fbpx

Trending News

Blog Post

18 Album Terbaik 2018 Versi Creative Disc
Top 10 Lists

18 Album Terbaik 2018 Versi Creative Disc 

Tahun 2018 sebentar lagi akan berakhir dengan 2019 tepat di depan mata. Tahun baru, album baru, tentu saja. Tapi mengapa kita tidak menoleh ke belakang sebentar untuk menilik album-album saja yang paling bersinar terang di tahun 2018 ini.

Creative Disc sendiri telah memilih 18 album yang dianggap terbaik di tahun ini. Genrenya cukup beragam, dari pop, R&B, rock hingga alternatif. Mulai dari album soundtrack hingga album comeback salah satu diva pop yang sudah lama kita rindukan album barunya.

Siapa saja mereka? Tanpa berpanjang-panjang lagi, inilah 18 Album Terbaik Tahun 2018 Versi Creative Disc:

1. “A Star Is Born” (Lady Gaga & Bradley Cooper)

“A Star Is Born” adalah sebuah proyek film yang istimewa, tidak hanya bagi aktor kawakan Bradley Cooper, namun juga bagi sang Mother Monster, sensasi pop Lady Gaga. Bagi Cooper ini adalah debutnya sebagai sutradara. Sedang bagi Gaga, “A Star Is Born” adalah debutnya sebagai aktris utama dalam sebuah film. Dengan demikian film menjadi ajang pembuktian bagi kedua bintang ini.

Sementara soundtrack “A Star Is Born” membuktikan jika seorang Lady Gaga selalu bisa diandalkan dalam kemampuannya sebagai penyanyi. Ia bukan lagi seorang entertainer yang mengedepankan aksi teatrikal, tapi juga kualitas vokal mumpuni. Mendengar ia bernyanyi sekarang dengan dirinya satu dekade lalu bagaikan perbedaan antara kutub utara dan selatan. Tapi, yang paling penting, Gaga membuktikan jika perubahan arah musikalitas harus disandingkan dengan performa vokal yang semakin terasah. Dan inilah yang membuat “A Star Is Born” menjadi calon juara di hati kita untuk saat ini atau bahkan selamanya. An classic in making!


2. “Honey” (Robyn)

Ekspektasi jelas tinggi akan album terbaru dari Robyn, “Honey”. Bayangkan, sudah 8 tahun semenjak album masterpiecenya, “Body Talk”, dirilis. Jelas fans sangat menanti-nantikan gebrakan musikalitas terbaru dari bintang asal Swedia ini. Dan ia membayarnya dengan tuntas.

Banyak yang berharap kalau “Honey” akan berisi barisan banger sebagaimana “Body Talk”. Namun Robyn memelintir ekspektasi justru dengan menghadirkan lagu-lagu eklektik yang memiliki alur rak terduga. Sebuah pop yang dikemas dengan cita rasa idealisme tinggi, dengan memasukkan melankolisme dalam elektropop. Tentu saja “Honey” tetap menyajikan banger, meski ia bukanlah album yang diantisipasi oleh fans. Tetap saja, Robyn membuktikan jika pop bukan alasan untuk tampil artistik.


3. “Dirty Computer” (Janelle Monáe)

Kabarnya Janelle Monáe sudah memiliki ide “Dirty Computer” sebelum album debutnya rilis di tahun 2010. Terlepas dari benar atau tidaknya, Janelle telah menghadirkan sebuah album paling reflektif tahun ini dengan membahas isu-isu sosial terkini dalam perantaraan musik yang terinfusi skena funk dengan kuat.

Bolehkah kita katakan “Dirty Computer” sebagai opus seorang Janelle Monáe? Rasanya bisa saja. Dengan telaten ia membedah persoalan tentang ras, gender dan seksualitas melalui lirik-lirik yang mendalam dan menggugah perhatian. Semakin sempurna, karena Janelle tidak main-main dalam membungkus lagu-lagunya dengan aransemen yang jempolan. Melodius tapi memiliki kedalamam tersendiri.

Related posts

Leave a Reply