapat sneak peek mengenai teknis konser, panel kedua yang berisi keempat anggota Boyzone pun segera ditampilkan. Dengan waktu yang terbatas, Boyzone sempat mengutarakan kegembiraan mereka untuk bisa datang kembali di Indonesia. Sambutan hangat serta keramah tamahan yang mereka terima sejak ketibaannya di bandara, hingga kelezatan Nasi Goreng, Mie Goreng, Lumpia, serta berbagai macam makanan khas Indonesia pun diutarakan dengan penuh senyum. Dan tentunya, Boyzone pun mengucapkan terima kasih atas cinta yang diberikan oleh para fans di Indonesia, sekaligus menjanjikan bahwa konser nanti akan menjadi malam yang tak terlupakan.

Sekitar kurang lebih 20 lagu sudah disiapkan dalam setlist yang akan ditampilkan, dengan komposisi sebagian besar hits yang juga favorit masing-masing personil, seperti A Different Beat (Keith), You Needed Me (Shane) dan Everyday I Love You (Mikey), serra beberapa lagu dari album terbaru mereka, seperti Who We Are (Ronan).

Berikut ini round table interview CreativeDisc bersama Boyzone.

CD: Boyzone sudah menjadi sebuah grup selama kurang lebih 2 dekade. Bagaimana kalian melihat (perkembangan) musik Boyzone, serta pandangan terhadap diri kalian sebagai sebuah grup di masing-masing dekade tersebut?
Shane: Saya rasa kami terbentuk menjadi sebuah grup saat kami berumur sekitar 17-19 tahun pada tahun 1993, dan saat itu Pop merupakan jenis musik yang berada di puncak ketenarannya, dimana dunia sangat menggandrungi musik Pop. Kami masih belia dan merupakan kesempatan yang sangat luar biasa untuk bisa keliling dunia. Bagaimanapun, saat Boyzone rehat sejenak (in quiet times), begitu juga dengan musik Pop. Musik Pop mulai bergeser ke arah indie, terutama di (skena musik) Inggris. Saya tidak terlalu mengerti dengan keadaan di luar Inggris, karena ada juga Backstreet Boys dan beberapa grup lainnya. Dan setelah itu era boyband mulai meredup.
Dan pada tahun 2007 saat kami kembali sebagai sebuah grup yang berbeda, dalam konteks bagaimana (kehidupan) masing-masing personil telah berkembang secara individual, dan musik serta album yang kami buat berbeda dengan sebelumnya. Dan bergerak ke masa kini, memasuki dekade yang baru, kami melihat Boyzone sebagai sebuah grup yang telah membangun dasar yang kuat saat kami memulainya di tahun 90an, dan kami terus membangun musik kami di atas dasar itu, dan rasanya tampak begitu kokoh. Seperti saat ini, kami bisa datang mengunjungi kalian disini dan bertemu dengan para fans setia. Itu sangat membanggakan bagi kami, sebagai pria dewasa. Dari anak muda menjadi dewasa seperti saat ini. Musik yang kami ciptakan telah berkembang. It’s a good timin’. Untuk musik kami, juga kehidupan sebagai Boyzone, serta bagi musik Pop. Dan kami akan selalu jadi grup Pop, and it’s fantastic.

CD: Dengan adanya kabar menyedihkan dari One Direction baru-baru ini, apakah “fenomena” tersebut menjadi ancaman tersendiri bagi sebuah grup?
Ronan: Saya mengerti mengapa Zayn keluar dari One Direction. Saat kamu berada di grup seperti itu, sama seperti Boyzone di era 90an, it’s a pressure cooker, sangat menegangkan. Seperti kamu berada di gelembung (yang menunggu untuk pecah), ada tembok yang mengelilingi kalian, dimana orang lain tidak dapat melihat ke dalam, dan terkadang kalian juga tidak dapat menengok keluar. Seperti mengalami claustrophobia. Dan Zayn ingin menjalani hidupnya, keluar dari kereta yang tidak pernah berhenti, selalu melaju setiap hari. Kota yang berbeda, antusiasme yang berbeda. Di satu sisi menyenangkan, namun kadang-kadang kamu ingin melompat keluar dari gerbong itu. Zayn ingin merasakan kehidupan pribadinya, dan saya mengerti keadaannya. Dia mungkin akan kembali, atau apapun keputusannya, kita tidak tahu yang akan terjadi berikutnya, tapi saya saya mengerti kondisinya.
Shane: saya sangat menghormati keputusannya. Saya menghormati orang yang mengambil keputusan seperti itu, ingin keluar dari keadaan itu. Karena banyak orang yang tidak dapat melakukannya, dan akhirnya mereka merasa keletihan, mental breakdown, dan sebagainya.

CD: Apa kalian pernah berada di situasi seperti itu?
Ronan: Ya, saya rasa di akhir tahun 2000, saat kami mengambil waktu rehat. Itu saat yang tepat yang kami butuhkan….
Mikey: sama seperti yang Ronan katakan mengenai perlunya waktu untuk rehat, karena tekanannya menjadi sangat berat, dan kami lelah secara fisik dan mental. Dan itulah alasan mengapa Zayn keluar. Saya kuatir dengan waktu berjalan, nantinya ia akan menyesali keputusannya tersebut. Dimana saya rasa, yang ia butuhkan hanyalah rehat sejenak, bukan selamanya keluar dari band itu. Hanya waktu yang bisa memberi jawaban.

Boyzone terakhir kali merilis album “Dublin to Detroit” tahun 2014 lalu:

Special Thanks to Full Color Party

Rendy
CreativeDisc Contributor
@RendyNdoo

Related posts

Leave a Reply