Trending News

Blog Post

Album of the Day: Beyoncé – Lemonade
Album of The Day

Album of the Day: Beyoncé – Lemonade 

Meski tidak semendadak album “Beyoncé” di tahun 2013, tapi Beyoncé Knowles lagi-lagi memuncukan album barunya dengan cukup tiba-tiba. Dan sebagaimana album pendahulunya tadi, “Lemonade“, album keenam Bey, diset sebagai visual album, yang berarti keseluruhan track dihadirkan juga dalam bentuk audio visual, atau musik videonya. Namun visual untuk setiap track dalam “Lemonade” disatukan dalam sebuah film pendek berjudul sama yang ditayangkan oleh HBO, tepat sebelum album dirilis.

Sebenarnya kehadiran “Lemonade” seharusnya sudah bisa diantisipasi mengingat beberapa bulan lalu (yang juga secara tiba-tiba) menghadirkan sebuah single berjudul ‘Formation’. Bermodal beat yang bouncy, ‘Formation’ mengingatkan akan ‘7/11’, sebuah club banger. Meski begitu, secara aspek tematis dan lirik, ‘Formation’ adalah lagu serius, menyampaikan pesan “black lives matter” yang akhir-akhir ini sering menjadi wacana.

Hanya saja, meski didahului ‘Formation’, masih belum ada kejelasan kapan album dimana track ini berada akan dirilis atau siapa saja yang terlibat. Begitu ketatnya memang Bey menjaga kerahasiaan detil album sampai kemudian ia dirilis.

Seems being secretive is Beyoncé’s modus operandi nowadays. Oleh karenanya meski ada rumor tak sedap berhembus tentang hubungannya bersama sang suami, Jay Z, yang dibumbui dengan insiden sensasional di lift bersama adik Bey, Solange, ia memilih tetap untuk menyimpannya rapat-rapat.

Rupanya ia menunggu saat yang tepat untuk menyampaikan uneg-unegnya. Dan sepertinya memang disimpan “Lemonade” sebagai wadah untuk pelepasan curahan hatinya. Tentunya Bey tidak terang-terangan menyebut apa yang disenandungkannya dalam lagu-lagu “Lemonade” sebagai kisah nyata dirinya. Namun untuk musisi sebesar Bey, pasti paham jika opini publik segera mengarah pada sosok dirinya saat ia menyanyikan lirik semacam, “If you try this shit again / You gon’ lose your wife.”

Topik tentang ketidaksetiaan sang suami dan kemarahan adalah sentra untuk lagu-lagu di paruh pertama “Lemonade”. Album memang dibuka dengan nomor kontemplatif dan mengawang, ‘Pray You Catch Me’, hasil kerjasama Bey bersama dengan James Blake dan musisi pendatang baru, Kevin Garrett. Namun setelahnya, beat-beat yang lebih intens hadir mewarnai.

Track pembuka tadi dilanjutkan dengan ‘Hold Up’, dimana Diplo kembali diajak membantu. Tapi kini juga ada Ezra Koenig dan Vampire Weekend dan Father John Misty membantu Bey menulis lagu beraroma Jamaika ini. Tidak hanya itu, Bey juga meminjam “roh” Karen O melalui interpolasi lagu ‘Maps’ milik Yeah Yeah Yeahs. Nuansa tropikal cerah ceria ‘Hold Up’ memang terkesan menipu, karena lirik justru memendam rasa marah tadi dengan cukup getir.

Dan Bey menuangkan kemarahannya dengan lebih denotatif melalui track gahar, ‘Don’t Hurt Your Self’. Bersama Jack White yang membantunya, Bey malih rupa menjadi seorang rocker garang yang meneriakkan kemarahan dengan prima. Seolah-olah ia adalah seorang Janis Joplin masa kini, meski rasa-rasanya track ini pas juga jika dimasukkan dalam album “Jagged Little Pill” milik Alanis Morissette.

Beat bouncy kembali dihadirkan dalam club banger lain, ‘Sorry’. Dengan mudah pendengar lagunya menggoyangkan tubuh mengikuti iramanya yang easy-listening, sementara hook pada chorus terdengar menggoda untuk turut dinyanyikan. Hanya saja, sebagaimana ‘Hold Up’, secara lirik ‘Sorry’ pun berisi pesan rasa kesal/marah, meski dinyanyikan dengan santai dan (sepertinya ceria). Dengan lirik self-referential seperti “today I regret the night I put that ring on,” atau lirik yang kini tengah menjadi perbincangan, “you better call Becky with good hair“, ‘Sorry’ sepertinya ditakdirkan untuk menjadi salah satu mega-hits milik Beyoncé.

Aspek lain yang bisa dicermati dari “Lemonade” adalah bagaimana Beyoncé terdengar semakin aktif dalam melakukan lintas-genre, sesuatu yang sebelumnya sudah dieksplorasinya dalam “Beyoncé”. Hip-hop dan RnB tentunya masih tetap disajikan, namun “Lemonade” jelas tidak hanya sebatas itu. Electronica, sebagaimana “Beyonce”, juga berperan penting dalam memberi variasi sound album. Kolaborasinya bersama The Weeknd, ‘6 Inch’, mungkin bisa menjadi contoh konkrit. Sementara itu, James Blake kembali diajak dalam track moody beratmosfir gelap, ‘Forward’, yang sayangnya berdurasi pendek sehingga lebih mirip interlude.

Bey bahkan kembali ke daerah asalnya, Texas, lewat lagu beraroma country, ‘Daddy Lesson’ meski difusikan dengan jazz ala New Orleans, sehingga terdengar kaya dan meriah. Menarik bagaimana lagi-lagi Bey memanfaatkan kehidupan pribadinya sebagai penggerak tema lagu. Bagaimana kisah sang ayah, yang berpisah dengan sang ibu karena selingkuh, dapat menjadi sinisme tersendiri dalam memandang perkawinannya dengan Jay Z.

Rupanya Bey tak ingin berlama-lama merasa marah. Sebuah rekonsiliasi pun menjadi penutup manis dalam kisah getir rumah tangganya. Balada minimalis ‘Sandcastles’ sepertinya menjadi semacam jeda dari konflik. Ibarat film, ini adalah masa dimana karakter-karakter utama yang berkonflik berusaha menemukan jalan atau solusi untuk masalah mereka. Meski kuat dari segi vokal, sayangnya di barisan lagu sebelumnya, track ini menjadi terkesan biasa saja dan out-of-place, mengingat usung kesederhanaanya, ditengah komposisi kompleks dan canggih yang memenuhi album.

Tapi tak mengapa, Bey kemudian menghadirkan sebuah anthem politis stand-out lain dalam ‘Freedom’. Dibuka sebagai track rock vintage, lengkap dengan alunan organ Hammond (cmiiw), ‘Freedom’ kemudian menuangkan manifesto sosial-politik seorang Beyonce, meski rasanya bisa saja dikaitkan dengan aspek tematis yang diusung di lagu-lagu sebelumnya.

Tentunya juga ada ‘All Night’ yang seolah-olah bertugas sebagai klimaks untuk konflik dan menghadirkan sebuah happy ending. Lagu pop-blues ini sempurna menjadi epilog dan memberikan konklusi yang manis, tidak hanya untuk Bey, namun juga pendengarnya. Jadi, Beyoncé memutuskan untuk memaafkan “kelemahan” sang suami dan mempertahankan keluarganya.

Terlepas dari aspek tematis album, bisa dikatakan “Lemonade” semakin mengasah karakter Beyoncé sebagai musisi dengan selera yang eklektis. Gelagat ini mulai ditunjukkan semenjak album “4” (2011) dan tentunya “Beyoncé”. Album berisi lagu-lagu pop Top 40 mulai ditinggalkan dan memilih bergerak dalam lagu-lagu yang mengasah cita rasa esotoriknya sebagai musisi. Mengedepankan estetika ketimbang memuaskan selera awam.

Dibandingkan “Anti” misalnya, sebuah upaya lain dari penyanyi mainstream untuk melebarkan sayap ranah musikalitasnya, “Lemonade” terasa lebih terkontrol dan rapi. Dalam arti konsepnya terjaga dan tidak melebar. Genre-hopping-nya mulus. Imej dan trademark sang penyanyi juga masih tertanam dengan baik. Oleh karenanya, meski “Lemonade” agak lebih berat dibandingkan album-album sebelumnya, namun tetap bisa diakses dengan mudah.

Dengan demikian, melalui “Leomande” ia menunjukkan mengapa dirinya masih berada yang terdepan dan teratas. Yang pasti, “Lemonade” adalah contoh konkrit dimana sebuah album musik, sebagaimana film, juga sebuah alat untuk bertutur. Dan ditangan seorang Beyoncé, album ini memang terdengar filmis, dengan eskalasi emosi yang gencar serta tentunya klimaks yang memuaskan.

Definitely one of this year best album!

iTunes

Official Website

TRACKLIST
1. “Pray You Catch Me” 3:16
2. “Hold Up” 3:41
3. “Don’t Hurt Yourself” (featuring Jack White) 3:54
4. “Sorry” 3:53
5. “6 Inch” (featuring The Weeknd) 4:20
6. “Daddy Lessons” 4:48
7. “Love Drought” 3:57
8. “Sandcastles” 3:03
9. “Forward” (featuring James Blake) 1:19
10. “Freedom” (featuring Kendrick Lamar) 4:50
11. “All Night” 5:22
12. “Formation” 3:26

Related posts

Leave a Reply