Quantcast

Slash Living The Dream feat Myles Kennedy And The Consipirators Live in Singapore: Upaya Pendewasaan Diri Slash

By - 2 months ago in Concerts Review

Nama besar seorang Slash tentunya tidak bisa terlepas dari nama band Guns N’ Roses. Apalagi setelah gitaris ini baru saja kelar menuntaskan tour reuni bersama GNR selama 2 tahun lamanya. Meskipun disamping GNR, Slash memiliki beberapa band lain, sebut saja seperti Slash’s Snake Pit yang dibentuk bersama Matt Sorum, Gilby Clarke & Dizzy Reed, lalu ada Velvet Revolver (bersama alm. Scott Weiland dan Duff McKagan). Dan yang terbaru dan sukses menelurkan tiga album keren; Slash feat. Myles Kennedy And The Conspirators, yang biasa disebut SMKC.

Di awal tahun ini, SMKC memulai tour-nya setelah merilis album Living The Dream di bulan September 2018. Dan Singapura dipilih sebagai negara pembuka tour 2019 mereka. Diselenggarakan oleh Bandwagon (bandwagon.asia), sebuah media musik online untuk Asia Tenggara yang terkenal besar dan sekaligus menjadi lompatan besar bagi mereka karena ini merupakan konser pertama yang mereka gelar. Dan beruntung, CreativeDisc merupakan satu-satunya media dari Indonesia yang diundang untuk menyaksikan secara langsung konser mereka.

Secara Pribadi, ini merupakan konser Slash & Myles Kennedy kedua bagi saya, dan menjadi ketiga kalinya bagi saya melihat penampilan Slash secara langsung. Hari Selasa sore, tanggal 8 Desember, saya tiba di lokasi konser. Lokasi yang cukup bergengsi, di The Coliseum Arena, yang merupakan bagian dari Hard Rock Hotel di kawasan hiburan Resort World Sentosa, Singapura.

Konser dibuka dengan penampilan sebuah band hard rock lokal Tian Di Hui tepat pukul 7.30 petang waktu setempat. Lagu-lagu bernuansa rock klasik cukup berhasil menghangatkan suasana meskipun terlihat masih separuh penonton yang memadati venue. Namun sekitar 7.50 petang, suasana mulai berubah. Barisan belakang yang semula terlihat kosong, kini mulai padat dan tertutup penonton hingga pintu masuk. Tampaknya sebagian penonton lebih memilih menunggu diluar dengan bir-nya atau mengisi perut sebelum mulai masuk.

Meleset 20 menit dari waktu yang ditentukan, pukul 8.20 tepat, terdengar riuh gemuruh penonton di kelas VIP menyambut lima sosok siluet berjalan ke arah panggung, dan makin menjadi-jadi ketika terlihat sosok rambut gimbal dengan topi tinggi magician menjinjing Les Paul Gibson ciri khas-nya. Yes! Slash!!!

Dibuka dengan Call Of The Wild, yang juga merupakan lagu pembuka di album Living The Dream, sontak membuat penonton histeris gempita. Riff dan ketukan drum yang dinamis yang memancing untuk bergoyang, cocok memang sebagai pembuka, disambut kompak koor penonton, sambil berlompatan dan sesekali mengepalkan tangan ke udara mengikuti aba-aba Myles.

Dilanjutkan berturut-turut tanpa basa-basi; dengan Halo dan Standing In The Sun. Tiga lagu yang powerful, sebelum akhirnya Myles menyapa penonton.

Dari awal hingga akhir, menyaksikan penampilan Slash, tak ubahnya seperti menyaksikan penampilan seorang magician atau illusionist yang menghipnotis penonton dengan teknik permainan terbaiknya. Memang dia lah sang cynosure, sang the man on the spotlight.
Kemampuan kecepatan dan kelihaian shredding, strumming, tapping jari jemarinya diatas fretboard Les Paul Gibson-nya tanpa fals, membuat waktu seakan berhenti.

Namun tak seperti halnya solo guitarist lain, Slash menyajikan dengan porsi secukupnya dengan berbagi bersama personil band yang lain. Seperti halnya, kualitas vokal Myles yang jauh diatas rata-rata. Mempesona. Nilai sempurna untuk seorang vokalis rock, puncaknya terbukti jelas ketika membawakan By The Sword. Tanpa mengalami penurunan oktaf dan tanpa terlihat kewalahan sedikitpun.

Begitu pula ketika Todd ‘Dammit’ Kerns memamerkan skill-nya bernyanyi sambil bermain bass, memberi peluang Myles untuk menarik nafas sejenak. Dua lagu bernuansa punk dibawakan dengan keren. We’re All Gonna Die yang aslinya dibawakan Iggy Pop dan Dr. Alibi, yang seakan menjadi sebuah tribute untuk mendiang Lemmy Kilmister malam itu.

Disinilah, seakan terbaca bahwa Slash tampaknya memang ingin menunjukkan kematangan musikalitas dirinya dan melepaskan diri dari nama besar Guns N’ Roses. Dibanding beberapa konser SMKC sebelumnya yang dipenuhi dengan lagu-lagu GNR, malam itu hanya Nightrain yang dibawakan. Cukup mengejutkan memang.

Tak hanya itu. Encore Paradise City yang biasanya mudah ditebak di setiap penghujung konser, kali ini membuat penonton kecele. Setelah Shadow Life dan Anastasia yang dibawakan dengan solo gitar extra panjang untuk encore, mereka berpamitan dan menghilang dibalik panggung. Namun tak ada yang protes, tak ada teriakan permintaan lagu GNR sekalipun terdengar. Salut juga dengan penonton Singapura.

Kalaupun ada rasa yang mengganjal, mungkin karena tak ada nya pertunjukan solo gitar Slash dalam setlist malam itu. Seperti kita semua tahu, Godfather’s Theme merupakan ciri khas Slash dan menjadi yang paling ditunggu-tunggu penonton. Bisa jadi dia merasa bosan dengan repertoire standar-nya setelah menjalani tour reuni bersama GNR selama 2 tahun non-stop. Mungkin itu sebabnya Slash selalu menambah solo-solo panjang di penghujung hampir semua lagu malam itu.

Malam itu SMKC memang terlihat sebagai band besar yang solid dan matang. Bukan hanya band pecahan Alter Bridge dan GNR. Bukan hanya sekedar proyek sampingan musisi untuk mengatasi kebosanan. Bukan pula band pelampiasan ego dari seorang Slash. Apapun itu, tampaknya Slash memang memiliki peluang lebar ke arah kesuksesan. Dengan kemampuan menciptakan dan mengaransir lagu dibanding anggota GNR yang lain. Belum lagi bicara soal kemampuan, dia salah satu gitaris terbaik yang dunia pernah miliki, patutlah kita berharap kepada Slash sebagai the last saviour of Rock N’ Roll!

Terima kasih Bandwagon. Sebagai pagelaran perdana yang langsung membawa nama seorang legenda hidup, hal ini bisa dikatakan mengejutkan dan patut dibanggakan. Tak ada halangan, tak ada keluhan dari awal hingga akhir. Semua berjalan mulus. Semoga bisa berlanjut membawa nama besar lainnya.

Teks: Wisnu
Photo Credits: Bandwagon / Png Eng Ngee

Slash featuring Myles Kennedy and The Conspirators Live In Singapore setlist:
‘Call Of The Wild’
‘Halo’
‘Standing In The Sun’
‘Back From Cali’
‘My Antidote’
‘Serve You Right’
‘Read Between The Lines’ – Live debut
‘Fall To Pieces’ – Velvet Revolver cover
‘We’re All Gonna Die’
‘Dr. Alibi’
‘Too Far Gone’
‘Mind Your Manners’
‘Driving Rain’
‘Wicked Stone’
‘Nightrain’ – Guns N’ Roses cover
‘Great Pretender’
‘By The Sword’
‘Starlight’
‘You’re A Lie’
‘World On Fire’

Encore:
‘Shadow Life’
‘Anastasia’

CD Collector | Music freaks

Comments

Leave a Reply

Related Articles

Concerts Review | February 25, 2019 By

Nickelback Hadirkan Konser Perdana di Singapura Yang Nyaris Sempurna

Concerts Review | December 11, 2018 By

Judas Priest dan Babymetal. Suguhan Sempurna Sang Dewa dan Bayi Metal di Singapura

Concert News Music News | December 6, 2018 By

Slash featuring Myles Kennedy Akan Kembali ke Singapura Awal 2019