Trending News

Blog Post

Concert Review: Confetti Party Di Konser Muse Live In Singapore.
Concerts Review

Concert Review: Confetti Party Di Konser Muse Live In Singapore. 

Membawakan total 18 track pada malam itu, band asal Teignmouth, Devon, Muse, sukses menghibur para penggemarnya yang berkumpul di Singapore Indoor Stadium pada hari Sabtu, 26 September 2016 dalam rangka tur album terbarunya, Drones.

Konser dibuka dengan penampilan dari The Ruse yang langsung menggebrak penonton yang sudah haus akan aura konser dengan lagu “I Can’t Stop”. Secara keseluruhan, performa John Daucer CS. dengan lagu-lagunya yang catchy terbilang mampu memberikan camilan yang cukup bergizi untuk para Musers sebelum melahap main course yang akan tampil setelah mereka.

Tepat pukul 21:35, semua lampu dimatikan. Bulu kuduk berdiri. Dan benar saja, tidak lama kemudian Matthew James Bellamy, Christopher Tony Wolstenholme, dan Dominic James Howard naik ke atas panggung dan tanpa banyak omong langsung melempar molotov ke lautan bensin dengan single dari album terbarunya, “Psycho”. Rock membahana seisi venue. Headbang massal. Pecah.

Seolah enggan menurunkan tempo, Matt langsung memperlihatkan sihirnya di atas fret gitar Manson khasnya pada lagu kedua, “Reapers”. Tak terhitung juluran tangan penonton dengan jemari yang bergerak-gerak ke arah panggung ketika solo gitar dimainkan, seolah memberi hormat pada dewa gitar mereka. Ah, dasar para maniak gitar.

2. Reapers

Suara intro dengan efek gitar yang fuzzy bergaung. Semua die hard Musers sudah dapat menebak lagu apa yang akan dimainkan…Ya, “Plug In Baby”! Gemuruh sing along penonton pun mengudara. Selanjutnya berturut-turut lagu populer lainnya dimainkan seperti “Resistance”, “The 2nd Law: Unsustainable” yang bernuansa dubstep, “Dead Inside” yang visualisasinya memanjakan mata, “Hysteria”, dan “Feeling Good”.

Ada yang menarik ketika band yang sempat bernama Rocket Baby Dolls ini membawakan “Citizen Erased” dari album Origin Of Symmetry (2001). Ketika lagu mengalami transisi tempo dari forte menjadi pianissimo, seakan menular, penonton serentak menyalakan layar smartphonenya masing-masing dan mengayunkannya di udara seiring dentingan piano Kawai dan falsetto Matt yang ‘melayang’ di udara laksana Helium.

3. Resistance

Antusiasme berlanjut ketika lagu-lagu lainnya dimainkan, seperti “Munich Jam” yang menjadi sarana duet skill antara Chris & Dom, dilajutkan dengan “Madness” yang kembali memikat visual lewat permainan tata panggung yang apik dan dinamis, “Supermassive Black Hole”, “Time Is Running Out”, lalu tepuk tangan serempak penonton pada lagu “Starlight”, dan “Uprising”, lagu bertemakan revolusi politik yang terdengar begitu sentimental malam itu, yang menurut info dari seorang teman, ada hubungannya dengan pemilihan umum yang belum lama terjadi di negara bermaskot Merlion ini. Hm. Bisa jadi.

Gimmick berupa balon-balon berukuran jumbo yang melayang di langit Singapore Indoor Stadion selepas lagu “Uprising” cukup mengalihkan perhatian dan membuat para Musers di area festival sibuk berlomba untuk memecahkan balon yang konon berisi confetti dan merchandise itu. Official merch, di luar dijual 50 SGD, di situ dengan sedikit keberuntungan dan fisik prima bisa dapat gratis. Kapan lagi kan.

Confetti Party

Tapi itu tidak berlangsung lama. Distraksi yang ditimbulkan oleh balon raksasa tidak ada apa-apanya dibanding mendengar band pujaan membawakan encore. “Mercy” mungkin salah satu lagu yang momen livenya selalu ditunggu-tunggu pada tur album Drones ini. Hujan confetti yang dipadu dengan lantunan musik dari band pemenang Grammy Award di kategori Best Rock Album pada tahun 2011 ini mungkin merupakan salah satu pengalaman orgasme audio visual terbaik selama konser.

Malam semakin larut. Penonton tahu waktu mereka untuk menikmati suguhan musik dari salah satu live band terbaik di dunia ini semakin sedikit. Maka mereka bersiap menghimpun sisa tenaga ketika Chris dengan syahdunya meniupkan Harmonika untuk melantunkan alunan nada “Man With Harmonica” milik Ennio Morricone, layaknya air laut yang surut sebelum tsunami menghantam.

Visual Feeling Good 1

Dan benar saja. Ketika intro “Knights of Cydonia” dari album Black Holes and Revelations (2006) bergema, koor massal seisi stadion langsung membahana mengikuti lantunan setiap not yang keluar dari sound system. Sisa tenaga dikerahkan untuk berteriak, headbang, dan meloncat sepuasnya, seakan tidak peduli apakah besok mereka masih bisa berdiri dan berbicara dengan baik, atau terkapar parau.

But it was worth it!

Setlist Muse – Drones Tour Live @ Singapore Indoor Stadium:

  1. Psycho
  2. Reapers
  3. Plug In Baby
  4. Resistance
  5. The 2nd Law: Unsustainable
  6. Dead Inside
  7. Interlude
  8. Hysteria
  9. Feeling Good
  10. Citizen Erased
  11. Munich Jam
  12. Madness
  13. Supermassive Black Hole
  14. Time Is Running Out
  15. Starlight
  16. Uprising
  17. Mercy
  18. Knights of Cydonia

Teks oleh: Elvin Eka Aprilian

Photo Credits: Elvin Eka, Muse Indo & M. Iqbal Pratama

Related posts

Leave a Reply