Trending News

Blog Post

Album of the Day: Kings of Leon – WALLS
Album of The Day

Album of the Day: Kings of Leon – WALLS 

Released by: Sony Music Entertainment Indonesia

Meski debut mereka, “Youth & Young Manhood” dirilis di tahun 2003, namun bisa dikatakan kepopuleran Kings of Leon baru menemukan momentumnya saat mereka merilis album keempat, “Mechanical Bull”, di tahun 2008. Mengapa tidak? Hit seperti ‘Use Somebody’ dan ‘ Sex on Fire’ mempertegas arah kesuksesan mereka. Tidak heran jika Kings of Leon kemudian memantapkan eksistensi mereka sebagai salah satu band rock terkemuka saat ini. Dua album setelahnya “Come Around Sundown” (2010) dan “Mechanical Bull” (2013) adalah pembuktikan untuk itu.

Namun Kings of Leon bukannya tanpa kritisi. Ada anggapan jika band gawangan Followill bersaudara ini hanya bermain aman dalam album-album mereka selepas “Mechanical Bull”, terlepas dari fakta jika mereka tetap konsisten dalam memberikan lagu-lagu yang renyah untuk disimak dengan kualitas yang dapat dipertanggungjawabkan. But I guess people, or probably critiques, is not easy to please.

Sepertinya untuk menjawab tantangan tersebut, Kings of Leon kemudian menghadirkan album ke-7 yang diberi tajuk “WALLS” atau akronim dari “We Are Like Love Songs”. Entah dengan kritikus, tapi sepertinya album ini sudah ditunggu-tunggu oleh pendengar awam dan terbukti sukses menjadi album #1 pertama Kings of Leon di tangga Billboard 200.

Well, sepertinya kritikus juga masih kurang antusias dengan “WALLS”. Formulaic atau generik, adalah keyword yang jamak ditemui dalam menggambarkan “WALLS”. Benarkah anggapan tersebut. Bisa jadi, karena memang setelah mendengarkan “WALSS”, tampaknya Kings of Leon memang tidak memiliki perkembangan yang signifikan secara musikalitas. Hanya saja, harus menjadi catatan jika “WALLS” adalah kompromi memuaskan antara estetika bermusik pra dan pasca “Mechanical Bull”.

Jadi, selain cita rasa pop yang easy listening, tetap ada sensasi gritty dan sedikit gloomy yang bisa didapatkan di album-album awal Kings of Leon. Tapi sudahlah. Mari membahas album ini secara mandiri saja.

Alas bermusik Kings of Leon bisa ditarik sebagai akses post-U2, yang bisa tampaknya juga diadopsi oleh Coldplay dan The Killers, dua band rock yang juga memiliki nama tenar yang mengkilap. Namun, tidak seperti dua band tadi yang kemudian cenderung melebarkan sayap dengan memasukkan pendekatan musikalitas lintas genre, Kings of Leon harus diakui lebih konsisten dengan akar rocknya.

Mendengarkan “WALL” sebenarnya adalah traktiran tersendiri, karena Kings of Leon sukses mengajak pendengar untuk memasuki ranah rock dengan variasi cita rasa terjaga. Petikan gitar melodius tapi murung dalam ‘Conversation Piece’ tidak terdengar cengeng. Tetap ada maskulinitas dan rasa gahar di dalamnya, meski Calleb Followil terdengar hampir seperti menangi saat menyanyikan lagunya.

Materi dalam “WALLS” bisa dikategorikan sebagai stadium rock yang kekinian (pasca “Mechanic Bull”) dengan rock yang lebih konvensional (seperti awal karir mereka). Jadi mendengarkan “WALSS” kita berselang-seling bisa mendengarkan track seperti ‘Waste a Moment’ dan ‘Eyes on You’. ‘Over’ dengan ‘Reverend’.

Memanglah album terdengar familiar. Tapi ada sesuatu dalam musik Kings of Leon yang senantiasa terdengar segar. Formulanya mungkin sama, tapi pengalaman mendengarnya beda. Kings of Leon percaya dengan formula, karena mereka punya kemampuan untuk mengasahnya secara mengkilap dan berbeda nuansa antara satu sama dengan yang lain. Ini seharusnya menjadi kekuatan tersendiri dan sulit dicapai oleh banyak musisi lain yang “bermain aman”.

Bukan berarti “WALLS” tidak menyajikan niat Kings of Leon untuk mengeksplorasi genre, karena toh ada ‘Around the World’ yang bergaya disko klasik atau cha-cha-cha atmosferik dalam ‘Muchacho’. Kelebihannya, meski berbeda corak atau genre, tidak menghianiati esensi bermusik Kings of Leon itu sendiri. Terasa organis dan alami.

Album ditutup dengan “WALLS”, sebuah track lirih yang bisa menjadi penegas sebagai amalgamasi antara pra dan pasca “Mechanic Bull”. Track bisa juga menjadi penggambaran album secara utuh (hence the title, I guess). Bagaimana Kings of Leon tidak menyerahkan tradisi musikalitas mereka begitu saja, namun tetap memberi ruang untuk eksplorasi genre. Gak tahu dengan yang lain, kalau saya sih yes kalau “WALLS” disebut sebagai salah satu album terbaik Kings of Leon. Bahkan salah satu album terbaik tahun ini.

iTunes

iTunes

Official Website

TRACKLIST
1. “Waste a Moment” 3:03
2. “Reverend” 3:54
3. “Around the World” 3:34
4. “Find Me” 4:05
5. “Over” 6:10
6. “Muchacho” 3:09
7. “Conversation Piece” 4:59
8. “Eyes on You” 4:40
9. “Wild” 3:39
10. “WALLS” 5:29

Related posts

Leave a Reply