Trending News

Blog Post

Album of the Month: Justin Bieber – Purpose [Deluxe Edition]
Album of The Day

Album of the Month: Justin Bieber – Purpose [Deluxe Edition] 

Released by: Universal Music Indonesia

Dengan “Believe” di tahun 2012, Justin Bieber memasuki masa transisi, meninggalkan sisi remaja dan memasuki kedewasaan. Kini, tiga tahun berselang, ia sudah melewati transisi tersebut dan memasuki masa dewasanya, meski masih berada di tahap awal. “Purpose“, sebuah album yang sudah lama dinantikan oleh penggemarnya, namun juga oleh Bieber sendiri. Sebuah album yang memberi penegasan jika ia “sudah besar”.

Perjalanan “Purpose” untuk bisa hadir di antara kita cukup panjang. Bongkar pasang materi album penyebabnya. Bieber tampaknya ingin album ini sesempurna mungkin dalam menyampaikan visinya dalam masa dewasa. Dan saat ‘Where Are U Now’ yang merupakan kolaborasinya bersama Diplo dan Skrillex berhasil memperkenalkan ulang dirinya, jelas konsep “Purpose” pun harus diasah lagi sejalan dengan lagu berbau EDM tersebut.

Maka hadirlah hits terbesar Bieber masa kini, ‘What Do You Mean?’, sebuah anthem pop dansa, yang meleburkan elemen kekinian, deep house (meski agak mengingatkan Kygo), dengan sentuhan RnB miliknya. Hasilnya eksplosif. Sebuah lagu yang catchy/easy listening/radio friendly, you name it, namun juga dengan pemilihan lirik yang cermat, bermain dengan semiotika, jelas jika Bieber tidak ingin menghadirkan lagu-lagu yang sekedar bersenang-senang ala ABG saja.

Lantas ada ‘Sorry’, track dansa berbau house lain yang sama cerdasnya dalam memilintir kata. Beat ala tropical house melantun dengan lembut, meski tetap ritmis dalam menggoda untuk berdansa. Sementara Bieber bernyanyi meminta permintaan maaf atas segala kesalahannya selama ini. Atau benarkan dia tulus meminta maaf? Kolaborasinya bersama Skrillex dan Blood Diamonds terasa padu dalam mengisi raga ‘Sorry’ menjadi lagu yang kuat.

Hadirnya Skrillex dalam “Purpose” tidak melulu menghadirkan nomor dansa. Walau ada ‘Children’, sebuah track intens, yang senangnya meminggirkan dubstep ala Skrillex dan malah memilih house yang menggebu, ia juga bisa diandalkan dalam track-track electronica yang atmosferik, seperti ‘I’ll Show You’ yang terdengar sangat personal dan humanis. Menampilkan sisi rapuh Bieber dengan pas, meski musik latar yang berbau mesin. Sedang dalam ‘The Feeling’, romansa yang diusung malah terdengar gelap. Hadinya Halsey sebagai rekan duet mempertebal kesan tersebut.

Tapi “Purpose” tidak melulu menawarkan track-track EDM atau electronica saja. Masih ada khazanah pop RnB. ‘No Pressure’ dan ‘No Sense’ dihadirkan secara berurutan (yang kemungkinan disengaja). Masing-masing menghadirkan bintang tamu dari ranah Hip-hop, Big Sean di track pertama dan Travis Scott di kedua. ‘No Pressure’ adalah balada pop RnB yang terdengar agak gelap, sedang ‘No Sense’ terdengar lebih fierce. Agak sulit untuk meminggirkan kesan jika dalam lagu-lagu ia agak terpengaruh oleh The Weeknd, baik dalam cara bernyanyi (lengkap dengan falsetto) maupun musikalitas, meski untuk track kedua pas pula jika bergabung dalam album milik Beyonce.

Materi RnB semakin berlimpah jika menilik lagu-lagu tambahan dalam versi deluxe. Pengecualian ‘Been You’ dan ‘Get Used It’ adalah track-track dance yang terpengaruh era 80-an, maka ‘We Are’, ‘Trust’, dan ‘”All in It’ memaparkan RnB yang lebih organis. Tidak ada embel-embel ambient, atau electronica. Murni RnB yang seolah-olah berasal dari dekade 90-an. Pemilihan yang cukup tepat juga jika barisan track ini hanya sebagai sisipan alih-alih menu utama. Karena memang kurang “bersinar” dibandingkan track-trak di atasnya.

Contohlah ‘Love Yourself’, sebuah balada minimalis yang diisi oleh permainan gitar yang witty, sementara Bieber benanyi ala Ed Sheeran, yang sebenarnya tak heran mengingat Sheeran merupakan rekan penulis lagu yang diproduseri oleh Benny Blanco ini. Menilik judul, ia seolah merupakan lagu tentang self-empowerment. Hanya saja jika dicermati liriknya, ‘Love Yourself’ justru malah ingin menekankan jika kita tidak seharusnya memiliki rasa percaya diri berlebihan.

Track penuh sindiran seperti ‘Love Yourself’ mendapat penawarnya dalam sebuah balada minimanlis lain, ‘Life Is Worth Living’. Melantun dengan syahdu, Bieber sukses membuat kita, pendengar lagunya, memikirkan ulang makna dan tujuan kita menjalani hidup ini.

Jadi ya, dengan “Purpose”, Justin Bieber sudah sukses menunjukkan sisi dewasanya. Nyaris tak terjejak lagi cita rasa remaja labil di dalamnya. Ini merupakan catatan yang impresif, mengingat ia sebenarnya baru berusia 21 tahun, namun sudah terdengar matang dan mapan. Mengingat ia sudah kurang lebih 7 tahun hadir secara profesional di industri musik, maka sebenarnya ini bukan hal aneh. Adalah aneh jika ia mengulang pola atau formula yang sama, dan kemudian terjebak menjadi artis industri belaka yang tujuan akhirnya adalah menyenangkan label dengan penjualan yang besar.

Tentunya penjualan yang masif adalah buah manis yang harus direguk. Tapi Bieber juga membuktikan bahwa untuk mendapatkannya tidak melulu harus tampil jenerik. Bagaimanapun musikalitas yang kuat dan kaya dimensi tetap andalan utama. Dan dengan “Purpose” ia membuktikan hal itu.

Selamat datang kembali, Justin Bieber!

iTunes

iTunes

Official Website

TRACKLIST
1. “Mark My Words” 2:14
2. “I’ll Show You” 3:19
3. “What Do You Mean?” 3:25
4. “Sorry” 3:20
5. “Love Yourself” 3:53
6. “Company” 3:28
7. “No Pressure” (featuring Big Sean) 4:46
8. “No Sense” (featuring Travis Scott) 4:35
9. “The Feeling” (featuring Halsey) 4:04
10. “Life Is Worth Living” 3:54
11. “Where Are Ü Now” (with Skrillex and Diplo) 4:02
12. “Children” 3:43
13. “Purpose” 3:30

Bonus Track:
14. “Been You” 3:19
15. “Get Used to It” 3:58
16. “We Are” (featuring Nas) 3:22
17. “Trust” 3:23
18. “All in It” 3:51

Haris
CreativeDisc Contributor
@oldeuboi

Related posts

Leave a Reply