Trending News

Blog Post

Album of the Month: Lady Gaga – Joanne
Album of The Day

Album of the Month: Lady Gaga – Joanne 

Released by: Universal Music Indonesia

Selepas “Artpop” (2013), Lady Gaga tampaknya ingin menyusung ulang “konsep” dirinya. Tidak hanya membawakan lagu-lagu jazz bersama Tony Bennett, menulis lagu inspirasional yang mendapat sebuah nominasi di Oscar hingga berakting di serial “American Horror Story”. Jeda tiga tahun yang cukup efektif, jika memang Gaga ingin me-rebranding dirinya. Hanya saja Lady Gaga utamanya adalah seorang penyanyi pop dan apalah artinya tanpa sebuah album untuk mendukung persona tersebut? Maka kini hadirlah album kelima-nya, atau keempat sebagai penyanyi solo, “Joanne“.

“Joanne” menyajikan materi yang sebenarnya sudah bisa terbaca semenjak album pertama Lady Gaga yang fenomenal, “The Fame” (2008). Meski album yang sukses mengangkat namanya tersebut kental dengan electro-pop ringan beramunisi hook pada chorus, namun ada jiwa rock yang melandasi musikalitasnya. Dalam “Joanne” rock hadir secara lebih jelas.

Pertama kali mendengar “Joanne”, kesan hit-and-miss sulit untuk dihindari. Lagu-lagu bernuansa slow-rock yang mengisi album memang dikerjakan dengan baik. Cuma agak sulit menemukan track dengan kesan yang lebih mendalam. Entah mengapa Gaga terdengar agak memaksakan diri. Vokalnya yang kini terasa gahar tidak terasa pas dengan barisan melodi yang sebenarnya masih dalam koridor pop. Bukan pop-rock seperti ini yang pas bagi seorang Lady Gaga.

Lagu-lagu dalam “The Fame” atau “sekuelnya”, “The Fame Monster” (2009) mungkin saja pop plastik, namun terasa sangat “fun” dan berkesan. Gaga menjelma menjadi seorang penyetir pop yang jenial dan segar, formula yang telah menjadikan namanya besar dan kemudian mengubah sosoknya sebagai seorang ikon. Sesuatu yang awalnya sulit diraba dalam “Joanne”.

Ternyata “Joanne” adalah album yang perlu didengar berulang-ulang agar bisa menemukan “intan” yang terkandung di dalamnya. Mungkin kesan di atas karena kita, pendengar, sudah terlalu biasa dengan imej Gaga selama ini, sehingga menafikan perbedaan yang disajikan dalam “Joanne”.

Hadirnya ‘Perfect Illusion’ mungkin bisa menjadi salah satu penyebab. Lagu mencatat nama-nama besar seperti Mark Ronson, Kevin Parker (Tame Impala), dan Bloodpop, sehingga saat lagunya kemudian terdengar bimbang menentukan karakternya, antara pop-rock atau electro-pop ringan, ‘Perfect Illusion’ cenderung gagal membangun jembatan untuk masuk ke dalam ranah baru Gaga.

Gaga menyusulnya dengan ‘Million Reasons’, sebuah balada minimalis manis dengan penghayatan prima dari Gaga. Renyah untuk disimak, tapi tak ada yang baru. Penyanyi manapun bisa membawakan lagu ini tanpa memerlukan karakter khas. Baiklah. Jika dua track promosi terkesan kurang meyakinkan, lantas bagaimana dengan sisa track “Joanne”?

‘A-YO’ single promosi Gaga berikutnya bisa menjawab kekurangan dua track tadi. Ia merupakan perpaduan pas antara sisi pop dan rock Gaga. Catchy dan gritty secara bersamaan, sementara beat enerjetik lagu bisa menjadi teman dansa, baik bagi penggemar lagu dance atau rock. Sebagai tambahan, ada pula ‘Dancin’ In Circles’ yang mengembalikan kenangan ke zaman “The Fame Monster” atau “Born This Way”, dimana electropop Gaga terdengar lebih tajam dan edgy. Tidak heran, karena ada Beck yang membantu menulis lagunya, selain Ronson tentu saja.

Selebihnya “Joanne” mengajak pendengar untuk larut dalam retrospektif rock berbalut folk atau pop melalui lagu-lagu seperti ‘Sinner’s Prayer’ atau ‘Come to Mama’. Lagu-lagu yang seolah menjadikan Gaga sebagai penyanyi yang berasal dari era lawas dengan segala melankolianya. Hadirnya Father John Misty membantu dalam track ‘Sinner’s Prayer’ jelas memberi highlight tersendiri. Sementara balada lain dalam “Joanne”, juga berjudul ‘Joanne’, dengan gemilang memamerkan kekuatan Gaga sebagai penembang pop-folk yang berkarakter.

Ada sentuhan manis dengan hadirnya Florence Welch sebagai tandem vokal bagi Gaga dalam track pop-retro lain, ‘Hey Girl’. Harus diakui jika vokal Welch memang lebih mencorong dibandingkan Gaga, tapi dinamika dan chemistry di antara mereka terasa hadir dengan pas, sehingga lagu yang berkisah tentang solidaritas antara sesama perempuan ini terasa hidup dan melenakan.

Mark Ronson dan Bloodpop adalah partner Gaga dalam mengerjakan “Joanne”. Padahal sebelumnya disebut-sebut jika Gaga kembali mengajak RedOne, produser dan musisi yang membantu membesarkan namanya melalui “The Fame” turut menyumbangkan karyanya. Ternyata ‘Angel Down’, track di mana RedOne hadir menyertai Gaga. Hanya saja jangan harapkan track electropop lainnya dari kolaborasi mereka, karena ‘Angel Down’ justru adalah sebuah balada yang melantun lembut. Jangan tertipu dengan embel-embel “work tape” untuk ‘Angel Down’ yang terdapat di seksi bonus track edisi bonus, karena merupakan versi yang lebih lirih dan pendek.

Untuk edisi deluxe sendiri, selain ‘Angel Down (work tape)’, ada dua track lain sebagai sisipan. Pertama adalah ‘Grigio Girls’, dimana fusi rock, pop dan folk memadu dengan meriah namun senantiasa dalam tone membumi dan laidback. Hanya saja sulit dihindari kesan jika lagu ini juga pastinya akan tetap menjulang jika dihadirkan dalam versi electropop yang lebih up-tempo atau bahkan EDM. Sementara ‘Just Another Day’ adalah contoh sempurna untuk membayangkan Gaga membakan lagu-lagu dalam “Joanne” secara live, dimana ia membawa suasana live-jamming dengan kuat dalam lagunya.

Sebagai kesimpulan, adalah salah jika menyebut “Joanne” sebagai hit-and-miss, mengingat persentase hit lebih besar dibandingkan dengan miss. Sangat jauh lebih besar memang sehingga jika “Joanne” diniatkan sebagai upaya Gaga untuk memformat ulang imaji dirinya, bagai ia salah sebuah upaya sukses. Sebuah transisi yang patut mendapat aplaus, Lady Gaga membuktikan jika ia sudah tidak perlu lagi memamerkan gimmick yang meriah atau atraksi teatrikal dalam musikalitasnya.

Meski mungkin melalui “Joanne” ia akan sedikit sulit mempenetrasi pasar lagu pop yang lebih mainstream, sebuah aral agar album bisa menyandung status blockbuster sebagaimana album-album Gaga sebelumnya, namun setidaknya kini ia telah mengasah sosoknya menjadi seorang penyanyi sekaligus musisi handal yang matang sekaligus visioner. Terlepas dari itu, mari kita sambut dengan hangat sosok baru Lady Gaga ini. Dipastikan pula jika jalan “Joanne” adalah membentang menuju status sebagai salah satu yang terbaik dari dirinya.

iTunes

Official Website

TRACKLIST
1. “Diamond Heart” 3:30
2. “A-Yo” 3:28
3. “Joanne” 3:17
4. “John Wayne” 2:54
5. “Dancin’ in Circles” 3:27
6. “Perfect Illusion” 3:02
7. “Million Reasons” 3:25
8. “Sinner’s Prayer” 3:43
9. “Come to Mama” 4:15
10. “Hey Girl” (featuring Florence Welch) 4:15
11. “Angel Down” 3:49

BONUS TRACK
12. “Grigio Girls” 3:00
13. “Just Another Day” 2:58
14. “Angel Down” (work tape) 2:20

Related posts

Leave a Reply