Trending News

Blog Post

Konser Hangat White Shoes & The Couples Company Dalam Memperingati 13 Tahun Mereka Berkarya
Concerts Review

Konser Hangat White Shoes & The Couples Company Dalam Memperingati 13 Tahun Mereka Berkarya 

“Kami membuat lagu pertama di sini. Tidur di sini. Punya anak di sini, mungkin” ujar Saleh Husein atau akrab disapa Ale kepada ratusan penonton yang memenuhi Graha Bhakti Budaya pada Rabu, 5 Agustus silam. Tentu Ale tak sendiri di atas panggung, dia bersama Aprilia Apsari (vokal), Rio Farabi (gitar), Ricky Surya Virgana (bass), John Navid (drum) dan Apri Mela Prawidiyanti (keyboard) yang tergabung dalam White Shoes & The Couples Company.

Mereka memang tengah menggelar konser di Graha Bhakti Budaya. Tapi yang dimaksud dengan “di sini” adalah Cikini. Karena itu pentas konser tunggal mereka diberi tajuk White Shoes & The Couples Company – Konser Di Cikini.

WhiteShoes

Ada apa dengan Cikini? Karena di sanalah 13 tahun lalu mereka memutuskan untuk membentuk band yang disebut oleh pengamat musik almarhum Denny Sakrie sebagai band sekarang yang memadukan serpihan-serpihan musik masa lalu dalam visi masa kini. Sekumpulan pemuda yang awalnya hanya mahasiswa biasa di Institut Kesenian Jakarta. Kemudian bersepakat untuk bersama mengolah nada.

“Kami enggak sangka sambutannya akan semeriah ini. Terima kasih. Kami akan selalu memberikan yang terbaik di waktu mendatang,” kata Sari yang tak mampu menyembunyikan rona bahagia di wajahnya.

Konser berjalan dengan sangat intim. Lagu-lagu White Shoes & The Couples Company tak semunya dibawakan dengan “telanjang”.  Sebagian dibalut dengan iringan mini orchestra. Bahkan sejak lagu pembuka, ‘Sabda Alam’ dibawakan dengan iringan brass section.

Ada kejutan malam itu. Sari memainkan gitar dengan ditemani gesekan violin Mela membawakan lagu ‘Stephany Says’ milik Velvet Underground. Kemudian di lain kesempatan giliran Rio, Ale, Ricky dan John menggelontorkan irama surf rock dengan membawakan ‘Marabunta’ milik The Tielman Brothers.

WhiteShoes4

Simak pula kejutan lain ketika John menghampiri meja dengan mesin ketik di atasnya. Dengan telunjuk dipencetnya sebuah bel sebagai kode agar layar putih di belakangnya terbuka. Terlihatlah kemudian barisan mini orchestra. Lalu untuk apa mesik ketik itu? Menjadi instrument yang diiringi orkestra membawakan komposisi orkestra karya Leroy Anderson, ‘The Typewriter’.

“Jazz!” kata Ale berlagak pongah usai membawakan ‘Kapiten dan Gadis Desa’ versi instrumental berduet dengan permaian cello Ricky.

“Kalo Ale mainnya jelek enggak apa-apa, dia anak Seni Rupa. Kalo gue kan anak Musik, jadi enggak boleh jelek mainnya,” sambar Ricky yang membuat penonton tergelak.

Selama hampir sekitar dua jam penonton dihibur oleh aksi maksimal White Shoes & The Couples Company. Ikut bernyanyi dan sekedar menggoyangkan kaki karena menonton sambil duduk nyaman di kursi. Namun sontak semua berubah ketika encore.

WhiteShoes3

Sebagian penonton sudah beranjak dari kursi menuju keluar. Tapi akhirnya kembali lagi karena White Shoes & The Couples Company kembali ke panggung. Kali ini penonton tak tinggal diam. Mereka merangsek ke bibir panggung. Bernyanyi dan bergoyang menikmati “Yer Good Ol’ Days” dan “Nothing to Fear”.

Konser yang digelar dalam rangka merayakan 13 tahun eksistensi mereka juga dilengkapi dengan eksibisi kartu pos. Eksibisi ini terbuka buat umum. Hasilnya peserta pameran berasal dari 48 kota di Indonesia dengan total 223 peserta. Sebanyak 551 karya yang menafsirkan judul-judul lagu White Shoes & The Couples Company dengan berbagai tehnik dipajang.

Yose Riandi
CreativeDisc Contributor
@bangjose

Related posts

Leave a Reply